Kementerian ESDM Siapkan Regulasi PLTS Atap

Kementerian ESDM Siapkan Regulasi PLTS Atap. Besarnya potensi energi matahari di seluruh wilayah Indonesia yang dilalui garis khatulistiwa mendorong Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk meningkatkan upaya mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero), target penggunaan energi surya di Indonesia mencapai 1047 MegaWattpeak (MWp) sampai dengan tahun 2025. Sampai dengan tahun 2018, pemanfaatan energi surya melalui PLTS sebesar 94,42 MWp.

Direktur Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM M Arifin mengungkapkan, pemanfaatan energi surya di Indonesia masih sangat kecil dari total potensi yang tersedia.

“Pemanfaatan energi surya di Indonesia baru sebesar 0,05% dari potensi yang ada, sehingga masih banyak tantangan yang harus diselesaikan bersama di dalam pengembangan energi surya. Salah satu tantangannya adalah biaya produksi PLTS yang masih tinggi,” ungkap Arifin seperti dikutip dari laman Kementerian ESDM.

Selain itu, Arifin mengungkapkan tantangan lainnya dalam pengembangan pembangkit energi surya di antaranya PLTS untuk sistem offgrid memerlukan teknologi penyimpanan daya yang lebih handal, sedangkan untuk sistem on grid diperlukan backup pembangkit.

Selanjutnya PLTS tidak dapat ditransportasikan serta kurangnya kemampuan sumber daya manusia (SDM) dalam penguasaan teknologi PLTS.

Meski demikian, lebih lanjut Arifin menjelaskan, Kementerian ESDM melalui Ditjen EBTKE telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi tantangan tersebut dengan membuat regulasi terkait pemanfaatan sumber energi terbarukan untuk pembangkit listrik baik komersial maupun nonkomersial.

“Ditjen EBTKE memfasilitasi terbentuknya gerakan nasional sejuta surya atap, pembentukan tim gabungan untuk mengatasi permasalahan pendanaan yang terdiri dari ditjen EBTKE, Kementerian keuangan, Otoritas Jasa Keuangan, PLN, melakukan pertemuan dengan para pelaku bisnis energi surya untuk penyusunan peraturan tentang PLTS atap,” jelas Arifin.

Upaya pemerintah tersebut juga mendapat dukungan dari berbagai pelaku yang bergerak di bidang pengembangan tenaga surya, seperti yang diungkapkan oleh Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) Andika bahwa pihaknya dengan Ditjen EBTKE sedang mencanangkan satu juta atap hingga tahun 2025.

“Kalau dikonversikan itu sekitar 1.000 MW atau 1 GW.  Ini suatu angka yang memang besar tapi bukan suatu hal yang mustahil untuk dicapai karena jumlah pelanggan PLN di Jawa juga cukup besar, dan kalau memang ada peraturan atau regulasi yang memungkinkan akan lebih mudah pelanggan PLN memasang fotovoltaik di atap bangunan masing-masing, sehingga target untuk mencapai target 1.000 MW di tahun 2025 bisa dicapai,” kata Andika.

Andika juga menambahkan bahwa hal ini tentunya tidak lain salah satunya untuk membantu pemerintah dalam mecapai target kebijakan energi nasional.

Dengan berbagai upaya yang telah dilakukan saat ini, pemerintah berharap target bauran energi penggunaan EBT sebesar 23% pada tahun 2025 dapat direalisasikan. (strategi.id / F.Hendra)

Mau Pasang Panel Surya di Atap Rumah? Bagaimana cara mencari penjual terbaik?

Pedoman Kebijakan Energi Nasional, PLTS

Seiring dengan perkembangan teknologi, harga modul surya semakin murah.

Sudahkan Permen ESDM No.12 Tahun 2017 Berpihak Pada Pengembangan EBT ?

Harga panel surya di Indonesia saat ini sudah berada di kisaran US$ 1/Watt peak (Wp)- US$ 1,5/Watt peak (Wp) atau US$ 1.000/kilowatt peak (kWp) sampai dengan US$ 1.500/kilowatt peak (kWp).

Jika dikonversi dalam rupiah, harga panel surya dengan kapasitas 1 kWp sekitar Rp 13,5 juta. Panel surya tersebut nantinya dapat di koneksikan dengan Inverter Pure Sine Wive Grid Tie. Inverter ini nantinya yang akan mengeluarkan output loistrik yang dihasilkan oleh tenaga surya.    biaya instalasi di atap rumah, biayanya sekitar Rp 15-20 juta/kWp. Sementara, untuk kebutuhan listrik rumah tangga, kira-kira perlu 1-2 kWp.

“Pemasangan solar panel di atap biayanya kurang lebih Rp 15-17 juta/kWp. Biaya dipengaruhi oleh lokasi rumah, tingkat kesulitan pemasangan di atap”

Biaya sebesar Rp 15-20 juta/kWp itu sudah termasuk biaya survei, instalasi, dan izin masuk ke jaringan listrik PLN. Di luar itu, ada biaya pemasangan kWh meter untuk ekspor-impor listrik dengan PLN. “Pemasangannya kira-kira memakan waktu 1 minggu,” hal ini tergantung dari kesiapan PLN di daerah yang akan dipasang.

Masyarakat yang berminat memasang panel surya di atap bisa mencari kontak distributor modul surya di www.gdmenergy.com atau www.globalenergy.co.id . Di web tersebut kita bisa langsung menanyakan atau menghubungi marketing mengenai informasi pemasangan solar panel di atap rumah.

Untuk sementara, distributor modul surya yang ada baru melayani pemasangan di wilayah Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi (Jabodetabek). “Tapi kalau ada permintaan diluar jabodetabek bukanlah lah yang tidak memungkinkan tinggal saja dihitung biaya pengiriman barang dan istalaturnya.

Angka tersebut sudah jauh turun, biaya pemasangan panel surya pada tahun 2011 masih sekitar Rp US$ 3/Wp atau Rp 3.000/kWp alias sekitar Rp 40 juta-an.

PLN wajib mengoperasikan pembangkit energi terbarukan

PLN wajib mengoperasikan pembangkit energi terbarukan

PLN wajib mengoperasikan pembangkit energi terbarukan – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) hari ini melakukan sosialisasi mengenai tiga aturan baru yang dikeluarkan pemerintah akhir Januari 2017, Salah satunya Permen ESDM Nomor 12 Tahun 2017 tentang Pemanfaatan Sumber Energi Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik.

Terkait Permen ESDM Nomor 12/2017 mengatur tentang pembelian tenaga listrik dari pembangkit energi terbarukan. Pembangkit listrik yang memanfaatkan sumber energi terbarukan berbasis teknologi tinggi, efisiensi sangat variatif, dan sangat tergantung pada tingkat irradiasi atau cuaca setempat. Seperti energi sinar matahari dan angin, dilakukan dengan sistem pelelangan berdasarkan kuota kapasitas.

Jarman menuturkan, pembelian tenaga listrik dari pembangkit energi terbarukan lainnya dilakukan dengan mekanisme harga patokan atau pemilihan langsung. “Permen ini juga mengatur bahwa PLN wajib mengoperasikan pembangkit energi terbarukan dengan kapasitas sampai 10 MW secara terus menerus,” tutur dia.

PLN wajib mengoperasikan pembangkit energi terbarukan

Permen ESDM Nomor 12 Tahun 2017 tentang Pemanfaatan Sumber Energi Baru Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik. Seperti dilansir situs resmi ESDM, Ketiga Permen ESDM tersebut diterbitkan untuk mendorong usaha penyediaan tenaga listrik yang lebih efisien. “Permen ini diluncurkan demi mewujudkan kegiatan usaha penyediaan tenaga listrik yang efisien, adil dan transparan,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) Ketenagalistrikan, Jarman.

Melalui Permen ini, Pemerintah juga terus mengupayakan pengembangan listrik berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT) di Indonesia. “Adanya aturan ini ingin mengedepankan EBT dengan memperhatikan kewajaran harga dan prinsip usaha yang sehat dan memperbaiki kondisi lingkungan,” ujar Dirjen Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Rida Mulyana.

PLN wajib mengoperasikan pembangkit energi terbarukan

Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa Pemerintah akan mengatur pembelian tenaga listrik melalui mekanisme harga patokan atau pemilihan langsung. Lewat Permen ESDM No 10/2017 tentang pokok-pokok perjanjian jual beli tenaga listrik, aturan ini diterangkan agar terdapat kesetaraan risiko aspek komersial antara PLN dan IPP untuk seluruh jenis pembangkit listrik.

Pola kerja sama yang diatur dalam Permen ini menggunakan prinsip Membangun (Build), Memiliki (Own), Mengoperasikan (Operate), dan Mengalihkan (Transfer) (BOOT). Pola ini memastikan bahwa seluruh aset pembangkit menjadi milik negara setelah masa kontrak 30 tahun.

Dalam Permen tersebut juga mengatur adanya insetif dan pinalti. Jika terjadi percepatan Commercial of Date (COD) karena diminta PLN, maka IPP berhak mendapat insentif. Bentuk insentif ditentukan secara Business to Business. Sedangkan, dalam hal keterlambatan usaha COD, Badan Usaha dikenakan pinalti yang besarnya senilai biaya pembangkitan oleh PT PLN untuk mengganti daya yang dibangkitkan akibat keterlambatan pelaksanaan COD.

PLN wajib membeli energi listrik sesuai kontrak (take or pay). Sementara itu, IPP wajib menyediakan energi sesuai kontrak (deliver or pay). IPP atau PLN wajib membayar pinalti apabila IPP tidak dapat mengirimkan atau menyerap listrik sesuai kontrak. Besarnya pinalti proporsional sesuai komponen investasi. (SN)

Teknologi Sel Surya: Perkembangan Dewasa Ini dan yang Akan Datang

Sebagai negara yang berada di wilayah iklim tropis sebenarnya Indonesia dianugerahi kelebihan di bidang energi terbarukan. Salah satunya adalah energi matahari atau Teknologi Sel Surya. Matahari
yang bersinar nyaris sepanjang tahun sangat berpotensi untuk dijadikan sumber tenaga pada pembangkitan listrik dibanding di daerah sub tropis apalagi daerah beriklim sedang dan dingin.

Selain tenaga matahari, angin dan ombak adalah sumber energi terbarukan lain yang potensial dikembangkan di Indonesia. Garis pantai yang sangat panjang sebagai akibat dari bentuk negara kepulauan menjanjikan luasan yang sangat memadai untuk “menambang” angin dan ombak. Namun dalam artikel kali ini penulis hanya akan membahas energi surya, lebih khusus pada kendala-kendala yang harus dicarikan solusi pada Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Disebut tenaga surya bukan tenaga matahari agar akronimnya tidak rancu dengan PLTM (Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro).

Pada prinsipnya pemanfaatan energi surya sebagai tenaga pembangkit energi listrik bertumpu pada sebuah elemen fotolistrik yang berfungsi sebagai pengubah energi cahaya (bukan panas) ke energi listrik yang biasa disebut sel surya atau solar cell. Karena sebuah sel surya hanya menghasilkan tegangan dan arus listrik yang sangat kecil maka beberapa Teknologi Sel Surya dirangkai sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah panel surya atau solar panel.

Energi listrik yang dihasilkan oleh panel surya berupa listrik arus searah (DC/direct current) tegangan rendah. Energi listrik ini nantinya akan dikumpulkan dan disimpan dalam sebuah akumulator (aki/accu) lewat sebuah alat kontrol pengisian aki atau biasa disebut solar charge controller.
Solar charge controller ini berfungsi sebagai pengendali proses pengisian aki (charging) agar tegangan dan arus yang diisikan ke aki tidak melewati batas kemampuan aki atau overcharge. Pencegahan kondisi overcharge perlu dilakukan agar aki bisa awet secara umur.

Pada solar controller yang lebih maju dilengkapi pula dengan solar tracking yang berfungi untuk selalu mengarahkan permukaan panel surya agar tegak lurus terhadap jatuhnya sinar matahari agar panel surya bekerja optimal.

Dari aki ini energi listrik Teknologi Sel Surya sudah bisa dimanfaatkan baik untuk menyalakan lampu atau motor DC. Untuk menyalakan lampu AC (arus bolak-balik/alternating current) atau peralatan listrik AC lainnya diperlukan sebuah inverter yang berfungsi sebagai pengubah arus searah atau DC menjadi arus bolak-balik atau AC. Untuk menggerakkan beban motorik seperti AC, kipas angin, pompa air atau kulkas diperlukan inverter yang bekerja dengan gelombang sinus murni atau pure sine inverter.

Namun pembangkit listrik tenaga surya ini bukan tanpa kelemahan. Kelemahan yang pertama adalah banyaknya aki yang harus dipasang agar menghasilkan daya yang cukup. Sebuah aki kapasitas 200 Ah (ampere hour) dengan tegangan kerja 12 Vdc hanya menghasilkan daya sebesar 2,4 KWh (kilo watt hour). Maka jika digunakan untuk menggerakkan pompa air rumah tangga yang berdaya 200 Watt hanya akan bertahan selama 12 jam. Itupun dengan asumsi efisiensi inverter 100%, padahal faktanya efisiensinya kebanyakan tidak lebih dari 70%.
Untuk mensuplai daya pada rumah tangga kecil dengan asumsi penggunaan daya rata-rata 300 Watt (bukan daya kontinyu) selama 24 jam maka diperlukan 3 buah aki kapasitas 200 Ah 12Vdc. Namun perhitungan baku pada perencanaan Teknologi Sel Surya ditambahkan faktor keamanan 300% untuk mengamankan daya jika matahari tertutup mendung selama 3 hari berturut-turut, sehingga aki harus disediakan sebanyak 9 buah. Aki menjadi penghambat utama karena kebutuhannya yang besar dan umur aki yang rata-rata hanya sampai 2 atau 3 tahun dengan perawatan yang baik.

Penggantian aki dengan batere lithium memang memperkecil dimensi aki, tetapi tidak mengurangi harga, sehingga batere lithium hanya cocok dipasang pada kendaraan listrik dengan tujuan agar bobot kendaraan tidak terlalu berat. Sebuah langkah maju dibuat oleh peneliti Swedia dari Uppsala University dan peneliti Adam Freeman yang menciptakan batere berbahan ganggang hijau yang diklaim mampu menyimpan daya sampai 200 kali batere lithium dan waktu pengisian sampai full charged hanya 8 menit. Sayang batere ini masih dalam tahap pengembangan dan belum layak diproduksi massal.

Kelemahan kedua adalah kemampuan panel surya menghasilkan listrik. Sel surya mempunyai efisiensi konversi energi sangat kecil, yaitu maksimum hanya 20%. Untuk menghasilkan daya listrik yang besar dibutuhkan banyak panel surya sehingga biaya pengadaan panel surya menjadi mahal. Beruntung umur pemakaian panel surya cukup panjang, bisa lebih dari 20 tahun, sehingga biaya investasinya sebanding dengan usia pemakaian.

Kendala pengadaan panel surya di Indonesia adalah harga yang masih tinggi. Meskipun bea masuknya sudah dibebaskan, namun karena bobot panel surya yang tergolong berat membuat biaya pengiriman menjadi mahal. Jika dirakit di dalam negeri maka kendalanya justru impor sel surya belum dibebaskan. Hasilnya mau impor jadi atau merakit sendiri jatuhnya sama mahal. Padahal jika diproduksi penuh di dalam negeri bahan baku silikon yaitu pasir silika atau pasir kwarsa sangat melimpah. Yang ada saat ini pasir silika diekspor ke China dengan harga murah dan kembali ke Indonesia dalam bentuk panel surya yang mahal. Seandainya ada investor atau BUMN yang tergerak untuk memproduksi silikon di dalam negeri tentu harga panel surya akan lebih murah. Teknologinya sendiri tidak sulit, sehingga memungkinkan kita mengaplikasikannya.

Pada kebanyakan Teknologi Sel Surya yang telah dipasang di negara kita seperti untuk penerangan jalan, sering kita dapati umurnya pendek. Hanya dalam hitungan bulan banyak yang mati. Menurut pengamatan penulis hal ini terjadi karena tidak adanya perawatan terhadap aki dan solar charger controllernya. Bahkan pernah penulis menemukan solar charge controllernya tidak memakai proteksi overcharge. Sudah gitu akinya pakai aki kering merek tidak jelas. Pantas saja aki cepat rusak. Jadi kuncinya memang ada di perawatan, sama seperti aki mobil atau motor anda.

Menurut pengalaman penulis menggunakan PLTS skala rumah tangga disandingkan dengan listrik PLN cukup memadai untuk mengurangi konsumsi listrik PLN. Untuk peralatan berdaya kecil seperti kipas angin, komputer, laptop dan TV LED menggunakan daya dari Teknologi Sel Surya lewat inverter, sedang untuk peralatan yang memakan daya besar seperti AC, kulkas, pompa air dan rice cooker masih harus mengandalkan listrik PLN. Penerangan menggunakan lampu LED arus DC langsung dari aki.

Teknologi Sel Surya

Go green Indonesia.