Kejar Rasio Elektrifikasi, Menteri ESDM Andalkan Listrik Tenaga Surya

Kejar Rasio Elektrifikasi, Menteri ESDM Andalkan Listrik Tenaga Surya – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menargetkan pembangunan sistem listrik tenaga surya (independent home solar system).

Pembangkit Listri Tenaga Surya
                                              foto : Jawapost.com

Hal tersebut dilakukan dalam rangka salah satu yang menjadi andalannya untuk mempercepat realisasi target rasio elektrifikasi nasional sebesar 99% pada tahun 2019 mendatang. Dia mengatakan,saat ini rasio elektrifikasi nasional baru sekitar 92,8%. Masih ada sekitar 2.519 desa yang belum memperoleh listrik.

“Saya bilang dengan teman-teman di PLN, ini harus ditingkatkan hampir mencapai 99%, juga dibantu dengan APBN. Memang ada yang tanya ke saya, kalau renewable energy gimana. Saya sepakat kita harus meningkatkan renewable energy,” katanya di Hotel JW Marriott, Jakarta, Selasa (26/9/2017).

Saat ini, Jonan menyebut dari 2.519 desa, tersebut saat ini secara perlahan  telah dipasang solar sistem / independent home solar system yang dibangun menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Setidaknya, listrik tenaga surya tersebut bisa menghidupkan empat lampu dan mengisi baterai ponsel.

Meski tidak menikmati listriknya secara optimal, setidaknya keberadaan independen solar sistem mampu memberi daya kepada 4 lampu dan daya untuk baterai telepon genggam.

“Jadi, kira-kira ada 2.519 desa masih belumdialiri listrik. Sekarang sudah mulai bisa dipasang satu-persatu menggunakan independent home solar system. Ini menggunakan APBN, jadi enggak bayar. Ini untuk empat lampu dan bisa untuk colokan HP.

Selain itu, mantan Menteri Perhubungan ini juga menugaskan PT PLN (Persero) untuk melengkapinya dengan membangun jaringan listrik tegangan rendah. “Misalnya di Pulau Rupat yang berbatasan dengan Malaysia, dari 5 dusun yang enggak ada listriknya 3,5 dusun. Nanti akan dilengkapi. Insya Allah 2019 elektrifikasinya mencapai 99%,” ujar Jonan.

Sumber : dari berbagai sumber

Apa yang dilakukan Pemkot Magelang, Kini Mengharukan

Pemkot Magelang (kemeja bewarna hijau) Mendapatkan Juara II
Pemkot Magelang (kemeja bewarna hijau) Mendapatkan Juara II

Apa yang dilakukan Pemkot Magelang, Kini Mengharukan –  Presatasi membanggakan kembali diraih oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Magelang di bidang hemat energi dan air pasalnya Pemerintah Kota Magelang meraih juara II dalam bidang hemat energi dan air .

Pemerintah Kota Magelang mengikuti perlombaan Hemat Energi dan Air yang di adakan di Provinsi Jawa Tengah, dari lomba tersebut Pemerintah Kota Magelang meraih Juara II Lomba Hemat Energi dan Air tingkat Provinsi Jawa Tengah,

Penghargaan tersebut diserahkan oleh Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah, Teguh Dwi Paryono kepada pihak Pemerintah Kota Magelang yang diwakili Kepala Bagian Perekonomian Sekda Kota Magelang, Bambang Nuryanta, pada peringatan Hari Jadi Provinsi Jateng di Semarang, Selasa (15/8//2017).

Atas prestasi tersebut, Pemkot Magelang berhak mendapatkan dengan total hadiah insentif pembinaan dari Gubernur Jateng Rp7,5 juta, sebuah tropi, dan piagam penghargaan. Nuryanta mengatakan penghargaan untuk kategori Pemerintah Kota itu karena komitmen pemkot melakukan hemat energi dan air.

“Kita juga mensosialisasikan penghematan listrik dan air serta energi terbarukan kepada OPD. Hal ini untuk menyamakan persepsi, bahwa hemat energi dan air penting dilakukan. Jadi bukan hanya karena lomba saja, melainkan sudah seharusnya menjadi kebutuhan kita bersama,” katanya.

Kategori penilaian, meliputi penggunaan air, listrik, dan adminitrasi, serta komitmen pemerintah mengampanyekan ajakan hemat energi, baik secara langsung maupun tidak langsung, di lingkungan pemkot setempat. “Penilaian dilakukan pada 3 komponen, yaitu komponen kebijakan, komponen aktivitas, serta komponen hasil,” ujarnya.

Ia mengakui ada beberapa hal yang masih perlu ditingkatkan lagi mengenai efektifitas hemat energi dan air, yakni belum semua lampu penerangan di lingkungan Kantor Seketaris daerah Kota Magelang menggunakan LED (lampu hemat energi).

Ke depan, pihaknya akan membuat strategi hemat energi agar lebih efektif, termasuk mengadakan lampu-lampu jenis hemat energi. “Terkait penghematan air, kami sudah memasang stiker imbauan agar pegawai menggunakan air seperlunya. Selain itu kami juga akan menambah jumlah sumur resapan di sekitar kantor sekda,” kata Bambang.

Pedoman Kebijakan Energi Nasional

Pedoman ke arah pengelolaan energi nasional hingga tahun 2050 dalam rangka mewujudkan kemandirian energi dan ketahanan energi dengan tujuan mendukung pembangunan nasional berkelanjutan telah digariskan oleh pemerintah melalui Peraturan Pemerintah No. 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional.

Kemandirian Energi sebagaimana dimaksud oleh PP No.79 Tahun 2014 itu adalah terjaminnya ketersediaan energi dengan memanfaatkan semaksimal mungkin potensi dari sumber dalam negeri. Sedangkan ketahanan Energi diartikan sebagai suatu kondisi terjaminnya ketersediaan energi dan akses masyarakat terhadap energi pada harga yang terjangkau dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan perlindungan terhadap lingkungan hidup.

Untuk pencapaian ke arah tujuan tersebut kemandirian energi dan ketahanan energi tersebut, PP No.79 Tahun 2014 mendorong beroperasinya sebuah paradigma berpikir bahwa sumber energi bukanlah sekedar komoditas ekspor, melainkan sebagai sesuatu yang amat vital, yakni modal pembangunan nasional. Kemudian, kemandirian dalam hal pengelolaan energi pun harus benar-benar terwujud, sambil terus memastikan ketersediaan energi dan terpenuhinya kebutuhan sumber energi di dalam negeri.

Selain itu, PP No.79 Tahun 2014 itu pun mendorong sumber daya energi harus dikelola secara optimal, terpadu, dan berkelanjutan, melalui pemanfaatan energi secara efisien di semua sektor. Harus pula dipastikan keadilan dan pemerataan akses masyarakat terhadap energi tersebut.

Sambil terus-menerus dikembangan kemampuan teknologi, industri energi, dan jasa energi dalam negeri agar mandiri, dan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di bidang energi dan terciptanya lapangan kerja. Dan yang juga paling penting dari seluruh upaya itu adalah terjaganya kelestarian fungsi lingkungan hidup.

Pedoman Kebijakan Energi Nasional, PLTS
Pedoman Kebijakan Energi Nasional

Bagaimanapun target-target penyediaan dan pemanfaatan energi, baik itu energi primer maupun energi final, hingga tahun 2050 nanti, harus benar-benar digenjot semaksimal mungkin ke arah pencapaiannya. Sebagaimana diketahui, target-target itu sebagaimana tertuang dalam PP No 79 Tahun 2014 meliputi:

– Pada tahun 2025 terpenuhi penyediaan energi primer sebesar sekitar 400 MTOE (empat ratus million tonnes of oil equivalent), dan pada tahun 2050 sekitar 1.000 MTOE (seribu million tonnes of oil equivalent).

– Pada tahun 2025 tercapainya pemanfaatan energi primer per kapita sekitar 1,4 TOE (satu koma empat tonnes of oil equivalent), dan pada tahun 2050 sekitar 3,2 TOE (tiga koma dua tonnes of oil equivalent).

– Pada tahun 2015 terpenuhinya penyediaan kapasitas pembangkit listrik sekitar 115 GW (seratus lima belas giga watt), dan pada tahun 2050 sekitar 430 GW (empat ratus tiga puluh giga watt); dan

– Pada tahun 2025 tercapainya pemanfaatan listrik per kapita sekitar 2.500 KWh (dua ribu lima ratus kilo watt hours); dan pada tahun 2050 sekitar 7.000 KWh (tujuh ribu kilo watt hours).

Untuk memenuhi pencapaian target-target di atas maka harus ditopang pula oleh pencapaian sasaran kebijakan energi nasional, diantaranya:

  1. Terwujudnya paradigma baru bahwa “sumber energi merupakan modal pembangunan nasional”.
  2. Tercapainya elastisitas energi (perbandingan antara laju pertumbuhan kebutuhan energi terhadap laju pertumbuhan ekonomi) lebih kecil dari satu pada tahun 2025 yang diselaraskan dengan target pertumbuhan ekonomi.
  3. Tercapainya penurunan intensitas energi (jumlah total konsumsi energi per unit produk domestik bruto) final sebesar 1% per tahun sampai dengan tahun 2025.
  4. Tercapainya rasio elektrifikasi (perbandingan jumlah rumah tangga berlistrik dengan jumlah rumah tangga total) sebesar 85% (delapan puluh lima persen) pada tahun 2015 dan mendekati sebesar 100% (seratus persen) pada tahun 2020.
  5. Tercapainya rasio penggunaan gas rumah tangga pada tahun 2015 sebesar 85% (delapan puluh lima persen).
  6. Tercapainya bauran energi primer (energi yang diberikan oleh alam dan belum mengalami proses pengolahan lebih lanjut) yang optimal, dimana:

–    Pada tahun 2025, peran energi baru dan energi terbarukan paling sedikit 23% dan pada tahun 2050 paling sedikit 31% sepanjang keekonomiannya terpenuhi.

–    Pada tahun 2025, peran minyak bumi kurang dari 25% dan pada tahun 2050 menjadi kurang  20%.

–    Pada tahun 2025, peran batubara minimal 30% (tiga puluh persen), dan pada tahun 2050 minimal 25% (dua puluh lima persen).

–    Pada tahun 2025, peran gas bumi minimal 22% dan pada tahun 2050  minimal 24%.

Pedoman Kebijakan Energi Nasional

Lantas apakah tujuan, target-target, dan sasaran-sasaran dari kebijakan energi nasional tersebut akan tercapai?

Tentu saja semua itu berpulang pada komitmen kuat pemerintah untuk melaksanakan dan mewujudkannya. Dan para anggota legislatif serta seluruh rakyat Indonesia untuk mengawasinya dengan seksama! (red-gdm)

 

 

Energi Surya dan Pemanfaatannya dalam Kehidupan

Energi Baru Terbarukan (EBT) yang akan senantiasa ada sepanjang kehidupan manusia, salah satunya adalah energi surya (matahari).  Memanfaatkan berlakunya hukum kodrati kekekalan energi, energi surya dapat dirubah menjadi energi listrik yang kemudian bisa dimanfaatkan sesuai keperluan manusia sebagai pengguna. Baik itu untuk kebutuhan memanaskan, mendinginkan, menggerakkan, menerangi, dan sebagainya.

Pada listrik yang berasal dari cahaya matahari dinamakan photovoltaic (photo berarti cahaya, dan voltaic berarti tegangan). Dengan menggunakan bahan semi konduktor— seperti silikon yang banyak digunakan— yang paling tidak terdiri dua lapisan semi kondukstor. Satu bermuatan positif, dan satunya lagi bermuatan negatif. Tenaga matahari menghasilkan sumber energi melalui cahaya dan panasnya.

off grid

Kuatnya aliran listrik tersebut akan ditentukan oleh seberapa kuat kuat cahaya yang mengenai semi konduktor.

Namun sebenarnya pada sistem photovoltaic tak terlalu butuh cahaya matahari yang terang. Saat cuaca mendung pun masih dapat membangkitkan listrik, dengan energi keluar yang sebanding berat jenis awan.

Kalkulator tenaga matahari yang sudah lama dikenal oleh masyarakat merupakan contoh aplikasi sederhana penggunaan sistim photovoltaic. Selain itu lampu penerangan jalan (PJU) di beberapa ruas tol di Pulau Jawa dan juga penyediaan listrik di daerah-daerah di pelosok nusantara yang belum dialiri aliran pembangkit listrik, juga menggunakan sistim sistim photovoltaic ini.

Selain itu kini telah dikembangkan pula beberapa produk yang menggunakan sistim photovoltaic ini, seperti:

  • Kulkas atau pendingin digunakan untuk kepentingan kemanusiaan di daerah – daerah terpencil yang tidak dialiri listrik sebagai contoh membantu penyediaan vaksin
  • Sebagai atap rumah rumah fungsional penghasil dan penyimpan energi listrik yang menggantikan atap rumah konvensional

 

Panas yang dihasilkan itu dipakai untuk menghasilkan tekanan uap panas yang tinggi untuk menjalankan turbin penghasil listrik.

Produk-produk teknologi panas matahari terus dikembangkan. Pada teknologi pengumpul panas matahari yang diaplikasikan di atas atap rumah, selain mampu membuat ruangan di rumah menjadi hangat pada saat musim dingin, juga mampu menyediakan air panas kebutuhan rumah tangga dan menghangatkan kolam renang. Bisa juga untuk membantu kebutuhan proses pemanasan dalam sebuah industri dan memproses air menjadi tawar.

Selain itu sumber panas matahari dapat digunakan untuk menghasilkan dingin dan untuk mengurangi kelembaban udara dengan cara yang sama seperti kulkas atau air conditioner konvensional. Penggunaan dalam skala massif pendingin tenaga matahari oleh penduduk di dunia akan berlangsung di masa depan, seiring dengan suksesnya produk ini didemontrasikan dan tentunya seiring dengan akan terus efisiennya biaya produksi teknologi ini. (red-gdm)

Satu Jam Cahaya Matahari Mampu Memberikan Energi Selama Satu Tahun

Di dalam sistim tata surya kita, matahari merupakan benda angkasa terbesar, dengan massa sebesar 99,9 % dari keseluruhan massa tata surya. Sebagai salah satu bintang, dari jutaan bintang yang berserak di semesta raya, sejarah matahari adalah sejarah nan superpurba, seiring superioritas  kedigjayaannya sebagai bola raksasa superpanas membara yang menjadi sumber cahaya dan sumber energi benda-benda langit lain, tak terkecuali bumi.

Menurut para pakar, matahari yang berdiameter telah bersinar sejak 4,6 milyar tahun yang lalu. Dan diperkirakan akan terus bersinar hingga 5 milyar tahun ke depan. Planet-planet yang ada dalam tata surya kita telah mengorbit mengelilingi matahari dalam lintasan elips yang konsisten sejak nun teramat sangat jauh di masa-masa di belakang sana.

Sebagai sejenis bintang yang memiliki cahaya sendiri dan merupakan ciptaan sekaligus bukti kemahabesaran Tuhan Yang Maha Kuasa, sesungguhnya matahari dalam waktu sekitar satu jam saja mampu mengirimkan energi yang sangat besar ke seluruh permukaan bumi, yang dari situ sebenarnya sanggup mencukupi kebutuhan energi bagi seluruh umat manusia dalam waktu satu tahun. Ya,  bola api super raksasa berdiameter 1,39 juta kilometer atau 109 kali diameter bumi itu dalam satu jamnya mampu mencukupi kebutuhan umat manusia untuk satu tahun!

Tiap detiknya di dalam inti matahari berlangsung reaksi fusi sebanyak 564 juta ton hidrogen menjadi 560 juta ton helium. Selisih yang terjadi sekitar 4,3 juta ton per detik memberikan energi total sebesar sekitar 3,7 x 1026 W yang dilepas oleh inti matahari ke permukaan dan diteruskan ke ruang angkasa dalam bentuk sinar. Sinar itu terpancar ke perbagai arah termasuk yang menuju ke permukaan bumi.

Satu Jam Cahaya Matahari Mampu Memberikan Energi  Selama Satu Tahun

Tinggal persoalannya, belum semua energi yang dipancarkan cahaya matahari ke permulaan bumi itu kemudian bisa diserap secara maksimal oleh teknologi yang telah dimiliki manusia saat ini. Terutama pada energi sinar matahari yang jatuh di permukaan air laut yang  luasnya mencapai 70 % permukaan bumi. Rangsangan ke arah penyempurnaan teknologi pun harus senantiasa digenjot sehingga bisa lebih memanfaatkan energi matahari secara jauh lebih efisien lagi pada tingkat keekonomiannya.

Sebab ketika bisa lebih banyak rangsangan dan dukungan ke arah optimalisasi sumber daya yang dimiliki oleh negara-negara yang ada, dalam rangka mengembangkan teknologi yang sanggup menyerap sebagian besar energi yang dipancarkan sinar matahari itu, tentu akan dapat dihasilkan cadangan energi yang mampu digunakan setiap saat bagi kepentingan kesejahteraan manusia.

SATU JAM CAHAYA MATAHARI MAMPU MEMBERIKAN ENERGI  SELAMA SATU TAHUN
Sumber Energy yang ada

Berdasarkan Survey of Energy Resources 2014 diperoleh data mengenai jumlah energi matahari yang tersedia dalam satuan energi EJ yang artinya Exa Joule. Exa sama dengan 1.000.000 triliun. Jika kita bandingkan dengan kebutuhan energi dunia saat ini, 425 EJ/year, maka energi matahari sangat lebih dari mencukupi lantaran matahari memancarkan energi sebesar 2.895.000 EJ per tahun. Walaupun kebutuhan energi dunia memang terus saja bertambah setiap waktu, namun jumlah pertambahan kebutuhan itu masih relatif kecil dibandingkan besaran ketersediaan energi matahari.

Satu Jam Cahaya Matahari Mampu Memberikan Energi Selama Satu Tahun

Pada Tabel 1 menunjukkan kepada kita sebuah berlimpahnya energi terbarukan, khususnya energi matahari, yang disediakan Tuhan Yang Maha Pencipta agar bisa lebih dimanfaatkan dan didayagunakan sebesar-besarnya bagi kepentingan seluruh umat manusia.

Apalagi bagi negara seperti Indonesia, yang diuntungkan dari segi geografis, dimana sepanjang tahun matahari bersinar secara penuh. Kondisi ini harus mampu dimanfaatkan sebaik-baiknya, seiring untuk benar-benar terus menciutkan ketergantungan yang tinggi pada energi non terbarukan.

Terkait hal itu, selama ini persoalan yang menonjol pada pemerintah Indonesia bukanlah terletak bisa tidaknya kita menuju ke arah pengutamaan penggunaan energi terbarukan, khususnya matahari. Namun terletak pada political will yang benar-benar konkrit dalam rangka mendorong segenap tahapan strategis ke arah pengarusutamaan penggunaan energi terbarukan, termasuk energi matahari.[] (red-gdm)

 

PLN wajib mengoperasikan pembangkit energi terbarukan

PLN wajib mengoperasikan pembangkit energi terbarukan

PLN wajib mengoperasikan pembangkit energi terbarukan – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) hari ini melakukan sosialisasi mengenai tiga aturan baru yang dikeluarkan pemerintah akhir Januari 2017, Salah satunya Permen ESDM Nomor 12 Tahun 2017 tentang Pemanfaatan Sumber Energi Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik.

Terkait Permen ESDM Nomor 12/2017 mengatur tentang pembelian tenaga listrik dari pembangkit energi terbarukan. Pembangkit listrik yang memanfaatkan sumber energi terbarukan berbasis teknologi tinggi, efisiensi sangat variatif, dan sangat tergantung pada tingkat irradiasi atau cuaca setempat. Seperti energi sinar matahari dan angin, dilakukan dengan sistem pelelangan berdasarkan kuota kapasitas.

Jarman menuturkan, pembelian tenaga listrik dari pembangkit energi terbarukan lainnya dilakukan dengan mekanisme harga patokan atau pemilihan langsung. “Permen ini juga mengatur bahwa PLN wajib mengoperasikan pembangkit energi terbarukan dengan kapasitas sampai 10 MW secara terus menerus,” tutur dia.

PLN wajib mengoperasikan pembangkit energi terbarukan

Permen ESDM Nomor 12 Tahun 2017 tentang Pemanfaatan Sumber Energi Baru Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik. Seperti dilansir situs resmi ESDM, Ketiga Permen ESDM tersebut diterbitkan untuk mendorong usaha penyediaan tenaga listrik yang lebih efisien. “Permen ini diluncurkan demi mewujudkan kegiatan usaha penyediaan tenaga listrik yang efisien, adil dan transparan,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) Ketenagalistrikan, Jarman.

Melalui Permen ini, Pemerintah juga terus mengupayakan pengembangan listrik berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT) di Indonesia. “Adanya aturan ini ingin mengedepankan EBT dengan memperhatikan kewajaran harga dan prinsip usaha yang sehat dan memperbaiki kondisi lingkungan,” ujar Dirjen Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Rida Mulyana.

PLN wajib mengoperasikan pembangkit energi terbarukan

Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa Pemerintah akan mengatur pembelian tenaga listrik melalui mekanisme harga patokan atau pemilihan langsung. Lewat Permen ESDM No 10/2017 tentang pokok-pokok perjanjian jual beli tenaga listrik, aturan ini diterangkan agar terdapat kesetaraan risiko aspek komersial antara PLN dan IPP untuk seluruh jenis pembangkit listrik.

Pola kerja sama yang diatur dalam Permen ini menggunakan prinsip Membangun (Build), Memiliki (Own), Mengoperasikan (Operate), dan Mengalihkan (Transfer) (BOOT). Pola ini memastikan bahwa seluruh aset pembangkit menjadi milik negara setelah masa kontrak 30 tahun.

Dalam Permen tersebut juga mengatur adanya insetif dan pinalti. Jika terjadi percepatan Commercial of Date (COD) karena diminta PLN, maka IPP berhak mendapat insentif. Bentuk insentif ditentukan secara Business to Business. Sedangkan, dalam hal keterlambatan usaha COD, Badan Usaha dikenakan pinalti yang besarnya senilai biaya pembangkitan oleh PT PLN untuk mengganti daya yang dibangkitkan akibat keterlambatan pelaksanaan COD.

PLN wajib membeli energi listrik sesuai kontrak (take or pay). Sementara itu, IPP wajib menyediakan energi sesuai kontrak (deliver or pay). IPP atau PLN wajib membayar pinalti apabila IPP tidak dapat mengirimkan atau menyerap listrik sesuai kontrak. Besarnya pinalti proporsional sesuai komponen investasi. (SN)

Pembangunan Listrik Perdesaan Dengan Listrik Surya

Panel Surya

Pembangunan Listrik Perdesaan dengan listrik surya cukup menyumbangkan kontribusi untuk meningkatkan rasio elektrifikasi di Indonesia yang pada tahun 2012 secara nasional sebesar 76,56% dan target pada tahun 2013 sekitar 79,3% namun sampai akhir bulan Desember 2013 rasio elektrifikasi sudah melampaui target sebesar 80,51%.

Sudah merupakan kewajiban pemerintah untuk melistriki seluruh wilayah nusantara tanpa terkecuali dan program listrik pedesaan merupakan salah satu usaha pemerintah untuk itu. Rasio elektrifikasi saat ini baru mencapai 80,54%, tahun 2020 pemerintah mentargetkan seluruh wilayah Indonesia akan terlistriki.

Pembangunan Listrik Perdesaan
Sumber gambar: Solo Pos

Program Listrik Pedesaan merupakan penggerak ekonomi pedesaan, sektor ESDM melaksanakan pembangunan listrik pedesaan (lisdes) melalui pembangunan Pembangkit Listrik Mikro Hidro (PLTMH), Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), Gardu Distribusi (GD), Jaringan Tegangan Menengah (JTM) serta Jaringan Tegangan Rendah (JTR). Kementerian ESDM tahun ini mengalokasikan anggaran dari APBN sebesar Rp 2,3 Trilyun Rupiah.

Matahari Untuk PLTS di Indonesia

Matahari Untuk PLTS di Indonesia

Matahari Untuk PLTS di Indonesia – Pemanfaatan energi matahari sebagai sumber energi alternatif untuk mengatasi krisis energi, khususnya minyak bumi, yang terjadi sejak tahun 1970-an mendapat perhatian yang cukup besar dari banyak negara di dunia. Di samping jumlahnya yang tidak terbatas, pemanfaatannya juga tidak menimbulkan polusi yang dapat merusak lingkungan. Cahaya atau sinar matahari dapat dikonversi menjadi listrik dengan menggunakan teknologi sel surya atau fotovoltaik.

Sistem pembangkit listrik tenaga surya (PLTS)

Komponen utama sistem pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan menggunakan teknologi fotovoltaik adalah sel surya. Saat ini terdapat banyak teknologi pembuatan sel surya. Sel surya konvensional yang sudah komersil saat ini menggunakan teknologi wafer silikon kristalin yang proses produksinya cukup kompleks dan mahal.

Secara umum, pembuatan sel surya konvensional diawali dengan proses pemurnian silika untuk menghasilkan silika solar grade (ingot), dilanjutkan dengan pemotongan silika menjadi wafer silika. Selanjutnya wafer silika diproses menjadi sel surya, kemudian sel-sel surya disusun membentuk modul surya. Tahap terakhir adalah mengintegrasi modul surya dengan BOS (Balance of System) menjadi sistem PLTS. BOS adalah komponen pendukung yang digunakan dalam sistem PLTS seperti inverter, batere, sistem kontrol, dan lain-lain.

Matahari Untuk PLTS di Indonesia

Saat ini pengembangan PLTS di Indonesia telah mempunyai basis yang cukup kuat dari aspek kebijakan. Namun pada tahap implementasi, potensi yang ada belum dimanfaatkan secara optimal. Secara teknologi, industri photovoltaic (PV) di Indonesia baru mampu melakukan pada tahap hilir, yaitu memproduksi modul surya dan mengintegrasikannya menjadi PLTS, sementara sel suryanya masih impor.

Padahal sel surya adalah komponen utama dan yang paling mahal dalam sistem PLTS. Harga yang masih tinggi menjadi isu penting dalam perkembangan industri sel surya. Berbagai teknologi pembuatan sel surya terus diteliti dan dikembangkan dalam rangka upaya penurunan harga produksi sel surya agar mampu bersaing dengan sumber energi lain.

Matahari Untuk PLTS di Indonesia

Mengingat ratio elektrifikasi di Indonesia baru mencapai 55-60 % dan hampir seluruh daerah yang belum dialiri listrik adalah daerah pedesaan yang jauh dari pusat pembangkit listrik, maka PLTS yang dapat dibangun hampir di semua lokasi merupakan alternatif sangat tepat untuk dikembangkan.

Dalam kurun waktu tahun 2005-2025, pemerintah telah merencanakan menyediakan 1 juta Solar Home System berkapasitas 50 Wp untuk masyarakat berpendapatan rendah serta 346,5 MWp PLTS hibrid untuk daerah terpencil. Hingga tahun 2025 pemerintah merencanakan akan ada sekitar 0,87 GW kapasitas PLTS terpasang.

Dengan asumsi penguasaan pasar hingga 50%, pasar energi surya di Indonesia sudah cukup besar untuk menyerap keluaran dari suatu pabrik sel surya berkapasitas hingga 25 MWp per tahun. Hal ini tentu merupakan peluang besar bagi industri lokal untuk mengembangkan bisnisnya ke pabrikasi sel surya.

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA (PLTS)

Sejarah pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) tidak terlepas dari penemuan teknologi sel surya berbasis silikon pada tahun 1941. Ketika itu Russell Ohl dari Bell Laboratory mengamati silikon polikristalin akan membentuk buit in junction, karena adanya efek segregasi pengotor yang terdapat pada leburan silikon.

Jika berkas foton mengenai salah satu sisi junction, maka akan terbentuk beda potensial di antara junction, dimana elektron dapat mengalir bebas. Sejak itu penelitian untuk meningkatkan efisiensi konversi energi foton menjadi energi listrik semakin intensif dilakukan. Berbagai tipe sel surya dengan beraneka bahan dan konfigurasi geometri pun berhasil dibuat.

 Prinsip Kerja Sel Surya pada pembangkit listrik tenaga surya

Sel surya adalah dioda semikonduktor yang dapat mengubah cahaya menjadi listrik dan merupakan komponen utama dalam sistem PLTS.

pembangkit listrik tenaga surya

Selain terdiri atas modul-modul sel surya, komponen lain dalam sistem PLTS adalah Balance of System (BOS) berupa inverter dan kontroller. PLTS sering dilengkapi dengan batere sebagai penyimpan daya, sehingga PLTS dapat tetap memasok daya listrik ketika tidak ada cahaya matahari.

Pembangkitan energi listrik pada sel surya terjadi berdasarkan efek fotolistrik, atau disebut juga efek fotovoltaik, yaitu efek yang terjadi akibat foton dengan panjang gelombang tertentu yang jika energinya lebih besar daripada energi ambang semikonduktor, maka akan diserap oleh elektron sehingga elektron berpindah dari pita valensi (N) menuju pita konduksi (P) dan meninggalkan hole pada pita valensi, selanjutnya dua buah muatan, yaitu pasangan elektron-hole, dibangkitkan. Aliran elektron-hole yang terjadi apabila dihubungkan ke beban listrik melalui penghantar akan menghasilkan arus listrik.

Tipe Sel Surya pada pembangkit listrik tenaga surya

Ditinjau dari konsep struktur kristal bahannya, terdapat tiga tipe utama sel surya, yaitu sel surya berbahan dasar monokristalin, poli (multi) kristalin, dan amorf. Ketiga tipe ini telah dikembangkan dengan berbagai macam variasi bahan, misalnya silikon, CIGS, dan CdTe.

Berdasakan kronologis perkembangannya, sel surya dibedakan menjadi sel surya generasi pertama, kedua, dan ketiga. Generasi pertama dicirikan dengan pemanfaatan wafer silikon sebagai struktur dasar sel surya; generasi kedua memanfaatkan teknologi deposisi bahan untuk menghasilkan lapisan tipis (thin film) yang dapat berperilaku sebagai sel surya; dan generasi ketiga dicirikan oleh pemanfaatan teknologi bandgap engineering untuk menghasilkan sel surya berefisiensi tinggi dengan konsep tandem atau multiple stackes.

Kebanyakan sel surya yang diproduksi adalah sel surya generasi pertama, yakni sekitar 90% (2008). Di masa depan, generasi kedua akan makin populer, dan kelak akan mendapatkan pangsa pasar yang makin besar. European Photovoltaic Industry Association (EPIA) memperkirakan pangsa pasar thin film akan mencapai 20% pada tahun 2010. Sel surya generasi ketiga hingga saat ini masih dalam tahap riset dan pengembangan, belum mampu bersaing dalam skala komersial.

Peluang Investasi Listrik Tenaga Surya US$ 57,5 M

Peluang Investasi Listrik Tenaga Surya US$ 57,5 M

Pengembangan tenaga surya di Tanah Air mampu menarik peluang investasi hingga US$ 57,5 miliar. Kepastian harga listrik dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) menjadi pemikat utama investor.

Tarif PLTS tercantum dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) No. 19 Tahun 2016 tentang Pembelian Listrik Tenaga Surya Fotovol-taik oleh PT PLN (Persero). Anggota Asosiasi Pabrikan Modul Surya Indonesia (APAMSI) Abdul Rholik mengatakan, pihaknya berkomitmen mendorong energi terbarukan khususnya PLTS yang berbasis pada peningkatan kemampuan industri dalam negeri. Dia pun menyampaikan apresiasi kepada Menteri ESDM Sudirman Said dalam pertemuan sekitar 1 jam yang dimulai pukul 16.00 WIB. “Diperkirakan nilal total peluang investasi yang tercipta sebesar US$ 57,5 miliar,” kata Kholik dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (25/7).

Peluang Investasi Listrik Tenaga Surya US$ 57,5 M

Peluang Investasi Listrik Tenaga Surya US$ 57,5 M
Solar panel set

Kholik menuturkan, tarif baru listrik dari PLTS berkisar antara US$ 14 hingga US$ 25 per Kilo Watt Hour (KWH). Penetapan tarif listrik itu memberikan kepastian usaha pembuatan PLTS di dalam negeri dan menciptakan industri pendukung pembuatan PLTS. Dengan begitu menciptakan Tingkat kandungan Dalam Negeri (TKDN). Saat ini TKDN untuk PLTS sebesar 40%. “Untuk menekan biaya investasi dan akselerasi pengembangan energi baru kami memohon Kementerian Keuangan untuk dapat memberikan fasilitas fiskal kepada pelaku usaha dalam negeri terkait,” ujarnya. Dia mengungkapkan, pihaknya memenuhi standar standar mutu teknis peralatan yang akan digunakan dalam pengembangan PLTS. Namun demiklan masih dibutuhkan dukungan tersedianya infrastruktur pengujian mutu di Indonesia.

APAMSI pun menjalin kerjasama dengan investor, pengembang, maupun pemerintah daerah dalam bebagai sektor seperti membangun pabrik di Indonesia, memanfaatkan atap gedung atau pabrik, memanfaatkan lahan kosong atau marginal untuk dipasang PLTS agar lebih produktif, termasuk bekerjasama investasi dengan para pemilik dana repatriasi dan tax amnesty. Pada kesempatan terpisah, Penasehat Asosiasi Produsen Listrik Swasta Indonesia (APLS1) Heru Dewanto mengungkapkan pembebasan lahan untuk proyek infrastruktur ketenagalistrikan masih menjadi kendala utama. Para pengembang listrik swasta itu pun berjuang untuk membebaskan lahan. “Untuk pembangkit listrik kami harus bebaskan sendiri,” ujarnya. Heru menuturkan pembebasan lahan yang bermasalah tidak hanya terkait pembangkit listrik. Dia mengungkapkan pembangunan transmisi listrik pun kerap molor akibat tertundanya pembebasan lahan. Berdasarkan catatan Investor Daily pembebasan lahan diselesaikan Pemerintah melalui Peraturan Presien No. 4 Tahun 2016 tentang Percepatan Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan.

Sumber: InvestorDaily