Kejar Rasio Elektrifikasi, Menteri ESDM Andalkan Listrik Tenaga Surya

Kejar Rasio Elektrifikasi, Menteri ESDM Andalkan Listrik Tenaga Surya – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menargetkan pembangunan sistem listrik tenaga surya (independent home solar system).

Pembangkit Listri Tenaga Surya
                                              foto : Jawapost.com

Hal tersebut dilakukan dalam rangka salah satu yang menjadi andalannya untuk mempercepat realisasi target rasio elektrifikasi nasional sebesar 99% pada tahun 2019 mendatang. Dia mengatakan,saat ini rasio elektrifikasi nasional baru sekitar 92,8%. Masih ada sekitar 2.519 desa yang belum memperoleh listrik.

“Saya bilang dengan teman-teman di PLN, ini harus ditingkatkan hampir mencapai 99%, juga dibantu dengan APBN. Memang ada yang tanya ke saya, kalau renewable energy gimana. Saya sepakat kita harus meningkatkan renewable energy,” katanya di Hotel JW Marriott, Jakarta, Selasa (26/9/2017).

Saat ini, Jonan menyebut dari 2.519 desa, tersebut saat ini secara perlahan  telah dipasang solar sistem / independent home solar system yang dibangun menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Setidaknya, listrik tenaga surya tersebut bisa menghidupkan empat lampu dan mengisi baterai ponsel.

Meski tidak menikmati listriknya secara optimal, setidaknya keberadaan independen solar sistem mampu memberi daya kepada 4 lampu dan daya untuk baterai telepon genggam.

“Jadi, kira-kira ada 2.519 desa masih belumdialiri listrik. Sekarang sudah mulai bisa dipasang satu-persatu menggunakan independent home solar system. Ini menggunakan APBN, jadi enggak bayar. Ini untuk empat lampu dan bisa untuk colokan HP.

Selain itu, mantan Menteri Perhubungan ini juga menugaskan PT PLN (Persero) untuk melengkapinya dengan membangun jaringan listrik tegangan rendah. “Misalnya di Pulau Rupat yang berbatasan dengan Malaysia, dari 5 dusun yang enggak ada listriknya 3,5 dusun. Nanti akan dilengkapi. Insya Allah 2019 elektrifikasinya mencapai 99%,” ujar Jonan.

Sumber : dari berbagai sumber

Mengenal Lebih Dekat Mengenai Teknologi Panel Surya

Matahari Untuk PLTS di Indonesia
          Matahari Untuk PLTS di Indonesia

Mengenal Lebih Dekat Mengenai Teknologi Panel Surya – Teknologi panel surya merupakan salah satu perangkat alternatif untuk dapat mengonversikan cahaya matahari menjadi energi listrik.

Disebut panel surya atau solar panel karena teknologi tersebut mengambil energi cahaya matahari yang sangat kuat, sehingga dinamakan Sol oleh astronomer, sebagian ilmuwan menyebut photovoltaics.

Panel surya merupakan kumpulan sel-sel surya. Banyak sel surya kecil disebar di suatu area bisa bekerja bersama untuk menyediakan energi yang cukup dan dapat dimanfaatkan.

Semakin banyak cahaya yang mengenai sel, semakin banyak listrik yang dihasilkannya. Dengan demikian, pesawat luar angkasa biasanya dirancang dengan panel surya yang selalu bisa diposisikan terkena matahari, walaupun pesawat itu tengah bergerak.

Sebuah sel surya merupakan disk kecil dari semikonduktor seperti silikon. Mereka dilekatkan dengan kawat ke sirkuit. Saat cahaya mengenai semikonduktor, cahaya diubah menjadi listrik yang mengalir melalui sirkuit. Begitu cahaya menghilang, maka sel surya berhenti menghasilkan energi.

Panel surya pada pesawat luar angkasa yang umumnya terlihat memiliki bentuk menyerupai sayap. Panel surya perlu memiliki banyak area permukaan yang bisa ditunjukkan ke matahari.

Website NASA mengungkapkan, stasiun luar angkasa memiliki susunan yang terdiri dari 262.400 sel surya dan meliputi area sekira 2.500 meter persegi atau lebih dari setengah area lapangan sepak bola.

Lebar sayap panel surya yakni 73 meter, lebih panjang ketimbang sayap Boeing 777 yang memiliki panjang 65 meter. Secara keseluruhan, empat rangkaian sel surya bisa menghasilkan 84 sampai 120 kilowatts listrik. Ini cukup untuk menyediakan energi untuk lebih dari 40 rumah.

sumber : dari berbagai sumber

Warga Gaza Gunakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya

Pembangkit Listrik Tenaga Surya – Blokade Israel menyebabkan keterbatasan di Gaza membuat warga wilayah Palestina itu harus putar otak, salah satunya mencari pembangkit energi alternatif untuk mengganti listrik yang kian langka dan mahal.

Pembangkit Listrik Tenaga Surya untuk Gaza
Pembangkit Listrik Tenaga Surya untuk Gaza

Hasilnya kini, ribuan warga Gaza tidak lagi mengandalkan listrik yang dijatah Israel, namun kini telah menggunakan pembangkit listrik tenaga surya.

Panel surya tidak hanya dapat diandalkan dan murah untuk kesediaan energi jangka panjang, tapi dalam beberapa kasus juga menyelamatkan nyawa. Hal ini dialami oleh Tamer al-Burai, warga Gaza.

Tamer mengalami gangguan tidur yang berakibat pada gangguan pernafasannya, sebelum beralih ke tenaga surya, Burai mengeluarkan uang sebesar 18.000 shekels atau setara dengan Rp 60 juta pertahun untuk membeli bahan bakar generator yang diandalkan saat mati listrik, pembangkit Listrik Tenaga Surya.

“Saya membayar US$5.000 (Rp65 juta) untuk membeli panel surya bagi seluruh rumah, dan ini membuat saya berhemat hingga bertahun-tahun,” ujar Burai.

Nabeel Marouf, manajer Perusahaan Kontraktor dan Teknisi Energi Terbarukan Gaza mengaku kewalahan menerima permintaan panel surya dulu kliennya hanya puluhan. namun sekarang telah mencapai ribuan.

“Masyarakat putus asa mencari solusi krisis energi, lalu ada krisis bahan bakar,” kata Marouf.

Namun ternyata masih cukup banyak warga miskin di daerah Gaza yang sampai saat ini belum tersuplai aliran listrik di daerah tempat mereka tinggal. oleh karena itu gerakan Perlawanan Islam Palestina, Hamas pada hari Selasa (26/9) lalu waktu setempat, menyuplai peralatan tenaga surya (Solar Cell) di kota Deir Balah, wilayah tengah Jalur Gaza, dan sekaligus memulai pengerjaan proyek pembangkit listrik tenaga surya  pada rumah keluarga miskin.

Sejak lebih dari 10 tahun, Jalur Gaza mengalami pemutusan arus listrik. Hal ini telah menyebabkan terjadinya sejumlah kebakaran yang telah menelan korban jiwa dan kerugian materi yang tidak sedikit karena kebakaran yang terjadi pada rumah-rumah warga akibat menggunakan penerangan yang tidak aman.

Proyek  pembangkit listrik tenaga surya  ini dilakukan dengan tujuan untuk melindungi rumah-rumah warga Palestina dari risiko pencahayaan yang tidak aman, terutama penggunaan lilin, yang dapat menyebabkan kebakaran mematikan.  (gdm)

Keren!!! Tinggalkan Energi Solar, Kereta di India Manfaatkan Panel Surya.

Tinggalkan Energi Solar, Kereta di India Manfaatkan Panel Surya – Penggunaan energi solar pada jaringan transportasi India memang sangat massif. Bahkan hal tersebut menjadi salah satu penyumbang masalah lingkungan di negara ini.

Kereta di India kini mulai meninggalkan solar dan beralih ke panel surya, sebagai energi alternatif
Kereta di India kini mulai meninggalkan solar dan beralih ke panel surya, sebagai energi alternatif

Akan tetapi, kini masalah krusial ini akan segera teratasi. Pasalnya, eksperimen menggunakan energi surya baru saja sukses dilaksanakan.

Pada 14 Juli lalu, India Railways menjalankan kereta pertamanya dengan beratapkan panel surya di atasnya yang bisa menghasilkan daya untuk  cahaya, kipas angin, dan sistem informasi di gerbong penumpang. Meski secara umum, gerak gerbang masih ditenagai oleh solar. Dengan adanya program ini, India diperkirakan akan dapat menghemat sekitar 21 ribu liter solar per tahunnya.

Dilansir dari The Independent, kereta bernama Diesel Electrical Multiple Unit (DEMU) ini memiliki kapasitas 1.600 tenaga kuda. DEMU dilengkapi dengan 16 panel surya dan baterai cadangan di setiap gerbongnya, kereta akan menggantikan tenaga solar yang biasanya menggerakkan kereta tersebut.

Diketahui bahwa pada 2014 saja, Indian Railways menghabiskan 2,6 milyar liter solar, mencakup 70 persen total biaya bahan bakar. Pada permulaan, kereta akan dipasangi layanan energi ini pada jaringan transportasi dari pinggiran kota menuju ke New Delhi, yang merupakan salah satu kota dengan polusi tertinggi di dunia.

Sistem atap yang berenergi sinar matahari dikembangkan oleh Jakson Engineers, di bawah pengawasan Indian Railways Organisation for Alternate Fuels (IROAF). “Hal ini bukan pengerjaan mudah untuk menyesuaikan panel surya di atas atap dari gerbong kereta yang berjalan sepanjang 80 km per jam,” ungkap Sundeep Guta, direktur Jakson Engineer kepada Business Standard.

India Railways punya rencana ambisius untuk energi surya. Pada tahun 2020, jaringan transportasi yang dijalankan oleh pemerintah berencana menghasilkan 1.000 megawatt (MW) energi matahari, yang bisa ditingkatkan hingga 5.000 MW pada tahun 2025.

Pengerjaan proyek ini tak hanya signifikan bagi perkembangan kereta api, tetapi juga akan berdampak baik pada tujuan India dalam menggunakan energi terbarukan yang ramah lingkungan.

Anak Ini Ciptakan Ide Tanah Liat Jadi Bahan Baku Panel Surya

Ciptakan Ide Tanah Liat Jadi Bahan Baku Panel Surya – Selama ini tanah liat dikenal sebagai bahan baku pembuatan genting dan bata, namun bagi siswa Kelas XI IPA 6 SMA Taruna Nusantara Magelang, Bagas Pramana Putra Fadhila, tanah liat dimanfaatkan sebagai bahan baku panel surya.

Ciptakan Ide Tanah Liat Jadi Bahan Baku Panel Surya

Panel surya adalah perangkat rakitan sel-sel fotovoltaik yang mengonversi sinar matahari menjadi listrik. Dengan menggunakan bahan baku dari tanah liat ini, biayanya menjadi lebih murah.

Temuan spektakuler tersebut mengantarkan alumni SMP Negeri 8 Yogyakarta ini meraih juara dua dalam lomba “Pertamina Ide Gila Energy Competition 2017” pada April lalu.

Sebanyak 6.342 peserta dengan 1.464 ide kreaktif ikut dalam lomba ini dengan tema Ciptakan Ide Tanah Liat Jadi Bahan Baku Panel Surya. Bagas merupakan satu-satunya pelajar yang lolos dalam semifinal tersebut dan dia harus bersaing dengan para mahasiswa, akademisi/dosen, bahkan telah bergelar doktor.

Anak pertama pasangan Nafrizal dan Patmi Wiji Utami ini masuk dalam 10 finalis terdiri atas masing-masing kategori lima orang. Menurut Bagas, penelitian yang dilakukan terinspirasi waktu kecil sering main tamia dan kalau baterainya habis kemudian dijemur di bawah sinar matahari dan ternyata setelah dijemur bisa digunakan lagi.

Kemudian waktu di SMA ini dirinya menemukan suatu hukum yang menjelaskan tentang fenomena tersebut dan Indonesia merupakan negara khatulistiwa yang sinar mataharinya melimpah yang bisa dimanfaatkan sebagai panel surya yang biayanya saat ini masih cukup mahal.

Ia menuturkan tentang bagaimana membuat sel surya yang cocok dengan kondisi di Indonesia, maka dari itu ter ciptakan Ide Tanah Liat Jadi Bahan Baku Panel Surya tetapi harganya lebih murah dan dapat dibuat di dalam negeri.

Ia menjelaskan genting dibuat dengan ukuran 10×27 centimeter ada empat, kemudian ukuran 10×14 centimeter ada delapan. Genting tersebut ditata menyerupai panel surya dan dijemur agar terkena panas sinar matahari.

“Tanah liat yang dibentuk genting yang telah dilapisi lembengan tembaga tersebut kemudian dijemur seperti kerja panel surya, sedangkan di bawahnya diberikan replitor aluminium foil dan di atasnya ditutup dengan akrelik agar tidak terkena air hujan,” katanya.

Melalui hasil penelitiannya yang diberi nama Genteng Triko tersebut, biaya pembangkitan setiap 1 watt dengan biaya 2 dolar, sedangkan dengan sel surya setiap 1 watt membutuhkan biaya mencapai 10 dolar sehingga lebih hemat dan murah.

Pembimbingnya dalam penelitian tersebut, Amin Sukarjo, mengatakan Bagas merupakan anak yang ulet, tidak mudah menyerah, dan dia mau mengeksplorasi lebih dalam masing-masing bidang.

Menurut dia, nomor satu sebenarnya bukan keterampilan dan intelektualnya, tetapi lebih pada kepribadian dan karakternya agar mereka nanti setelah dewasa bisa berguna bagi bangsa dan negara.

Pemerintah Siapkan Rp 332,8 Miliar untuk Penyediaan Lampu Tenaga Surya

LTSHE Nawa Cita

JAKARTA – Pemerintah akan mulai menjalankan program penyediaan listrik bagi masyarakat yang berada di kawasan perbatasan, daerah tertinggal, daerah terisolir dan pulau-pulau terluar melalui Penyediaan Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE) bagi masyarakat yang belum mendapatkan akses listrik. Program tersebut sesuai dengan amanat Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2017 tentang Penyediaan LTSHE.

Dana Rp 332,8 miliar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017 disiapkan untuk menjalankan program tersebut. Dengan menggunakan dana tersebut pemerintah akan membagikan secara gratis satu kali untuk setiap penerima LTSHE. Pembagian LTSHE ini merupakan program lanjutan dari Super Ekstra Hemat Energi (SEHEN) yang dimulai 2012.

Rida Mulyana, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), mengatakan seiring ditandatanganinya Perpres 47 oleh Presiden Joko Widodo, pemerintah menargetkan ada 95.729 paket LTSHE yang akan diserahkan kepada enam provinsi tertimur Indonesia, yaitu Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat.

Paket LTSHE ke berbagai propinsi
Pada 2018 Kementerian ESDM juga telah mengusulkan dana sekitar Rp. 1 triliun untuk pelaksanaan pembagian LTSHE di 15 provinsi.

“Perpres 47/2017 mengatur ketentuan terkait penyediaan, pengawasan distribusi, peran Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah serta aturan terkait badan usaha pelaksana penyedia LTSHE,” kata Rida.

LTSHE merupakan perangkat pencahayaan berupa lampu terintegrasi dengan baterai yang energinya bersumber dari pembangkit listrik tenaga surya fotovoltaik. Prinsip kerja LTSHE adalah energi dari matahari ditangkap oleh panel surya, diubah menjadi energi listrik kemudian disimpan di dalam baterai. Energi listrik di dalam baterai ini yang kemudian digunakan untuk menyalakan lampu. LTSHE dapat beroperasi maksimum hingga 60 jam.

LTSHE merupakan terobosan program untuk menerangi desa-desa yang masih gelap gulita, yang jumlahnya mencapai lebih dari 2.500 desa di seluruh Indonesia.

Paket program LTSHE antara lain mencakup panel surya kapasitas 20 watt peak, 4 lampu Light Emitting Diode (LED), baterai, biaya pemasangan, dan layanan purna jual selama tiga tahun.

Untuk mensukseskan program LTSHE, pemerintah pusat akan melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah.

“Pemerintah daerah melakukan penyediaan data calon penerima LTSHE, kemudian bersama-sama dengan pemerintah pusat melakukan sosialisasi kepada calon penerima LTSHE dan melakukan pengawasan dalam pelaksanaan pendistribusian, pemasangan dan pemeliharaan LTSHE,” ungkap Rida.

Pelaksanaan penyediaan LTSHE akan dilakukan oleh badan usaha. Menteri ESDM bertanggung jawab dalam menunjuk dan melakukan pengawasan terhadap badan usaha pelaksana dan penyedia LTSHE. Tata cara penyediaan LTSHE badan usaha ini nantinya akan dimuat dalam Peraturan Menteri ESDM.

Badan usaha yang akan melaksanakan penyediaan LTSHE harus memiliki sarana dan fasilitas produksi LTSHE di dalam negeri. Produk badan usaha itu juga telah digunakan baik di dalam maupun di luar negeri. Badan usaha juga harus menyediakan layanan purna jual paling kurang tiga tahun dan menyediakan jaminan ketersediaan suku cadang LTSHE.(RI)

sumber : web dunia energi

Pemerintah Akan Sediakan Lampu Tenaga Surya Bagi Masyarakat Yang Belum Dapat Akses Listrik

LTSHE Nawa Cita

Dengan pertimbangan bahwa pemenuhan terhadap energi khususnya jaringan tenaga listrik pada masyarakat yang tinggal di kawasan perbatasan, daerah tertinggal, daerah terisolir, dan pulau-pulau terluar masih belum merata, sehingga pemerintah memandang perlu percepatan untuk mendapatkan akses listrik melalui penyediaan lampu tenaga surya hemat energi.

Atas dasar pertimbangan tersebut, pada 12 April 2017, Presiden Joko Widodo telah menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor: 47 Tahun 2017 tentang Penyediaan Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE) bagi Masyarakat Yang Belum Mendapatkan Akses Listrik.

“Penyediaan LTSHE ditujukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang belum tersambung dengan jaringan tenaga listrik di kawasan perbatasan, daerah tertinggal, daerah terisolir, dan pulau-pulau terluar melalui percepatan Penyediaan LTSHE,” bunyi Pasal 2 Perpres ini.

Penyediaan LTSHE , menurut Perpres ini, dilaksanakan oleh Pemerintah Pusat melalui pemberian LTSHE secara gratis kepada Penerima LTSHE, dan hanya dilakukan 1 (satu) kali untuk setiap Penerima LTSHE.

Dalam rangka pelaksanaan Penyediaan LTSHE itu, Menteri melakukan: a. perencanaan wilayah pendistribusian dan pemasangan LTSHE setelah berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah; dan b. pengadaan Badan Usaha pelaksana Penyediaan LTSHE sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pengadaan barang/jasa pemerintah.

Badan Usaha sebagai calon pelaksana Penyediaan LTSHE, menurut Perpres ini,  paling kurang memenuhi persyaratan:

a. Memiliki sarana dan fasilitas produksi LTSHE di dalam negeri;

b. Mempunyai produk LTSHE yang telah digunakan di dalam dan luar negeri;

c. Menyediakan layanan purna jual paling kurang 3 (tiga) tahun; dan

d. Menyediakan jaminan ketersediaan suku cadang LTSHE.

“Badan Usaha yang telah ditetapkan sebagai pelaksana Penyediaan LTSHE bertanggung jawab atas kelancaran pelaksanaan pengadaan, pendistribusian, pemasangan dan pemeliharaan LTSHE sesuai dengan perjanjian kerja dengan Menteri atau pejabat yang diberi wewenang oleh Menteri,” bunyi Pasal 6 ayat (2) Perpres ini.

LTSHE Nawa Cita
LTSHE Nawa Cita

Bunyi Pasal 8 Perpres ini. “Penerima LTSHE wajib memelihara dan merawat LTSHE sesuai tujuan Penyediaan LTSHE sebagaimana dimaksud, dan dilarang memperjualbelikan dan/atau memindahtangankan kepada pihak lain sesuai perjanjian penyerahan LTSHE dengan Menteri atau pejabat yang diberi wewenang oleh Menteri,”

Perpres ini menugaskan kepada Menteri untuk melaporkan perkembangan pelaksanaan Penyediaan LTSHE kepada Presiden setiap 6 (enam) bulan sekali atau sewaktu-waktu apabila diperlukan.Adapun pendanaan Penyediaan LTSHE, menurut Perpres ini, bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Bagian Anggaran Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

“Peraturan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan,” bunyi Pasal 13 Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2017, yang telah diundangkan oleh Menteri Hukum dan HAM Yasonna H. Laoly pada 13 April 2017 itu.

(Pusdatin/ES)

Sudahkan Permen ESDM No.12 Tahun 2017 Berpihak Pada Pengembangan EBT ?

Sudahkan Permen ESDM No.12 Tahun 2017 Berpihak Pada Pengembangan EBT ?

Sumber Energi Terbarukan, yang sepertinya terus didorong perkembangannya oleh pemerintah seiring langkah-langkah percepatan untuk pencapaian kemandirian energi dan ketahanan energi sebagaimana telah digariskan dalam Kebijakan Energi Nasional, meliputi sinar matahari, angin, tenaga air, biomassa,biogas, sampah kota dan panas bumi.

Kemudian sebagai pedoman dalam melakukan pembelian tenaga listrik dari pembangkit listrik yang memanfaatkan Sumber Energi terbarukan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral telah menerbitkan Peraturan Menteri ESDM No. 12 Tahun 2017 tentang Pemanfaatan Energi Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik.

Peraturan Menteri (permen) ESDM itu mendorong kewajiban PT PLN (Persero) untuk membeli tenaga listrik dari pembangkit tenaga listrik yang memanfaatkan Sumber Energi Terbarukan, dalam rangka penyediaan tenaga listrik yang berkelanjutan. Dan penyediaan tenaga listrik itu dari Sumber Energi Terbarukan itu harus tetap mengacu pada Kebijakan Energi Nasional dan Rencana Umum Ketenagalistrikan.

Pengaturan pembelian oleh PT PLN (Persero) adalah melalui sistim feed-in tarif untuk energi baru terbarukan (EBT) yang didasarkan pada biaya pokok produksi (BPP) di daerah beroperasinya pembangkit listrik tersebut.

Patokan harga pembelian listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Fotovoltaik oleh PT PLN (Persero) adalah sebesar 85 persen dari BPP (Biaya Pokok Produksi) di daerah tempat pembangkit listrik tersebut. Demikian juga dengan patokan harga pembelian Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB), Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTB), dan Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) memiliki ketentuan yang sama, yaknu 85 persen dari BPP daerah setempat.

Sedangkan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) dan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB), harga patokannya berbeda, yakni maksimum 100 persen dari BPP setempat.

Dalam hal BPP setempat ternyata di atas rata-rata BPP nasional, maka harga pembelian tenaga listrik paling tinggi sebesar 85 persen dari BPP setempat. Dan khusus PLTSa dan PLTPB paling tinggi sebesar BPP setempat.

Namun jika dalam hal BPP setempat sama atau di bawah rata-rata BPP nasional, maka harga pembeliannya sebesar sama dengan BPP setempat. Dan khusus PLTSa dan PLTPB ditetapkan berdasarkan kesepakatan para pihak.

Sudahkan Permen ESDM No.12 Tahun 2017 Berpihak Pada Pengembangan EBT ?
Sudahkan Permen ESDM No.12 Tahun 2017 Berpihak Pada Pengembangan EBT ?

Contoh konkretnya seperti ini. Misalkan sebuah PLTS dibangun di daerah Maluku yang BPP-nya mencapai Rp 2.900/kWh. Maka pengembang PLTS itu bisa menjual listrik ke PLN dengan harga sekitar Rp 2.465/kWh. Namun untuk daerah lain yang lebih efisien, BPP hanya Rp 1.800/kWh, maka harga maksimal yang bisa didapat pengembang Rp 1.530/kWh.

Untuk daerah yang memiliki BPP sangat rendah, misalnya di Pulau Jawa yang hanya sekitar Rp 900/kWh, haruskah listrik dari PLTS dijual lebih rendah dari harga itu?

Bagi PLTS di lokasi yang memiliki rata-rata BPP lebih rendah dari BPP nasional, misalnya di Jawa yang hanya sekitar Rp 900/kWh, maka tarif maksimalnya sama dengan BPP secara nasional. Sebagai gambaran, saat ini BPP secara nasional sekitar Rp 1.400/kWh, maka harga listrik PLTS di Jawa bisa mencapai angka itu.

Dengan begitu, tarif listrik PLTS paling rendah dengan BPP saat ini adalah Rp 1.400/kWh. Tapi bukan berarti PLN tak bisa membeli dengan harga lebih rendah dari itu, sebab Permen ini hanya mengatur harga pembelian ‘paling tinggi’, jadi PLN masih punya ruang untuk negosiasi.

Namun dalam perkembangannya, kebijakan melalui Permen ESDM No.12 Tahun 2017 itu akhirnya berbuah penolakan dari  kalangan industri dan asosiasi energi baru terbarukan. Tak kurang Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), menilai kebijakan itu hanya menunjukkan jati diri pemerintah yang sebenarnya, yang belum juga berkomitmen dalam mengembangkan energi baru dan terbarukan (EBT) di Tanah Air. Sebab, penerapan tarif maksimal 85% dari biaya pokok produksi (BPP) kontra produktif dengan pengembangan EBT itu sendiri.

Atas dasar itu Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) dan para pengusaha EBT mendesak agar Menteri ESDM Ignasius Jonan meninjau kembali Peraturan Menteri ESDM No.12 tahun 2017. Untuk kemudian meminta pemerintah mengeluarkan kebijakan tentang pedoman perhitungan harga keekonomian dari EBT yang lebih berkeadilan, yang tak sekedar menguntungkan PLN semata, melainkan juga menguntungkan dunia usaha. (red-gdm)

Energi Surya dan Pemanfaatannya dalam Kehidupan

Energi Baru Terbarukan (EBT) yang akan senantiasa ada sepanjang kehidupan manusia, salah satunya adalah energi surya (matahari).  Memanfaatkan berlakunya hukum kodrati kekekalan energi, energi surya dapat dirubah menjadi energi listrik yang kemudian bisa dimanfaatkan sesuai keperluan manusia sebagai pengguna. Baik itu untuk kebutuhan memanaskan, mendinginkan, menggerakkan, menerangi, dan sebagainya.

Pada listrik yang berasal dari cahaya matahari dinamakan photovoltaic (photo berarti cahaya, dan voltaic berarti tegangan). Dengan menggunakan bahan semi konduktor— seperti silikon yang banyak digunakan— yang paling tidak terdiri dua lapisan semi kondukstor. Satu bermuatan positif, dan satunya lagi bermuatan negatif. Tenaga matahari menghasilkan sumber energi melalui cahaya dan panasnya.

off grid

Kuatnya aliran listrik tersebut akan ditentukan oleh seberapa kuat kuat cahaya yang mengenai semi konduktor.

Namun sebenarnya pada sistem photovoltaic tak terlalu butuh cahaya matahari yang terang. Saat cuaca mendung pun masih dapat membangkitkan listrik, dengan energi keluar yang sebanding berat jenis awan.

Kalkulator tenaga matahari yang sudah lama dikenal oleh masyarakat merupakan contoh aplikasi sederhana penggunaan sistim photovoltaic. Selain itu lampu penerangan jalan (PJU) di beberapa ruas tol di Pulau Jawa dan juga penyediaan listrik di daerah-daerah di pelosok nusantara yang belum dialiri aliran pembangkit listrik, juga menggunakan sistim sistim photovoltaic ini.

Selain itu kini telah dikembangkan pula beberapa produk yang menggunakan sistim photovoltaic ini, seperti:

  • Kulkas atau pendingin digunakan untuk kepentingan kemanusiaan di daerah – daerah terpencil yang tidak dialiri listrik sebagai contoh membantu penyediaan vaksin
  • Sebagai atap rumah rumah fungsional penghasil dan penyimpan energi listrik yang menggantikan atap rumah konvensional

 

Panas yang dihasilkan itu dipakai untuk menghasilkan tekanan uap panas yang tinggi untuk menjalankan turbin penghasil listrik.

Produk-produk teknologi panas matahari terus dikembangkan. Pada teknologi pengumpul panas matahari yang diaplikasikan di atas atap rumah, selain mampu membuat ruangan di rumah menjadi hangat pada saat musim dingin, juga mampu menyediakan air panas kebutuhan rumah tangga dan menghangatkan kolam renang. Bisa juga untuk membantu kebutuhan proses pemanasan dalam sebuah industri dan memproses air menjadi tawar.

Selain itu sumber panas matahari dapat digunakan untuk menghasilkan dingin dan untuk mengurangi kelembaban udara dengan cara yang sama seperti kulkas atau air conditioner konvensional. Penggunaan dalam skala massif pendingin tenaga matahari oleh penduduk di dunia akan berlangsung di masa depan, seiring dengan suksesnya produk ini didemontrasikan dan tentunya seiring dengan akan terus efisiennya biaya produksi teknologi ini. (red-gdm)

Satu Jam Cahaya Matahari Mampu Memberikan Energi Selama Satu Tahun

Di dalam sistim tata surya kita, matahari merupakan benda angkasa terbesar, dengan massa sebesar 99,9 % dari keseluruhan massa tata surya. Sebagai salah satu bintang, dari jutaan bintang yang berserak di semesta raya, sejarah matahari adalah sejarah nan superpurba, seiring superioritas  kedigjayaannya sebagai bola raksasa superpanas membara yang menjadi sumber cahaya dan sumber energi benda-benda langit lain, tak terkecuali bumi.

Menurut para pakar, matahari yang berdiameter telah bersinar sejak 4,6 milyar tahun yang lalu. Dan diperkirakan akan terus bersinar hingga 5 milyar tahun ke depan. Planet-planet yang ada dalam tata surya kita telah mengorbit mengelilingi matahari dalam lintasan elips yang konsisten sejak nun teramat sangat jauh di masa-masa di belakang sana.

Sebagai sejenis bintang yang memiliki cahaya sendiri dan merupakan ciptaan sekaligus bukti kemahabesaran Tuhan Yang Maha Kuasa, sesungguhnya matahari dalam waktu sekitar satu jam saja mampu mengirimkan energi yang sangat besar ke seluruh permukaan bumi, yang dari situ sebenarnya sanggup mencukupi kebutuhan energi bagi seluruh umat manusia dalam waktu satu tahun. Ya,  bola api super raksasa berdiameter 1,39 juta kilometer atau 109 kali diameter bumi itu dalam satu jamnya mampu mencukupi kebutuhan umat manusia untuk satu tahun!

Tiap detiknya di dalam inti matahari berlangsung reaksi fusi sebanyak 564 juta ton hidrogen menjadi 560 juta ton helium. Selisih yang terjadi sekitar 4,3 juta ton per detik memberikan energi total sebesar sekitar 3,7 x 1026 W yang dilepas oleh inti matahari ke permukaan dan diteruskan ke ruang angkasa dalam bentuk sinar. Sinar itu terpancar ke perbagai arah termasuk yang menuju ke permukaan bumi.

Satu Jam Cahaya Matahari Mampu Memberikan Energi  Selama Satu Tahun

Tinggal persoalannya, belum semua energi yang dipancarkan cahaya matahari ke permulaan bumi itu kemudian bisa diserap secara maksimal oleh teknologi yang telah dimiliki manusia saat ini. Terutama pada energi sinar matahari yang jatuh di permukaan air laut yang  luasnya mencapai 70 % permukaan bumi. Rangsangan ke arah penyempurnaan teknologi pun harus senantiasa digenjot sehingga bisa lebih memanfaatkan energi matahari secara jauh lebih efisien lagi pada tingkat keekonomiannya.

Sebab ketika bisa lebih banyak rangsangan dan dukungan ke arah optimalisasi sumber daya yang dimiliki oleh negara-negara yang ada, dalam rangka mengembangkan teknologi yang sanggup menyerap sebagian besar energi yang dipancarkan sinar matahari itu, tentu akan dapat dihasilkan cadangan energi yang mampu digunakan setiap saat bagi kepentingan kesejahteraan manusia.

SATU JAM CAHAYA MATAHARI MAMPU MEMBERIKAN ENERGI  SELAMA SATU TAHUN
Sumber Energy yang ada

Berdasarkan Survey of Energy Resources 2014 diperoleh data mengenai jumlah energi matahari yang tersedia dalam satuan energi EJ yang artinya Exa Joule. Exa sama dengan 1.000.000 triliun. Jika kita bandingkan dengan kebutuhan energi dunia saat ini, 425 EJ/year, maka energi matahari sangat lebih dari mencukupi lantaran matahari memancarkan energi sebesar 2.895.000 EJ per tahun. Walaupun kebutuhan energi dunia memang terus saja bertambah setiap waktu, namun jumlah pertambahan kebutuhan itu masih relatif kecil dibandingkan besaran ketersediaan energi matahari.

Satu Jam Cahaya Matahari Mampu Memberikan Energi Selama Satu Tahun

Pada Tabel 1 menunjukkan kepada kita sebuah berlimpahnya energi terbarukan, khususnya energi matahari, yang disediakan Tuhan Yang Maha Pencipta agar bisa lebih dimanfaatkan dan didayagunakan sebesar-besarnya bagi kepentingan seluruh umat manusia.

Apalagi bagi negara seperti Indonesia, yang diuntungkan dari segi geografis, dimana sepanjang tahun matahari bersinar secara penuh. Kondisi ini harus mampu dimanfaatkan sebaik-baiknya, seiring untuk benar-benar terus menciutkan ketergantungan yang tinggi pada energi non terbarukan.

Terkait hal itu, selama ini persoalan yang menonjol pada pemerintah Indonesia bukanlah terletak bisa tidaknya kita menuju ke arah pengutamaan penggunaan energi terbarukan, khususnya matahari. Namun terletak pada political will yang benar-benar konkrit dalam rangka mendorong segenap tahapan strategis ke arah pengarusutamaan penggunaan energi terbarukan, termasuk energi matahari.[] (red-gdm)