PLN wajib mengoperasikan pembangkit energi terbarukan

PLN wajib mengoperasikan pembangkit energi terbarukan

PLN wajib mengoperasikan pembangkit energi terbarukan – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) hari ini melakukan sosialisasi mengenai tiga aturan baru yang dikeluarkan pemerintah akhir Januari 2017, Salah satunya Permen ESDM Nomor 12 Tahun 2017 tentang Pemanfaatan Sumber Energi Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik.

Terkait Permen ESDM Nomor 12/2017 mengatur tentang pembelian tenaga listrik dari pembangkit energi terbarukan. Pembangkit listrik yang memanfaatkan sumber energi terbarukan berbasis teknologi tinggi, efisiensi sangat variatif, dan sangat tergantung pada tingkat irradiasi atau cuaca setempat. Seperti energi sinar matahari dan angin, dilakukan dengan sistem pelelangan berdasarkan kuota kapasitas.

Jarman menuturkan, pembelian tenaga listrik dari pembangkit energi terbarukan lainnya dilakukan dengan mekanisme harga patokan atau pemilihan langsung. “Permen ini juga mengatur bahwa PLN wajib mengoperasikan pembangkit energi terbarukan dengan kapasitas sampai 10 MW secara terus menerus,” tutur dia.

PLN wajib mengoperasikan pembangkit energi terbarukan

Permen ESDM Nomor 12 Tahun 2017 tentang Pemanfaatan Sumber Energi Baru Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik. Seperti dilansir situs resmi ESDM, Ketiga Permen ESDM tersebut diterbitkan untuk mendorong usaha penyediaan tenaga listrik yang lebih efisien. “Permen ini diluncurkan demi mewujudkan kegiatan usaha penyediaan tenaga listrik yang efisien, adil dan transparan,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) Ketenagalistrikan, Jarman.

Melalui Permen ini, Pemerintah juga terus mengupayakan pengembangan listrik berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT) di Indonesia. “Adanya aturan ini ingin mengedepankan EBT dengan memperhatikan kewajaran harga dan prinsip usaha yang sehat dan memperbaiki kondisi lingkungan,” ujar Dirjen Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Rida Mulyana.

PLN wajib mengoperasikan pembangkit energi terbarukan

Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa Pemerintah akan mengatur pembelian tenaga listrik melalui mekanisme harga patokan atau pemilihan langsung. Lewat Permen ESDM No 10/2017 tentang pokok-pokok perjanjian jual beli tenaga listrik, aturan ini diterangkan agar terdapat kesetaraan risiko aspek komersial antara PLN dan IPP untuk seluruh jenis pembangkit listrik.

Pola kerja sama yang diatur dalam Permen ini menggunakan prinsip Membangun (Build), Memiliki (Own), Mengoperasikan (Operate), dan Mengalihkan (Transfer) (BOOT). Pola ini memastikan bahwa seluruh aset pembangkit menjadi milik negara setelah masa kontrak 30 tahun.

Dalam Permen tersebut juga mengatur adanya insetif dan pinalti. Jika terjadi percepatan Commercial of Date (COD) karena diminta PLN, maka IPP berhak mendapat insentif. Bentuk insentif ditentukan secara Business to Business. Sedangkan, dalam hal keterlambatan usaha COD, Badan Usaha dikenakan pinalti yang besarnya senilai biaya pembangkitan oleh PT PLN untuk mengganti daya yang dibangkitkan akibat keterlambatan pelaksanaan COD.

PLN wajib membeli energi listrik sesuai kontrak (take or pay). Sementara itu, IPP wajib menyediakan energi sesuai kontrak (deliver or pay). IPP atau PLN wajib membayar pinalti apabila IPP tidak dapat mengirimkan atau menyerap listrik sesuai kontrak. Besarnya pinalti proporsional sesuai komponen investasi. (SN)

Kajian Investasi Pabrikasi Sel Surya di Indonesia

Keekonomian pabrikasi sel surya di Indonesia dilakukan dengan memperhitungkan faktor ketersediaan pasokan wafer silikon sebagai bahan baku utama, kapasitas produksi optimum, potensi pasar, faktor biaya, serta dampak dan manfaat yang dapat dihasilkan dari proyek pembangunan pabrik sel surya.

Contoh skema insentif untuk membangun pasar dalam negeri Kajian Investasi Pabrikasi Sel Surya di Indonesia :

1. Subsidi

Subsidi dapat diberikan langsung kepada produsen sel surya atau pembuat perangkat pendukung Balance of System (BOS) agar harga sel surya beserta BOS dapat terjangkau oleh masyarakat.

Penerapan subsidi akan lebih efektif jika di Indonesia terdapat industri sel surya, baik pembuatan, perakitan, maupun industri BOS.
Untuk rural electrification, pemerintah dapat memberikan subsidi bagi daerah atau desa yang menerima bantuan sel surya dengan hanya membebani masyarakat pedesaan dengan tariff listrik yang jauh di bawah normal (jangan gratis)

2. Feed-in tariff

Feed-in tariff ialah harga yang dibayarkan oleh perusahaan listrik negara ketika membeli listrik dari pembangkit listrik jenis energi terbarukan dengan harga yang ditetapkan oleh pemerintah setempat. Feed-in tariff ini merupakan insentif lain yang bertujuan untuk meningkatkan pemakaian listrik yang bersumber dari energi terbarukan, salah satunya sel surya.

Adanya infrastruktur yang memungkinkan masyarakat pengguna sel surya untuk menjualnya ke perusahaan listrik semisal PLN. Rumah dengan konsep BIPV diberikan koneksi ke jaringan listrik setempat, bukan untuk mengambil listrik dari PLN melainkan untuk mengalirkan (atau “menjual”) listriknya ke PLN.

3. Pemberian kredit

Program kredit sel surya disertai dengan program feed-in tariff, sehingga waktu pelunasan kredit terbantukan dengan adanya pemasukan dari penjualan listrik dari rumah ke perusaaan listrik.
Metode analisa biaya

Cara yang dilakukan untuk menilai kelayakan finansial pembangunan pabrik sel surya dilakukan dengan menggunakan metode “ discount cash flow “ secara konvensional, yaitu dengan penentuan Internal Rate of Return (IRR), Net Present Value (NPV), dan Payback Period.

Pabrikasi Sel Surya di Indonesia

Asumsi dan kondisi dasar perhitungan

Asumsi dan kondisi dasar perhitungan menyangkut faktor kapasitas produksi, biaya investasi awal, kebutuhan bahan pembantu, kebutuhan tenaga listrik, kebutuhan tenaga kerja, kebutuhan perbaikan dan perawatan mesin, harga pokok produksi (HPP), dan proyeksi penjualan.

Hasil perhitungan dan analisa biaya

Dari hasil perhitungan biaya diketahui bahwa untuk membangun pabrik sel surya polikristal silikon dengan kapasitas 25 MWp/tahun membutuhkan investasi sebesar Rp.670 miliar.

Perhitungan Profitabilitas Proyek (dalam rupiah)

Hasil analisis biaya dengan semua asumsi yang berlaku menunjukkan: IRR = 17,18%, NPV = 63,037,225,027, Payback Period = 7 tahun. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa investasi pembangunan pabrik sel surya secara finansial layak dengan mempertimbangkan bahwa berbagai asumsi dan kondisi sewaktu studi ini disusun tidak berubah.

Dengan kapasitas produksi sel surya sebesar 25 MWp/tahun, industri sel surya akan dapat memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri (dengan asumsi penguasaan pasar adalah 50%). Untuk kapasitas produksi ini dibutuhkan pasokan bahan baku (wafer polikristal silikon) minimal 12,016,342 lembar/tahun.

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA (PLTS)

Sejarah pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) tidak terlepas dari penemuan teknologi sel surya berbasis silikon pada tahun 1941. Ketika itu Russell Ohl dari Bell Laboratory mengamati silikon polikristalin akan membentuk buit in junction, karena adanya efek segregasi pengotor yang terdapat pada leburan silikon.

Jika berkas foton mengenai salah satu sisi junction, maka akan terbentuk beda potensial di antara junction, dimana elektron dapat mengalir bebas. Sejak itu penelitian untuk meningkatkan efisiensi konversi energi foton menjadi energi listrik semakin intensif dilakukan. Berbagai tipe sel surya dengan beraneka bahan dan konfigurasi geometri pun berhasil dibuat.

 Prinsip Kerja Sel Surya pada pembangkit listrik tenaga surya

Sel surya adalah dioda semikonduktor yang dapat mengubah cahaya menjadi listrik dan merupakan komponen utama dalam sistem PLTS.

pembangkit listrik tenaga surya

Selain terdiri atas modul-modul sel surya, komponen lain dalam sistem PLTS adalah Balance of System (BOS) berupa inverter dan kontroller. PLTS sering dilengkapi dengan batere sebagai penyimpan daya, sehingga PLTS dapat tetap memasok daya listrik ketika tidak ada cahaya matahari.

Pembangkitan energi listrik pada sel surya terjadi berdasarkan efek fotolistrik, atau disebut juga efek fotovoltaik, yaitu efek yang terjadi akibat foton dengan panjang gelombang tertentu yang jika energinya lebih besar daripada energi ambang semikonduktor, maka akan diserap oleh elektron sehingga elektron berpindah dari pita valensi (N) menuju pita konduksi (P) dan meninggalkan hole pada pita valensi, selanjutnya dua buah muatan, yaitu pasangan elektron-hole, dibangkitkan. Aliran elektron-hole yang terjadi apabila dihubungkan ke beban listrik melalui penghantar akan menghasilkan arus listrik.

Tipe Sel Surya pada pembangkit listrik tenaga surya

Ditinjau dari konsep struktur kristal bahannya, terdapat tiga tipe utama sel surya, yaitu sel surya berbahan dasar monokristalin, poli (multi) kristalin, dan amorf. Ketiga tipe ini telah dikembangkan dengan berbagai macam variasi bahan, misalnya silikon, CIGS, dan CdTe.

Berdasakan kronologis perkembangannya, sel surya dibedakan menjadi sel surya generasi pertama, kedua, dan ketiga. Generasi pertama dicirikan dengan pemanfaatan wafer silikon sebagai struktur dasar sel surya; generasi kedua memanfaatkan teknologi deposisi bahan untuk menghasilkan lapisan tipis (thin film) yang dapat berperilaku sebagai sel surya; dan generasi ketiga dicirikan oleh pemanfaatan teknologi bandgap engineering untuk menghasilkan sel surya berefisiensi tinggi dengan konsep tandem atau multiple stackes.

Kebanyakan sel surya yang diproduksi adalah sel surya generasi pertama, yakni sekitar 90% (2008). Di masa depan, generasi kedua akan makin populer, dan kelak akan mendapatkan pangsa pasar yang makin besar. European Photovoltaic Industry Association (EPIA) memperkirakan pangsa pasar thin film akan mencapai 20% pada tahun 2010. Sel surya generasi ketiga hingga saat ini masih dalam tahap riset dan pengembangan, belum mampu bersaing dalam skala komersial.

Peluang Investasi Listrik Tenaga Surya US$ 57,5 M

Peluang Investasi Listrik Tenaga Surya US$ 57,5 M

Pengembangan tenaga surya di Tanah Air mampu menarik peluang investasi hingga US$ 57,5 miliar. Kepastian harga listrik dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) menjadi pemikat utama investor.

Tarif PLTS tercantum dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) No. 19 Tahun 2016 tentang Pembelian Listrik Tenaga Surya Fotovol-taik oleh PT PLN (Persero). Anggota Asosiasi Pabrikan Modul Surya Indonesia (APAMSI) Abdul Rholik mengatakan, pihaknya berkomitmen mendorong energi terbarukan khususnya PLTS yang berbasis pada peningkatan kemampuan industri dalam negeri. Dia pun menyampaikan apresiasi kepada Menteri ESDM Sudirman Said dalam pertemuan sekitar 1 jam yang dimulai pukul 16.00 WIB. “Diperkirakan nilal total peluang investasi yang tercipta sebesar US$ 57,5 miliar,” kata Kholik dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (25/7).

Peluang Investasi Listrik Tenaga Surya US$ 57,5 M

Peluang Investasi Listrik Tenaga Surya US$ 57,5 M
Solar panel set

Kholik menuturkan, tarif baru listrik dari PLTS berkisar antara US$ 14 hingga US$ 25 per Kilo Watt Hour (KWH). Penetapan tarif listrik itu memberikan kepastian usaha pembuatan PLTS di dalam negeri dan menciptakan industri pendukung pembuatan PLTS. Dengan begitu menciptakan Tingkat kandungan Dalam Negeri (TKDN). Saat ini TKDN untuk PLTS sebesar 40%. “Untuk menekan biaya investasi dan akselerasi pengembangan energi baru kami memohon Kementerian Keuangan untuk dapat memberikan fasilitas fiskal kepada pelaku usaha dalam negeri terkait,” ujarnya. Dia mengungkapkan, pihaknya memenuhi standar standar mutu teknis peralatan yang akan digunakan dalam pengembangan PLTS. Namun demiklan masih dibutuhkan dukungan tersedianya infrastruktur pengujian mutu di Indonesia.

APAMSI pun menjalin kerjasama dengan investor, pengembang, maupun pemerintah daerah dalam bebagai sektor seperti membangun pabrik di Indonesia, memanfaatkan atap gedung atau pabrik, memanfaatkan lahan kosong atau marginal untuk dipasang PLTS agar lebih produktif, termasuk bekerjasama investasi dengan para pemilik dana repatriasi dan tax amnesty. Pada kesempatan terpisah, Penasehat Asosiasi Produsen Listrik Swasta Indonesia (APLS1) Heru Dewanto mengungkapkan pembebasan lahan untuk proyek infrastruktur ketenagalistrikan masih menjadi kendala utama. Para pengembang listrik swasta itu pun berjuang untuk membebaskan lahan. “Untuk pembangkit listrik kami harus bebaskan sendiri,” ujarnya. Heru menuturkan pembebasan lahan yang bermasalah tidak hanya terkait pembangkit listrik. Dia mengungkapkan pembangunan transmisi listrik pun kerap molor akibat tertundanya pembebasan lahan. Berdasarkan catatan Investor Daily pembebasan lahan diselesaikan Pemerintah melalui Peraturan Presien No. 4 Tahun 2016 tentang Percepatan Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan.

Sumber: InvestorDaily

Indonesia Menjelang Era Energi Terbarukan

Indonesia Menjelang Era Energi Terbarukan – Energi terbarukan sering luput dari fokus. Bank Dunia bahkan sempat menganggap remeh potensi sumber energi hijau tersebut. Padahal kapasitas produksinya kini sepuluh kali lipat lebih besar ketimbang yang diperkirakan.

Indonesia Menjelang Era Energi Terbarukan

Dunia sedang demam energi hijau. Belum pernah sebelumnya investasi energi terbarukan melampaui jumlah dana yang dikucurkan untuk memproduksi bahan bakar fosil dan energi nuklir sekaligus. Tren yang mulai terlihat sejak beberapa tahun terakhir ini diyakini akan terus meningkat di masa depan.

Menurut Christine Lins, energi terbarukan memasok “sekitar 25 persen” dari kebutuhan energi global. Lins adalah sekretaris jendral di REN21, Renewable Energy Policy Network 21st Century.

Jaringan yang bermarkas di Paris itu mengamati perkembangan energi di seluruh dunia dan menjadi konsultan bagi pemerintah dan perusahaan energi dalam merombak sistem produksi agar sesuai dengan tuntutan energi terbarukan.

Melalui laporan terbarunya, Global Future Report Renewables, REN21 menyajikan perkiraan pertumbuhan energi terbarukan di masa depan. “Kami mengulas opini para pakar di bidang ekonomi dan politik, seperti apa masa depan energi terbarukan,” kata Lins.

Asia Terdepan dalam Energi Terbarukan

Laporan tersebut menggambarkan mosaik pertumbuhan energi terbarukan yang disusun berdasarkan wawancara dengan 170 pakar energi dan 50 pemikir dari seluruh dunia.

“Saat ini kerangka hukum dan perundang-undangan untuk energi terbarukan sudah dibuat di lebih dari 120 negara di dunia, separuhnya adalah negara berkembang,” kata Lins. Sebagian besar pakar meyakini, pertumbuhan terbesar antara lain akan terjadi di Cina, India, Jepang dan Brazil.

Indonesia Menjelang Era Energi TerbarukanInstalasi panel surya di Cina

Menurut laporan lembaga tersebut, Cina berada di urutan pertama dalam daftar negara dengan jumlah investasi terbesar sejak 2010. Lebih dari 130 juta rumah tangga di Cina saat ini hidup dari energi matahari. Lebih dari separuh panel surya yang saat ini beroperasi di dunia, berada di Cina.

Cina juga terdepan dalam hal energi angin. Dengan lebih dari 80 Gigawatt negara tersebut memiliki daya dua kali lipat lebih besar ketimbang Jerman misalnya. Hingga 2020 Cina berencana menggandakan produksi energi angin.

Tren Positif di Indonesia

Indonesia Menjelang Era Energi Terbarukan memiliki tren yang cukup positif untuk perkembangan energi terbarukan, terutama matahari. Walaupun dapat dibilang cukup lambat dibanding negara-negara tetangga di ASEAN.

Hal ini dapat dilihat dari semakin besarnya populasi penggunaan pembangkit listrik tenaga matahari dan semakin besarnya akses listrik tersebut. Pada 2017 ini saja, ESDM menyediakan dana 500M hanya untuk energi terbarukan pedesaan saja. Oleh karena itu, langkah pemerintah patut diapresiasi dan didukung secara menyeluruh.
Sumber : http://www.dw.com/id/dunia-menjelang-era-energi-terbarukan/a-16523274 (dengan perubahan seperlunya)

Peletakan batu pertama pembangunan smart grid system

Pedoman Kebijakan Energi Nasional, PLTS

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral melalui Ditjen Litbang ESDM, meletakkan batu pertama pembangunan smart grid system, solar on grid (energi matahari) di kantor Gubernur Bali.

Untuk merealisasikan proyek yang dianggap ramah lingkungan ini, anggaran yang dihabiskan mencapai Rp 15 miliar.

Sekretaris Balitbang Kementerian ESDM, Wawan Supriatna mengatakan, Bali menjadi centre of excellent (pusat energi) untuk energi terbarukan.Sistem solar on grid ini merupakan yang pertama dipasang di Provinsi Bali dibandingkan Provinsi lainnya di Indonesia.

“Dengan kebijakan yang sudah ditentukan kementerian sebagai Bali Energi Bersih kita mulai susun penggunaan smart grid sistem di kantor Gubernur Bali ini,” jelasnya selepas peletakan batu pertama di halaman lapangan tenis Kantor Gubernur Bali, Jumat (16/9/2016).

Sebetulnya pihaknya mengajukan anggaran Rp 35 miliar untuk bisa memenuhi seluruh kebutuhan listrik di Kantor Gubernur Bali.

Tetapi karena ada pemotongan anggaran di pemerintah pusat, maka terkena dampaknya ke solar on grid di Bali yang dianggarkan sebesar Rp 17 miliar.
“Itu awalnya anggarannya Rp 35 miliar tetapi setelah pemotongan anggaran menjadi Rp 17 miliar, setelah tender biaya untuk smart grid system Rp 15 miliar untuk di sini (kantor Gubernur Bali), saja,” jelasnya.

Nantinya akan dipasang 24 tiang pancang yang akan berisikan 624 grid solar cell di lahan seluas 1.400 meter2 halaman tenis Pemprov Bali.

Adapun tinggi tiang pancang itu 15 meter dengan grid (paneL surya persegi) berukuran 2,5 meter x 1,5 meter.

meletakkan batu pertama pembangunan smart grid system

Ia mengatakan bahwa dari energi yang diserap solar cell dari matahari ini memiliki batterai cadangan yang mampu mengalirkan energi listrik selama 25 sampai 30 menit.

“Nanti tempatnya mirip tenda, tiang-tiangnya di pinggir, grid-nya menutupi lapangan. Untuk perawatannya hanya dibersihkan dan disiram sebulan sekali memakai air. Nanti disemprot saja, jadi nanti kita buatkan instalasi untuk menyiram panel suryanya, tinggal Pemprov Bali menyediakan air saja,” jelasnya.

Pembagunan solar on grid ini ( meletakkan batu pertama pembangunan smart grid system) akan terselesikan di bulan Desember 2016. Panel smart solar on grid ini akan diletakkan di sebelah ruangan Gubernur Bali, Made Mangku Pastika.

Dan gedung Penelitian dan Pengembangan Kementerian ESDM ini akan bertempat di sebelah rumah jabatan Gubernur Bali, di Jalan M Yamin, Denpasar.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika menyambut baik pembangunan solar on grid ini. Hal ini karena merupakan visi dan misi Bali Mandara menjadi Bali yang clean and green province.

“Ini kan gayung bersambut, dari dahulu kita ingin membuat (energi terbarukan) dari Bali Mandara Jilid I (tahun 2008) pun kita sudah memiliki visi Bali Green Province. Terdiri dari green culture, green economy, dan green regulation.

Sekarang green economy, energi-nya harus energi baru terbarukan. Supaya kita tidak lagi memakai Disel itu, apalagi energi lain yang lebih kotor misalnya batu bara,” jelasnya.
Ia berencana membuat perda yang mengharuskan perusahaan, kantor pemerintahan, untuk menggunakan energi terbarukan.
Ini sebagai upaya membangun Bali clean dan green Province.

“Untuk Perda di negara-negara lain seperti Jerman di Eropa itu kan miskin sinar surya, tidak seperti kita. Di sana ada peraturan pemerintah bahwa pabrik & perusahaan, atau kantor pemerintah, harus menggunakan sekurang-kurangnya 8% energi terbarukan dari seluruh keperluan mereka. Untuk rumah pribadi gak diharuskan, jadi kalau kita bisa begitu alangkah bagusnya. Ini sekarang sedang dikaji sama Pak Sekda dan Kadis PU,” jelas mantan Kapolda Bali ini.

meletakkan batu pertama pembangunan smart grid system

Solusi Listrik Tenaga Surya Untuk Indonesia

Listrik tenaga surya telah menjadi solusi untuk desa-desa terpencil di negara dunia ketiga. Bagi daerah yang belum terjangkau jaringan listrik darat, pemasangan listrik tenaga surya telah membawa perubahan.

Masalah kekurangan listrik di daerah terpencil sebenarnya bisa diatasi dengan menyediakan generator pembangkit listrik. Tapi, mesin itu mahal dan perawatannya tidaklah mudah. Masalah lain adalah bensin atau solar yang dibutuhkan untuk menjalankan generator. Bahan bakar, yang sangat berpolusi ini, tidaklah mudah didapat.

Dalam situasi seperti itu. Sebuah sistem sederhana yang terdiri dari beberapa panel surya dan aki bisa membuat perbedaan.

Sistem kerja panel itu pun sangatlah sederhana. Pada setiap atap rumah penduduk ditaruh panel surya berukuran kecil. Kemudian listrik akan disimpan di baterai untuk dapat digunakan 24 jam.

Sedikit listrik ini berhasil membuat perubahan besar. Radio dan televisi bisa masuk desa. Sekolah juga bisa buka malam hari. Desa-desa dengan panel surya mengalami perkembangan ekonomi.

listrik tenaga surya

Namun demikian, produksi panel surya sangat pelik. Proses pembuatan panel terdiri dari berpuluh-puluh tahap. Semuanya harus dilakukan dengan tingkat akurasi yang tinggi. Semua ini untuk menghasilkan satu panel surya yang mampu menyerap sebanyak mungkin sinar matahari.

Peliknya proses produksi mengakibatkan mahalnya panel surya. Ini menjadi masalah dalam upaya memperkenalkan teknologi pembangkit listrik ini dalam skala besar. Tapi, meningkatnya permintaan pasar atas tenaga surya akan merubah keadaan ini.

Pasar panel surya tumbuh 40 persen tiap tahunnya. Diperkirakan dalam sepuluh tahun ke depan biaya produksi listrik tenaga surya akan turun di bawah 13.000 rupiah per watt listrik. Di negara dunia ketiga, yang mendapatkan lebih banyak sinar matahari, penurunan harga akan terjadi lebih cepat lagi.

Solusi Listrik Tenaga Surya di Indonesia

Sekarang, salah satu upaya yang dilakukan pemerintah guna mendorong pemanfaatan listrik tenaga surya ini secara luas adalah melalui program bantuan pemerintah, baik pusat ataupun daerah.

Pemerintah telah memasang banyak sistem terpusat (off grid: tanpa terhubung PLN) dan SHS (Solar home system: mandiri per rumah) di lokasi-lokasi remote yang tidak terjangkau oleh listrik PLN.

Teknologi Sel Surya: Perkembangan Dewasa Ini dan yang Akan Datang

Sebagai negara yang berada di wilayah iklim tropis sebenarnya Indonesia dianugerahi kelebihan di bidang energi terbarukan. Salah satunya adalah energi matahari atau Teknologi Sel Surya. Matahari
yang bersinar nyaris sepanjang tahun sangat berpotensi untuk dijadikan sumber tenaga pada pembangkitan listrik dibanding di daerah sub tropis apalagi daerah beriklim sedang dan dingin.

Selain tenaga matahari, angin dan ombak adalah sumber energi terbarukan lain yang potensial dikembangkan di Indonesia. Garis pantai yang sangat panjang sebagai akibat dari bentuk negara kepulauan menjanjikan luasan yang sangat memadai untuk “menambang” angin dan ombak. Namun dalam artikel kali ini penulis hanya akan membahas energi surya, lebih khusus pada kendala-kendala yang harus dicarikan solusi pada Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Disebut tenaga surya bukan tenaga matahari agar akronimnya tidak rancu dengan PLTM (Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro).

Pada prinsipnya pemanfaatan energi surya sebagai tenaga pembangkit energi listrik bertumpu pada sebuah elemen fotolistrik yang berfungsi sebagai pengubah energi cahaya (bukan panas) ke energi listrik yang biasa disebut sel surya atau solar cell. Karena sebuah sel surya hanya menghasilkan tegangan dan arus listrik yang sangat kecil maka beberapa Teknologi Sel Surya dirangkai sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah panel surya atau solar panel.

Energi listrik yang dihasilkan oleh panel surya berupa listrik arus searah (DC/direct current) tegangan rendah. Energi listrik ini nantinya akan dikumpulkan dan disimpan dalam sebuah akumulator (aki/accu) lewat sebuah alat kontrol pengisian aki atau biasa disebut solar charge controller.
Solar charge controller ini berfungsi sebagai pengendali proses pengisian aki (charging) agar tegangan dan arus yang diisikan ke aki tidak melewati batas kemampuan aki atau overcharge. Pencegahan kondisi overcharge perlu dilakukan agar aki bisa awet secara umur.

Pada solar controller yang lebih maju dilengkapi pula dengan solar tracking yang berfungi untuk selalu mengarahkan permukaan panel surya agar tegak lurus terhadap jatuhnya sinar matahari agar panel surya bekerja optimal.

Dari aki ini energi listrik Teknologi Sel Surya sudah bisa dimanfaatkan baik untuk menyalakan lampu atau motor DC. Untuk menyalakan lampu AC (arus bolak-balik/alternating current) atau peralatan listrik AC lainnya diperlukan sebuah inverter yang berfungsi sebagai pengubah arus searah atau DC menjadi arus bolak-balik atau AC. Untuk menggerakkan beban motorik seperti AC, kipas angin, pompa air atau kulkas diperlukan inverter yang bekerja dengan gelombang sinus murni atau pure sine inverter.

Namun pembangkit listrik tenaga surya ini bukan tanpa kelemahan. Kelemahan yang pertama adalah banyaknya aki yang harus dipasang agar menghasilkan daya yang cukup. Sebuah aki kapasitas 200 Ah (ampere hour) dengan tegangan kerja 12 Vdc hanya menghasilkan daya sebesar 2,4 KWh (kilo watt hour). Maka jika digunakan untuk menggerakkan pompa air rumah tangga yang berdaya 200 Watt hanya akan bertahan selama 12 jam. Itupun dengan asumsi efisiensi inverter 100%, padahal faktanya efisiensinya kebanyakan tidak lebih dari 70%.
Untuk mensuplai daya pada rumah tangga kecil dengan asumsi penggunaan daya rata-rata 300 Watt (bukan daya kontinyu) selama 24 jam maka diperlukan 3 buah aki kapasitas 200 Ah 12Vdc. Namun perhitungan baku pada perencanaan Teknologi Sel Surya ditambahkan faktor keamanan 300% untuk mengamankan daya jika matahari tertutup mendung selama 3 hari berturut-turut, sehingga aki harus disediakan sebanyak 9 buah. Aki menjadi penghambat utama karena kebutuhannya yang besar dan umur aki yang rata-rata hanya sampai 2 atau 3 tahun dengan perawatan yang baik.

Penggantian aki dengan batere lithium memang memperkecil dimensi aki, tetapi tidak mengurangi harga, sehingga batere lithium hanya cocok dipasang pada kendaraan listrik dengan tujuan agar bobot kendaraan tidak terlalu berat. Sebuah langkah maju dibuat oleh peneliti Swedia dari Uppsala University dan peneliti Adam Freeman yang menciptakan batere berbahan ganggang hijau yang diklaim mampu menyimpan daya sampai 200 kali batere lithium dan waktu pengisian sampai full charged hanya 8 menit. Sayang batere ini masih dalam tahap pengembangan dan belum layak diproduksi massal.

Kelemahan kedua adalah kemampuan panel surya menghasilkan listrik. Sel surya mempunyai efisiensi konversi energi sangat kecil, yaitu maksimum hanya 20%. Untuk menghasilkan daya listrik yang besar dibutuhkan banyak panel surya sehingga biaya pengadaan panel surya menjadi mahal. Beruntung umur pemakaian panel surya cukup panjang, bisa lebih dari 20 tahun, sehingga biaya investasinya sebanding dengan usia pemakaian.

Kendala pengadaan panel surya di Indonesia adalah harga yang masih tinggi. Meskipun bea masuknya sudah dibebaskan, namun karena bobot panel surya yang tergolong berat membuat biaya pengiriman menjadi mahal. Jika dirakit di dalam negeri maka kendalanya justru impor sel surya belum dibebaskan. Hasilnya mau impor jadi atau merakit sendiri jatuhnya sama mahal. Padahal jika diproduksi penuh di dalam negeri bahan baku silikon yaitu pasir silika atau pasir kwarsa sangat melimpah. Yang ada saat ini pasir silika diekspor ke China dengan harga murah dan kembali ke Indonesia dalam bentuk panel surya yang mahal. Seandainya ada investor atau BUMN yang tergerak untuk memproduksi silikon di dalam negeri tentu harga panel surya akan lebih murah. Teknologinya sendiri tidak sulit, sehingga memungkinkan kita mengaplikasikannya.

Pada kebanyakan Teknologi Sel Surya yang telah dipasang di negara kita seperti untuk penerangan jalan, sering kita dapati umurnya pendek. Hanya dalam hitungan bulan banyak yang mati. Menurut pengamatan penulis hal ini terjadi karena tidak adanya perawatan terhadap aki dan solar charger controllernya. Bahkan pernah penulis menemukan solar charge controllernya tidak memakai proteksi overcharge. Sudah gitu akinya pakai aki kering merek tidak jelas. Pantas saja aki cepat rusak. Jadi kuncinya memang ada di perawatan, sama seperti aki mobil atau motor anda.

Menurut pengalaman penulis menggunakan PLTS skala rumah tangga disandingkan dengan listrik PLN cukup memadai untuk mengurangi konsumsi listrik PLN. Untuk peralatan berdaya kecil seperti kipas angin, komputer, laptop dan TV LED menggunakan daya dari Teknologi Sel Surya lewat inverter, sedang untuk peralatan yang memakan daya besar seperti AC, kulkas, pompa air dan rice cooker masih harus mengandalkan listrik PLN. Penerangan menggunakan lampu LED arus DC langsung dari aki.

Teknologi Sel Surya

Go green Indonesia.