PLN wajib mengoperasikan pembangkit energi terbarukan

PLN wajib mengoperasikan pembangkit energi terbarukan

PLN wajib mengoperasikan pembangkit energi terbarukan – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) hari ini melakukan sosialisasi mengenai tiga aturan baru yang dikeluarkan pemerintah akhir Januari 2017, Salah satunya Permen ESDM Nomor 12 Tahun 2017 tentang Pemanfaatan Sumber Energi Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik.

Terkait Permen ESDM Nomor 12/2017 mengatur tentang pembelian tenaga listrik dari pembangkit energi terbarukan. Pembangkit listrik yang memanfaatkan sumber energi terbarukan berbasis teknologi tinggi, efisiensi sangat variatif, dan sangat tergantung pada tingkat irradiasi atau cuaca setempat. Seperti energi sinar matahari dan angin, dilakukan dengan sistem pelelangan berdasarkan kuota kapasitas.

Jarman menuturkan, pembelian tenaga listrik dari pembangkit energi terbarukan lainnya dilakukan dengan mekanisme harga patokan atau pemilihan langsung. “Permen ini juga mengatur bahwa PLN wajib mengoperasikan pembangkit energi terbarukan dengan kapasitas sampai 10 MW secara terus menerus,” tutur dia.

PLN wajib mengoperasikan pembangkit energi terbarukan

Permen ESDM Nomor 12 Tahun 2017 tentang Pemanfaatan Sumber Energi Baru Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik. Seperti dilansir situs resmi ESDM, Ketiga Permen ESDM tersebut diterbitkan untuk mendorong usaha penyediaan tenaga listrik yang lebih efisien. “Permen ini diluncurkan demi mewujudkan kegiatan usaha penyediaan tenaga listrik yang efisien, adil dan transparan,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) Ketenagalistrikan, Jarman.

Melalui Permen ini, Pemerintah juga terus mengupayakan pengembangan listrik berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT) di Indonesia. “Adanya aturan ini ingin mengedepankan EBT dengan memperhatikan kewajaran harga dan prinsip usaha yang sehat dan memperbaiki kondisi lingkungan,” ujar Dirjen Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Rida Mulyana.

PLN wajib mengoperasikan pembangkit energi terbarukan

Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa Pemerintah akan mengatur pembelian tenaga listrik melalui mekanisme harga patokan atau pemilihan langsung. Lewat Permen ESDM No 10/2017 tentang pokok-pokok perjanjian jual beli tenaga listrik, aturan ini diterangkan agar terdapat kesetaraan risiko aspek komersial antara PLN dan IPP untuk seluruh jenis pembangkit listrik.

Pola kerja sama yang diatur dalam Permen ini menggunakan prinsip Membangun (Build), Memiliki (Own), Mengoperasikan (Operate), dan Mengalihkan (Transfer) (BOOT). Pola ini memastikan bahwa seluruh aset pembangkit menjadi milik negara setelah masa kontrak 30 tahun.

Dalam Permen tersebut juga mengatur adanya insetif dan pinalti. Jika terjadi percepatan Commercial of Date (COD) karena diminta PLN, maka IPP berhak mendapat insentif. Bentuk insentif ditentukan secara Business to Business. Sedangkan, dalam hal keterlambatan usaha COD, Badan Usaha dikenakan pinalti yang besarnya senilai biaya pembangkitan oleh PT PLN untuk mengganti daya yang dibangkitkan akibat keterlambatan pelaksanaan COD.

PLN wajib membeli energi listrik sesuai kontrak (take or pay). Sementara itu, IPP wajib menyediakan energi sesuai kontrak (deliver or pay). IPP atau PLN wajib membayar pinalti apabila IPP tidak dapat mengirimkan atau menyerap listrik sesuai kontrak. Besarnya pinalti proporsional sesuai komponen investasi. (SN)

Kajian Investasi Pabrikasi Sel Surya di Indonesia

Keekonomian pabrikasi sel surya di Indonesia dilakukan dengan memperhitungkan faktor ketersediaan pasokan wafer silikon sebagai bahan baku utama, kapasitas produksi optimum, potensi pasar, faktor biaya, serta dampak dan manfaat yang dapat dihasilkan dari proyek pembangunan pabrik sel surya.

Contoh skema insentif untuk membangun pasar dalam negeri Kajian Investasi Pabrikasi Sel Surya di Indonesia :

1. Subsidi

Subsidi dapat diberikan langsung kepada produsen sel surya atau pembuat perangkat pendukung Balance of System (BOS) agar harga sel surya beserta BOS dapat terjangkau oleh masyarakat.

Penerapan subsidi akan lebih efektif jika di Indonesia terdapat industri sel surya, baik pembuatan, perakitan, maupun industri BOS.
Untuk rural electrification, pemerintah dapat memberikan subsidi bagi daerah atau desa yang menerima bantuan sel surya dengan hanya membebani masyarakat pedesaan dengan tariff listrik yang jauh di bawah normal (jangan gratis)

2. Feed-in tariff

Feed-in tariff ialah harga yang dibayarkan oleh perusahaan listrik negara ketika membeli listrik dari pembangkit listrik jenis energi terbarukan dengan harga yang ditetapkan oleh pemerintah setempat. Feed-in tariff ini merupakan insentif lain yang bertujuan untuk meningkatkan pemakaian listrik yang bersumber dari energi terbarukan, salah satunya sel surya.

Adanya infrastruktur yang memungkinkan masyarakat pengguna sel surya untuk menjualnya ke perusahaan listrik semisal PLN. Rumah dengan konsep BIPV diberikan koneksi ke jaringan listrik setempat, bukan untuk mengambil listrik dari PLN melainkan untuk mengalirkan (atau “menjual”) listriknya ke PLN.

3. Pemberian kredit

Program kredit sel surya disertai dengan program feed-in tariff, sehingga waktu pelunasan kredit terbantukan dengan adanya pemasukan dari penjualan listrik dari rumah ke perusaaan listrik.
Metode analisa biaya

Cara yang dilakukan untuk menilai kelayakan finansial pembangunan pabrik sel surya dilakukan dengan menggunakan metode “ discount cash flow “ secara konvensional, yaitu dengan penentuan Internal Rate of Return (IRR), Net Present Value (NPV), dan Payback Period.

Pabrikasi Sel Surya di Indonesia

Asumsi dan kondisi dasar perhitungan

Asumsi dan kondisi dasar perhitungan menyangkut faktor kapasitas produksi, biaya investasi awal, kebutuhan bahan pembantu, kebutuhan tenaga listrik, kebutuhan tenaga kerja, kebutuhan perbaikan dan perawatan mesin, harga pokok produksi (HPP), dan proyeksi penjualan.

Hasil perhitungan dan analisa biaya

Dari hasil perhitungan biaya diketahui bahwa untuk membangun pabrik sel surya polikristal silikon dengan kapasitas 25 MWp/tahun membutuhkan investasi sebesar Rp.670 miliar.

Perhitungan Profitabilitas Proyek (dalam rupiah)

Hasil analisis biaya dengan semua asumsi yang berlaku menunjukkan: IRR = 17,18%, NPV = 63,037,225,027, Payback Period = 7 tahun. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa investasi pembangunan pabrik sel surya secara finansial layak dengan mempertimbangkan bahwa berbagai asumsi dan kondisi sewaktu studi ini disusun tidak berubah.

Dengan kapasitas produksi sel surya sebesar 25 MWp/tahun, industri sel surya akan dapat memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri (dengan asumsi penguasaan pasar adalah 50%). Untuk kapasitas produksi ini dibutuhkan pasokan bahan baku (wafer polikristal silikon) minimal 12,016,342 lembar/tahun.

Pembangunan Listrik Perdesaan Dengan Listrik Surya

Panel Surya

Pembangunan Listrik Perdesaan dengan listrik surya cukup menyumbangkan kontribusi untuk meningkatkan rasio elektrifikasi di Indonesia yang pada tahun 2012 secara nasional sebesar 76,56% dan target pada tahun 2013 sekitar 79,3% namun sampai akhir bulan Desember 2013 rasio elektrifikasi sudah melampaui target sebesar 80,51%.

Sudah merupakan kewajiban pemerintah untuk melistriki seluruh wilayah nusantara tanpa terkecuali dan program listrik pedesaan merupakan salah satu usaha pemerintah untuk itu. Rasio elektrifikasi saat ini baru mencapai 80,54%, tahun 2020 pemerintah mentargetkan seluruh wilayah Indonesia akan terlistriki.

Pembangunan Listrik Perdesaan
Sumber gambar: Solo Pos

Program Listrik Pedesaan merupakan penggerak ekonomi pedesaan, sektor ESDM melaksanakan pembangunan listrik pedesaan (lisdes) melalui pembangunan Pembangkit Listrik Mikro Hidro (PLTMH), Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), Gardu Distribusi (GD), Jaringan Tegangan Menengah (JTM) serta Jaringan Tegangan Rendah (JTR). Kementerian ESDM tahun ini mengalokasikan anggaran dari APBN sebesar Rp 2,3 Trilyun Rupiah.

Matahari Untuk PLTS di Indonesia

Matahari Untuk PLTS di Indonesia

Matahari Untuk PLTS di Indonesia – Pemanfaatan energi matahari sebagai sumber energi alternatif untuk mengatasi krisis energi, khususnya minyak bumi, yang terjadi sejak tahun 1970-an mendapat perhatian yang cukup besar dari banyak negara di dunia. Di samping jumlahnya yang tidak terbatas, pemanfaatannya juga tidak menimbulkan polusi yang dapat merusak lingkungan. Cahaya atau sinar matahari dapat dikonversi menjadi listrik dengan menggunakan teknologi sel surya atau fotovoltaik.

Sistem pembangkit listrik tenaga surya (PLTS)

Komponen utama sistem pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan menggunakan teknologi fotovoltaik adalah sel surya. Saat ini terdapat banyak teknologi pembuatan sel surya. Sel surya konvensional yang sudah komersil saat ini menggunakan teknologi wafer silikon kristalin yang proses produksinya cukup kompleks dan mahal.

Secara umum, pembuatan sel surya konvensional diawali dengan proses pemurnian silika untuk menghasilkan silika solar grade (ingot), dilanjutkan dengan pemotongan silika menjadi wafer silika. Selanjutnya wafer silika diproses menjadi sel surya, kemudian sel-sel surya disusun membentuk modul surya. Tahap terakhir adalah mengintegrasi modul surya dengan BOS (Balance of System) menjadi sistem PLTS. BOS adalah komponen pendukung yang digunakan dalam sistem PLTS seperti inverter, batere, sistem kontrol, dan lain-lain.

Matahari Untuk PLTS di Indonesia

Saat ini pengembangan PLTS di Indonesia telah mempunyai basis yang cukup kuat dari aspek kebijakan. Namun pada tahap implementasi, potensi yang ada belum dimanfaatkan secara optimal. Secara teknologi, industri photovoltaic (PV) di Indonesia baru mampu melakukan pada tahap hilir, yaitu memproduksi modul surya dan mengintegrasikannya menjadi PLTS, sementara sel suryanya masih impor.

Padahal sel surya adalah komponen utama dan yang paling mahal dalam sistem PLTS. Harga yang masih tinggi menjadi isu penting dalam perkembangan industri sel surya. Berbagai teknologi pembuatan sel surya terus diteliti dan dikembangkan dalam rangka upaya penurunan harga produksi sel surya agar mampu bersaing dengan sumber energi lain.

Matahari Untuk PLTS di Indonesia

Mengingat ratio elektrifikasi di Indonesia baru mencapai 55-60 % dan hampir seluruh daerah yang belum dialiri listrik adalah daerah pedesaan yang jauh dari pusat pembangkit listrik, maka PLTS yang dapat dibangun hampir di semua lokasi merupakan alternatif sangat tepat untuk dikembangkan.

Dalam kurun waktu tahun 2005-2025, pemerintah telah merencanakan menyediakan 1 juta Solar Home System berkapasitas 50 Wp untuk masyarakat berpendapatan rendah serta 346,5 MWp PLTS hibrid untuk daerah terpencil. Hingga tahun 2025 pemerintah merencanakan akan ada sekitar 0,87 GW kapasitas PLTS terpasang.

Dengan asumsi penguasaan pasar hingga 50%, pasar energi surya di Indonesia sudah cukup besar untuk menyerap keluaran dari suatu pabrik sel surya berkapasitas hingga 25 MWp per tahun. Hal ini tentu merupakan peluang besar bagi industri lokal untuk mengembangkan bisnisnya ke pabrikasi sel surya.

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA (PLTS)

Sejarah pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) tidak terlepas dari penemuan teknologi sel surya berbasis silikon pada tahun 1941. Ketika itu Russell Ohl dari Bell Laboratory mengamati silikon polikristalin akan membentuk buit in junction, karena adanya efek segregasi pengotor yang terdapat pada leburan silikon.

Jika berkas foton mengenai salah satu sisi junction, maka akan terbentuk beda potensial di antara junction, dimana elektron dapat mengalir bebas. Sejak itu penelitian untuk meningkatkan efisiensi konversi energi foton menjadi energi listrik semakin intensif dilakukan. Berbagai tipe sel surya dengan beraneka bahan dan konfigurasi geometri pun berhasil dibuat.

 Prinsip Kerja Sel Surya pada pembangkit listrik tenaga surya

Sel surya adalah dioda semikonduktor yang dapat mengubah cahaya menjadi listrik dan merupakan komponen utama dalam sistem PLTS.

pembangkit listrik tenaga surya

Selain terdiri atas modul-modul sel surya, komponen lain dalam sistem PLTS adalah Balance of System (BOS) berupa inverter dan kontroller. PLTS sering dilengkapi dengan batere sebagai penyimpan daya, sehingga PLTS dapat tetap memasok daya listrik ketika tidak ada cahaya matahari.

Pembangkitan energi listrik pada sel surya terjadi berdasarkan efek fotolistrik, atau disebut juga efek fotovoltaik, yaitu efek yang terjadi akibat foton dengan panjang gelombang tertentu yang jika energinya lebih besar daripada energi ambang semikonduktor, maka akan diserap oleh elektron sehingga elektron berpindah dari pita valensi (N) menuju pita konduksi (P) dan meninggalkan hole pada pita valensi, selanjutnya dua buah muatan, yaitu pasangan elektron-hole, dibangkitkan. Aliran elektron-hole yang terjadi apabila dihubungkan ke beban listrik melalui penghantar akan menghasilkan arus listrik.

Tipe Sel Surya pada pembangkit listrik tenaga surya

Ditinjau dari konsep struktur kristal bahannya, terdapat tiga tipe utama sel surya, yaitu sel surya berbahan dasar monokristalin, poli (multi) kristalin, dan amorf. Ketiga tipe ini telah dikembangkan dengan berbagai macam variasi bahan, misalnya silikon, CIGS, dan CdTe.

Berdasakan kronologis perkembangannya, sel surya dibedakan menjadi sel surya generasi pertama, kedua, dan ketiga. Generasi pertama dicirikan dengan pemanfaatan wafer silikon sebagai struktur dasar sel surya; generasi kedua memanfaatkan teknologi deposisi bahan untuk menghasilkan lapisan tipis (thin film) yang dapat berperilaku sebagai sel surya; dan generasi ketiga dicirikan oleh pemanfaatan teknologi bandgap engineering untuk menghasilkan sel surya berefisiensi tinggi dengan konsep tandem atau multiple stackes.

Kebanyakan sel surya yang diproduksi adalah sel surya generasi pertama, yakni sekitar 90% (2008). Di masa depan, generasi kedua akan makin populer, dan kelak akan mendapatkan pangsa pasar yang makin besar. European Photovoltaic Industry Association (EPIA) memperkirakan pangsa pasar thin film akan mencapai 20% pada tahun 2010. Sel surya generasi ketiga hingga saat ini masih dalam tahap riset dan pengembangan, belum mampu bersaing dalam skala komersial.

Biaya pemasangan panel surya sebagai pembangkit listrik kian terjangkau

Peluang Investasi Listrik Tenaga Surya US$ 57,5 M

Biaya pemasangan panel surya sebagai pembangkit listrik kian terjangkau – Tren gaya hidup ramah lingkungan kini tidak hanya di adaptasi oleh para pemerhati lingkungan. Masyarakat umum kini mulai terbuka untuk meminimalisir dampak dari pemanasan global.

Hal ini mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di dalam rumah. Salah satu yang menarik untuk disorot adalah pemasangan panel surya untuk tenaga listrik menggantikan tenaga batu bara (PLN).

Sebagai negara tropis yang kaya akan cahaya matahari, Indonesia mestinya bisa memanfaatkan energi alam yang satu ini. Anda memang perlu hitung-hitungan yang rinci apakah tenaga surya panel ini bisa lebih irit dibanding menggunakan listrik PLN.

Biaya pemasangan panel surya sebagai pembangkit listrik kian terjangkau

Biaya pemasangan panel surya sebagai pembangkit listrik kian terjangkau

Namun melihat biaya pengembangan energi sinar matahari yang lebih murah dan manfaat investasi energi di masa depan, mengapa tidak mulai mencobanya?

Saat ini, pemasangan surya panel terbilang irit karena tidak membutuhkan lahan yang terlalu luas untuk memproduksi listrik. Umumnya, satu rumah dapat menyerap asupan energi panas matahari dengan panel surya berukutan kurang dari 10 meter persegi.

Panel tersebut diinstal pada atap rumah yang kemudian disimpan dalam aki. Nantinya tenaga yang tersimpan di aki ini akan digunakan untuk menyalakan alat elektronik seperti lampu dan lain sebagainya. Saat ini juga ada solar cell roof top berukuran 1 meter persegi yang dapat menghasilkan listrik sekitar 100 Watt setiap hari‎. Harganya dibanderol mulai dari Rp 2 juta.

Seiring perkembangan teknologi, biaya pemasangan panel surya sebagai pembangkit listrik kian terjangkau. Beberapa perusahaan penyedia panel surya bahkan ada yang menawarkan promo biaya pemasangan panel surya secara gratis, seperti yang disediakan Global Energy.

Tidak ada lokasi khusus untuk syarat pemasangan panel surya. Yang penting atap rumah tidak tertutup oleh pohon dan cukup gedung tinggi. Karena itu akan berpengaruh kepada penyerapan cahaya matahari.

Diharapkan, panel surya bisa menjadi solusi hemat energi bagi rumah-rumah di Indonesia, termasuk rumah murah, agar pengeluaran penghuninya untuk energi listrik bisa semakin ditekan.

Petunjuk Operasional Pelaksanaan DAK Fisik Penugasan Bidang Energi Skala Kecil Tahun 2017

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral telah menetapkan Peraturan Menteri Nomor 3 Tahun 2017 tentang Petunjuk Operasional Pelaksanaan Dana Alokasi Khusus Fisik Penugasan Bidang Energi Skala Kecil Tahun 2017.

Dana Alokasi Khusus Bidang Energi Skala Kecil adalah dana yang bersumber dari pendapatan anggaran pendapatan dan belanja negara yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan pembangunan energi terbarukan yang merupakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional.

Pada tahun 2017 terdapat 24 Provinsi mendapatkan alokasi DAK dengan total Rp. 502.301.000.000 yaitu:

  1. Provinsi Aceh
  2. Provinsi Sumatera Barat
  3. Provinsi Riau
  4. Provinsi Jambi
  5. Provinsi Lampung
  6. Provinsi Jawa Tengah
  7. Provinsi D.I. Yogyakarta
  8. Provinsi Kalimantan Barat
  9. Provinsi Kalimantan Tengah
  10. Provinsi Kalimantan Selatan
  11. Provinsi Kalimantan Timur
  12. Provinsi Sulawesi Tengah
  13. Provinsi Sulawesi Selatan
  14. Provinsi Sulawesi Tenggara
  15. Provinsi Bali
  16. Provinsi Nusa Tenggara Barat
  17. Provinsi Nusa Tenggara Timur
  18. Provinsi Papua
  19. Provinsi Maluku Utara
  20. Provinsi Bangka Belitung
  21. Provinsi Gorontalo
  22. Provinsi Kepulauan Riau
  23. Provinsi Sulawesi Barat
  24. Provinsi Kalimantan Utara

Membangun Industri Solar Panel di Indonesia

Jakarta – Perkembanggan teknologi dan kebutuhan tenaga surya sebagai sumber energi alternatif di Indonesia sudah mencapai pada tahap industrialis. Kebutuhan yang meningkat akan panel surya serta implementasi dari rencana kerja pemerintah Indonesia akan kebutuhan 35.000 MW energi. Untuk memenuhi kebutuhan energi nasional di tahun 2025, menumbuhkan banyak sekali para investor untuk berinvestasi membangun industri solar panel.

Industri Solar Panel terbagi dalam beberapa sektor industri antara lain :

Peleburan dan pembuatan wafer silicon

Kalau negara kita mengklaim memiliki kekayaan alam pasir silika yang dapat diolah menjadi silikon. Maka ini perlu dibuktikan dengan memproduksi sendiri silikon yang diperlukan.

Negara kita cukup mampu dalam mengolah bijih-bijih logam dan mustinya mampu pula mengolah pasir silika menjadi bijih silikon.

Namun, jika kemampuan finansial maupun teknik bangsa kita masih kalah jauh. Untuk pembuatan wafer silikon monokristal untuk semikonduktor,  dengan negara yang sudah maju. Maka cukuplah membidik pangsa pasar wafer silikon polikristal untuk sel surya yang level pembuatannya relatif lebih mudah dilakukan.

Import mesin mesin pembuatan solar panel

Kebutuhan akan industri solar panel di Indonesia yang semakin meningkat seiring akan kebutuhan panel surya membuka peluang usaha importir mesin mesin industri buat kebutuhan solar panel dari mesin cetak (laminating), mesin framing, mesin cetak aluminium, mesin solar cell ,mesin kabel dan soket ,dan kebutuhan mesin lainnya.

Kebijakan akan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk sektor industri yang menyangkut negara membuat impor -impor mesin semakin meningkat dengan memaksimalkan lokal konten untuk pemenuhan hasil produk.

Industri Perakitan

Kesulitan pembuatan solar cell dengan investasi yang besar membuat para investor beralih dengan pembuatan industri menengah yaitu merubah sel surya menjadi solar panel. Hal ini dirasa sangat mudah oleh para industrialis dengan investasi yang tidak terlalu mahal.

Karena pada dasarnya industri ini hanyalah menggabungkan komponen komponen yang sudah jadi menjadi barang jadi solar panel. Kegiatan ini tidaklah memerlukan industri peleburan, pembuatan wafer, pembuatan cell, pembuatan kabel tetapi hanya melakukan perakitan atau assembly.

Membangun Industri Solar Panel di Indonesia

Pembuatan komponen pelengkap sel surya

Komponen pelengkap sel surya menjadi energi listrik sangatlah beragam karena sel surya tanpa pelengkap komponen komponen lain maka tidaklah jalan. Maka peluang peluang industri yang tumbuh maupun yang sudah ada bias sinergi dalam memenuhi kebutuhan yang ada.

Industri penyangga solar panel, industri kabel ,industri inverter controller, industri baterai, industri lampu LED dan industri elektronik dan kebutuhan listrik lainnya menjadi tumbuh berkembang bersama.

Peran serta distributor yang menjual solar panel sistem set sangat lah dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan kontraktor maupun masyarakat yang awam akan hal ini.

Peletakan batu pertama pembangunan smart grid system

Pedoman Kebijakan Energi Nasional, PLTS

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral melalui Ditjen Litbang ESDM, meletakkan batu pertama pembangunan smart grid system, solar on grid (energi matahari) di kantor Gubernur Bali.

Untuk merealisasikan proyek yang dianggap ramah lingkungan ini, anggaran yang dihabiskan mencapai Rp 15 miliar.

Sekretaris Balitbang Kementerian ESDM, Wawan Supriatna mengatakan, Bali menjadi centre of excellent (pusat energi) untuk energi terbarukan.Sistem solar on grid ini merupakan yang pertama dipasang di Provinsi Bali dibandingkan Provinsi lainnya di Indonesia.

“Dengan kebijakan yang sudah ditentukan kementerian sebagai Bali Energi Bersih kita mulai susun penggunaan smart grid sistem di kantor Gubernur Bali ini,” jelasnya selepas peletakan batu pertama di halaman lapangan tenis Kantor Gubernur Bali, Jumat (16/9/2016).

Sebetulnya pihaknya mengajukan anggaran Rp 35 miliar untuk bisa memenuhi seluruh kebutuhan listrik di Kantor Gubernur Bali.

Tetapi karena ada pemotongan anggaran di pemerintah pusat, maka terkena dampaknya ke solar on grid di Bali yang dianggarkan sebesar Rp 17 miliar.
“Itu awalnya anggarannya Rp 35 miliar tetapi setelah pemotongan anggaran menjadi Rp 17 miliar, setelah tender biaya untuk smart grid system Rp 15 miliar untuk di sini (kantor Gubernur Bali), saja,” jelasnya.

Nantinya akan dipasang 24 tiang pancang yang akan berisikan 624 grid solar cell di lahan seluas 1.400 meter2 halaman tenis Pemprov Bali.

Adapun tinggi tiang pancang itu 15 meter dengan grid (paneL surya persegi) berukuran 2,5 meter x 1,5 meter.

meletakkan batu pertama pembangunan smart grid system

Ia mengatakan bahwa dari energi yang diserap solar cell dari matahari ini memiliki batterai cadangan yang mampu mengalirkan energi listrik selama 25 sampai 30 menit.

“Nanti tempatnya mirip tenda, tiang-tiangnya di pinggir, grid-nya menutupi lapangan. Untuk perawatannya hanya dibersihkan dan disiram sebulan sekali memakai air. Nanti disemprot saja, jadi nanti kita buatkan instalasi untuk menyiram panel suryanya, tinggal Pemprov Bali menyediakan air saja,” jelasnya.

Pembagunan solar on grid ini ( meletakkan batu pertama pembangunan smart grid system) akan terselesikan di bulan Desember 2016. Panel smart solar on grid ini akan diletakkan di sebelah ruangan Gubernur Bali, Made Mangku Pastika.

Dan gedung Penelitian dan Pengembangan Kementerian ESDM ini akan bertempat di sebelah rumah jabatan Gubernur Bali, di Jalan M Yamin, Denpasar.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika menyambut baik pembangunan solar on grid ini. Hal ini karena merupakan visi dan misi Bali Mandara menjadi Bali yang clean and green province.

“Ini kan gayung bersambut, dari dahulu kita ingin membuat (energi terbarukan) dari Bali Mandara Jilid I (tahun 2008) pun kita sudah memiliki visi Bali Green Province. Terdiri dari green culture, green economy, dan green regulation.

Sekarang green economy, energi-nya harus energi baru terbarukan. Supaya kita tidak lagi memakai Disel itu, apalagi energi lain yang lebih kotor misalnya batu bara,” jelasnya.
Ia berencana membuat perda yang mengharuskan perusahaan, kantor pemerintahan, untuk menggunakan energi terbarukan.
Ini sebagai upaya membangun Bali clean dan green Province.

“Untuk Perda di negara-negara lain seperti Jerman di Eropa itu kan miskin sinar surya, tidak seperti kita. Di sana ada peraturan pemerintah bahwa pabrik & perusahaan, atau kantor pemerintah, harus menggunakan sekurang-kurangnya 8% energi terbarukan dari seluruh keperluan mereka. Untuk rumah pribadi gak diharuskan, jadi kalau kita bisa begitu alangkah bagusnya. Ini sekarang sedang dikaji sama Pak Sekda dan Kadis PU,” jelas mantan Kapolda Bali ini.

meletakkan batu pertama pembangunan smart grid system

Teknologi Sel Surya: Perkembangan Dewasa Ini dan yang Akan Datang

Sebagai negara yang berada di wilayah iklim tropis sebenarnya Indonesia dianugerahi kelebihan di bidang energi terbarukan. Salah satunya adalah energi matahari atau Teknologi Sel Surya. Matahari
yang bersinar nyaris sepanjang tahun sangat berpotensi untuk dijadikan sumber tenaga pada pembangkitan listrik dibanding di daerah sub tropis apalagi daerah beriklim sedang dan dingin.

Selain tenaga matahari, angin dan ombak adalah sumber energi terbarukan lain yang potensial dikembangkan di Indonesia. Garis pantai yang sangat panjang sebagai akibat dari bentuk negara kepulauan menjanjikan luasan yang sangat memadai untuk “menambang” angin dan ombak. Namun dalam artikel kali ini penulis hanya akan membahas energi surya, lebih khusus pada kendala-kendala yang harus dicarikan solusi pada Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Disebut tenaga surya bukan tenaga matahari agar akronimnya tidak rancu dengan PLTM (Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro).

Pada prinsipnya pemanfaatan energi surya sebagai tenaga pembangkit energi listrik bertumpu pada sebuah elemen fotolistrik yang berfungsi sebagai pengubah energi cahaya (bukan panas) ke energi listrik yang biasa disebut sel surya atau solar cell. Karena sebuah sel surya hanya menghasilkan tegangan dan arus listrik yang sangat kecil maka beberapa Teknologi Sel Surya dirangkai sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah panel surya atau solar panel.

Energi listrik yang dihasilkan oleh panel surya berupa listrik arus searah (DC/direct current) tegangan rendah. Energi listrik ini nantinya akan dikumpulkan dan disimpan dalam sebuah akumulator (aki/accu) lewat sebuah alat kontrol pengisian aki atau biasa disebut solar charge controller.
Solar charge controller ini berfungsi sebagai pengendali proses pengisian aki (charging) agar tegangan dan arus yang diisikan ke aki tidak melewati batas kemampuan aki atau overcharge. Pencegahan kondisi overcharge perlu dilakukan agar aki bisa awet secara umur.

Pada solar controller yang lebih maju dilengkapi pula dengan solar tracking yang berfungi untuk selalu mengarahkan permukaan panel surya agar tegak lurus terhadap jatuhnya sinar matahari agar panel surya bekerja optimal.

Dari aki ini energi listrik Teknologi Sel Surya sudah bisa dimanfaatkan baik untuk menyalakan lampu atau motor DC. Untuk menyalakan lampu AC (arus bolak-balik/alternating current) atau peralatan listrik AC lainnya diperlukan sebuah inverter yang berfungsi sebagai pengubah arus searah atau DC menjadi arus bolak-balik atau AC. Untuk menggerakkan beban motorik seperti AC, kipas angin, pompa air atau kulkas diperlukan inverter yang bekerja dengan gelombang sinus murni atau pure sine inverter.

Namun pembangkit listrik tenaga surya ini bukan tanpa kelemahan. Kelemahan yang pertama adalah banyaknya aki yang harus dipasang agar menghasilkan daya yang cukup. Sebuah aki kapasitas 200 Ah (ampere hour) dengan tegangan kerja 12 Vdc hanya menghasilkan daya sebesar 2,4 KWh (kilo watt hour). Maka jika digunakan untuk menggerakkan pompa air rumah tangga yang berdaya 200 Watt hanya akan bertahan selama 12 jam. Itupun dengan asumsi efisiensi inverter 100%, padahal faktanya efisiensinya kebanyakan tidak lebih dari 70%.
Untuk mensuplai daya pada rumah tangga kecil dengan asumsi penggunaan daya rata-rata 300 Watt (bukan daya kontinyu) selama 24 jam maka diperlukan 3 buah aki kapasitas 200 Ah 12Vdc. Namun perhitungan baku pada perencanaan Teknologi Sel Surya ditambahkan faktor keamanan 300% untuk mengamankan daya jika matahari tertutup mendung selama 3 hari berturut-turut, sehingga aki harus disediakan sebanyak 9 buah. Aki menjadi penghambat utama karena kebutuhannya yang besar dan umur aki yang rata-rata hanya sampai 2 atau 3 tahun dengan perawatan yang baik.

Penggantian aki dengan batere lithium memang memperkecil dimensi aki, tetapi tidak mengurangi harga, sehingga batere lithium hanya cocok dipasang pada kendaraan listrik dengan tujuan agar bobot kendaraan tidak terlalu berat. Sebuah langkah maju dibuat oleh peneliti Swedia dari Uppsala University dan peneliti Adam Freeman yang menciptakan batere berbahan ganggang hijau yang diklaim mampu menyimpan daya sampai 200 kali batere lithium dan waktu pengisian sampai full charged hanya 8 menit. Sayang batere ini masih dalam tahap pengembangan dan belum layak diproduksi massal.

Kelemahan kedua adalah kemampuan panel surya menghasilkan listrik. Sel surya mempunyai efisiensi konversi energi sangat kecil, yaitu maksimum hanya 20%. Untuk menghasilkan daya listrik yang besar dibutuhkan banyak panel surya sehingga biaya pengadaan panel surya menjadi mahal. Beruntung umur pemakaian panel surya cukup panjang, bisa lebih dari 20 tahun, sehingga biaya investasinya sebanding dengan usia pemakaian.

Kendala pengadaan panel surya di Indonesia adalah harga yang masih tinggi. Meskipun bea masuknya sudah dibebaskan, namun karena bobot panel surya yang tergolong berat membuat biaya pengiriman menjadi mahal. Jika dirakit di dalam negeri maka kendalanya justru impor sel surya belum dibebaskan. Hasilnya mau impor jadi atau merakit sendiri jatuhnya sama mahal. Padahal jika diproduksi penuh di dalam negeri bahan baku silikon yaitu pasir silika atau pasir kwarsa sangat melimpah. Yang ada saat ini pasir silika diekspor ke China dengan harga murah dan kembali ke Indonesia dalam bentuk panel surya yang mahal. Seandainya ada investor atau BUMN yang tergerak untuk memproduksi silikon di dalam negeri tentu harga panel surya akan lebih murah. Teknologinya sendiri tidak sulit, sehingga memungkinkan kita mengaplikasikannya.

Pada kebanyakan Teknologi Sel Surya yang telah dipasang di negara kita seperti untuk penerangan jalan, sering kita dapati umurnya pendek. Hanya dalam hitungan bulan banyak yang mati. Menurut pengamatan penulis hal ini terjadi karena tidak adanya perawatan terhadap aki dan solar charger controllernya. Bahkan pernah penulis menemukan solar charge controllernya tidak memakai proteksi overcharge. Sudah gitu akinya pakai aki kering merek tidak jelas. Pantas saja aki cepat rusak. Jadi kuncinya memang ada di perawatan, sama seperti aki mobil atau motor anda.

Menurut pengalaman penulis menggunakan PLTS skala rumah tangga disandingkan dengan listrik PLN cukup memadai untuk mengurangi konsumsi listrik PLN. Untuk peralatan berdaya kecil seperti kipas angin, komputer, laptop dan TV LED menggunakan daya dari Teknologi Sel Surya lewat inverter, sedang untuk peralatan yang memakan daya besar seperti AC, kulkas, pompa air dan rice cooker masih harus mengandalkan listrik PLN. Penerangan menggunakan lampu LED arus DC langsung dari aki.

Teknologi Sel Surya

Go green Indonesia.