Kejar Rasio Elektrifikasi, Menteri ESDM Andalkan Listrik Tenaga Surya

Kejar Rasio Elektrifikasi, Menteri ESDM Andalkan Listrik Tenaga Surya – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menargetkan pembangunan sistem listrik tenaga surya (independent home solar system).

Pembangkit Listri Tenaga Surya
                                              foto : Jawapost.com

Hal tersebut dilakukan dalam rangka salah satu yang menjadi andalannya untuk mempercepat realisasi target rasio elektrifikasi nasional sebesar 99% pada tahun 2019 mendatang. Dia mengatakan,saat ini rasio elektrifikasi nasional baru sekitar 92,8%. Masih ada sekitar 2.519 desa yang belum memperoleh listrik.

“Saya bilang dengan teman-teman di PLN, ini harus ditingkatkan hampir mencapai 99%, juga dibantu dengan APBN. Memang ada yang tanya ke saya, kalau renewable energy gimana. Saya sepakat kita harus meningkatkan renewable energy,” katanya di Hotel JW Marriott, Jakarta, Selasa (26/9/2017).

Saat ini, Jonan menyebut dari 2.519 desa, tersebut saat ini secara perlahan  telah dipasang solar sistem / independent home solar system yang dibangun menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Setidaknya, listrik tenaga surya tersebut bisa menghidupkan empat lampu dan mengisi baterai ponsel.

Meski tidak menikmati listriknya secara optimal, setidaknya keberadaan independen solar sistem mampu memberi daya kepada 4 lampu dan daya untuk baterai telepon genggam.

“Jadi, kira-kira ada 2.519 desa masih belumdialiri listrik. Sekarang sudah mulai bisa dipasang satu-persatu menggunakan independent home solar system. Ini menggunakan APBN, jadi enggak bayar. Ini untuk empat lampu dan bisa untuk colokan HP.

Selain itu, mantan Menteri Perhubungan ini juga menugaskan PT PLN (Persero) untuk melengkapinya dengan membangun jaringan listrik tegangan rendah. “Misalnya di Pulau Rupat yang berbatasan dengan Malaysia, dari 5 dusun yang enggak ada listriknya 3,5 dusun. Nanti akan dilengkapi. Insya Allah 2019 elektrifikasinya mencapai 99%,” ujar Jonan.

Sumber : dari berbagai sumber

Mengenal Lebih Dekat Mengenai Teknologi Panel Surya

Matahari Untuk PLTS di Indonesia
          Matahari Untuk PLTS di Indonesia

Mengenal Lebih Dekat Mengenai Teknologi Panel Surya – Teknologi panel surya merupakan salah satu perangkat alternatif untuk dapat mengonversikan cahaya matahari menjadi energi listrik.

Disebut panel surya atau solar panel karena teknologi tersebut mengambil energi cahaya matahari yang sangat kuat, sehingga dinamakan Sol oleh astronomer, sebagian ilmuwan menyebut photovoltaics.

Panel surya merupakan kumpulan sel-sel surya. Banyak sel surya kecil disebar di suatu area bisa bekerja bersama untuk menyediakan energi yang cukup dan dapat dimanfaatkan.

Semakin banyak cahaya yang mengenai sel, semakin banyak listrik yang dihasilkannya. Dengan demikian, pesawat luar angkasa biasanya dirancang dengan panel surya yang selalu bisa diposisikan terkena matahari, walaupun pesawat itu tengah bergerak.

Sebuah sel surya merupakan disk kecil dari semikonduktor seperti silikon. Mereka dilekatkan dengan kawat ke sirkuit. Saat cahaya mengenai semikonduktor, cahaya diubah menjadi listrik yang mengalir melalui sirkuit. Begitu cahaya menghilang, maka sel surya berhenti menghasilkan energi.

Panel surya pada pesawat luar angkasa yang umumnya terlihat memiliki bentuk menyerupai sayap. Panel surya perlu memiliki banyak area permukaan yang bisa ditunjukkan ke matahari.

Website NASA mengungkapkan, stasiun luar angkasa memiliki susunan yang terdiri dari 262.400 sel surya dan meliputi area sekira 2.500 meter persegi atau lebih dari setengah area lapangan sepak bola.

Lebar sayap panel surya yakni 73 meter, lebih panjang ketimbang sayap Boeing 777 yang memiliki panjang 65 meter. Secara keseluruhan, empat rangkaian sel surya bisa menghasilkan 84 sampai 120 kilowatts listrik. Ini cukup untuk menyediakan energi untuk lebih dari 40 rumah.

sumber : dari berbagai sumber

Warga Gaza Gunakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya

Pembangkit Listrik Tenaga Surya – Blokade Israel menyebabkan keterbatasan di Gaza membuat warga wilayah Palestina itu harus putar otak, salah satunya mencari pembangkit energi alternatif untuk mengganti listrik yang kian langka dan mahal.

Pembangkit Listrik Tenaga Surya untuk Gaza
Pembangkit Listrik Tenaga Surya untuk Gaza

Hasilnya kini, ribuan warga Gaza tidak lagi mengandalkan listrik yang dijatah Israel, namun kini telah menggunakan pembangkit listrik tenaga surya.

Panel surya tidak hanya dapat diandalkan dan murah untuk kesediaan energi jangka panjang, tapi dalam beberapa kasus juga menyelamatkan nyawa. Hal ini dialami oleh Tamer al-Burai, warga Gaza.

Tamer mengalami gangguan tidur yang berakibat pada gangguan pernafasannya, sebelum beralih ke tenaga surya, Burai mengeluarkan uang sebesar 18.000 shekels atau setara dengan Rp 60 juta pertahun untuk membeli bahan bakar generator yang diandalkan saat mati listrik, pembangkit Listrik Tenaga Surya.

“Saya membayar US$5.000 (Rp65 juta) untuk membeli panel surya bagi seluruh rumah, dan ini membuat saya berhemat hingga bertahun-tahun,” ujar Burai.

Nabeel Marouf, manajer Perusahaan Kontraktor dan Teknisi Energi Terbarukan Gaza mengaku kewalahan menerima permintaan panel surya dulu kliennya hanya puluhan. namun sekarang telah mencapai ribuan.

“Masyarakat putus asa mencari solusi krisis energi, lalu ada krisis bahan bakar,” kata Marouf.

Namun ternyata masih cukup banyak warga miskin di daerah Gaza yang sampai saat ini belum tersuplai aliran listrik di daerah tempat mereka tinggal. oleh karena itu gerakan Perlawanan Islam Palestina, Hamas pada hari Selasa (26/9) lalu waktu setempat, menyuplai peralatan tenaga surya (Solar Cell) di kota Deir Balah, wilayah tengah Jalur Gaza, dan sekaligus memulai pengerjaan proyek pembangkit listrik tenaga surya  pada rumah keluarga miskin.

Sejak lebih dari 10 tahun, Jalur Gaza mengalami pemutusan arus listrik. Hal ini telah menyebabkan terjadinya sejumlah kebakaran yang telah menelan korban jiwa dan kerugian materi yang tidak sedikit karena kebakaran yang terjadi pada rumah-rumah warga akibat menggunakan penerangan yang tidak aman.

Proyek  pembangkit listrik tenaga surya  ini dilakukan dengan tujuan untuk melindungi rumah-rumah warga Palestina dari risiko pencahayaan yang tidak aman, terutama penggunaan lilin, yang dapat menyebabkan kebakaran mematikan.  (gdm)

Keren!!! Tinggalkan Energi Solar, Kereta di India Manfaatkan Panel Surya.

Tinggalkan Energi Solar, Kereta di India Manfaatkan Panel Surya – Penggunaan energi solar pada jaringan transportasi India memang sangat massif. Bahkan hal tersebut menjadi salah satu penyumbang masalah lingkungan di negara ini.

Kereta di India kini mulai meninggalkan solar dan beralih ke panel surya, sebagai energi alternatif
Kereta di India kini mulai meninggalkan solar dan beralih ke panel surya, sebagai energi alternatif

Akan tetapi, kini masalah krusial ini akan segera teratasi. Pasalnya, eksperimen menggunakan energi surya baru saja sukses dilaksanakan.

Pada 14 Juli lalu, India Railways menjalankan kereta pertamanya dengan beratapkan panel surya di atasnya yang bisa menghasilkan daya untuk  cahaya, kipas angin, dan sistem informasi di gerbong penumpang. Meski secara umum, gerak gerbang masih ditenagai oleh solar. Dengan adanya program ini, India diperkirakan akan dapat menghemat sekitar 21 ribu liter solar per tahunnya.

Dilansir dari The Independent, kereta bernama Diesel Electrical Multiple Unit (DEMU) ini memiliki kapasitas 1.600 tenaga kuda. DEMU dilengkapi dengan 16 panel surya dan baterai cadangan di setiap gerbongnya, kereta akan menggantikan tenaga solar yang biasanya menggerakkan kereta tersebut.

Diketahui bahwa pada 2014 saja, Indian Railways menghabiskan 2,6 milyar liter solar, mencakup 70 persen total biaya bahan bakar. Pada permulaan, kereta akan dipasangi layanan energi ini pada jaringan transportasi dari pinggiran kota menuju ke New Delhi, yang merupakan salah satu kota dengan polusi tertinggi di dunia.

Sistem atap yang berenergi sinar matahari dikembangkan oleh Jakson Engineers, di bawah pengawasan Indian Railways Organisation for Alternate Fuels (IROAF). “Hal ini bukan pengerjaan mudah untuk menyesuaikan panel surya di atas atap dari gerbong kereta yang berjalan sepanjang 80 km per jam,” ungkap Sundeep Guta, direktur Jakson Engineer kepada Business Standard.

India Railways punya rencana ambisius untuk energi surya. Pada tahun 2020, jaringan transportasi yang dijalankan oleh pemerintah berencana menghasilkan 1.000 megawatt (MW) energi matahari, yang bisa ditingkatkan hingga 5.000 MW pada tahun 2025.

Pengerjaan proyek ini tak hanya signifikan bagi perkembangan kereta api, tetapi juga akan berdampak baik pada tujuan India dalam menggunakan energi terbarukan yang ramah lingkungan.

Anak Ini Ciptakan Ide Tanah Liat Jadi Bahan Baku Panel Surya

Ciptakan Ide Tanah Liat Jadi Bahan Baku Panel Surya – Selama ini tanah liat dikenal sebagai bahan baku pembuatan genting dan bata, namun bagi siswa Kelas XI IPA 6 SMA Taruna Nusantara Magelang, Bagas Pramana Putra Fadhila, tanah liat dimanfaatkan sebagai bahan baku panel surya.

Ciptakan Ide Tanah Liat Jadi Bahan Baku Panel Surya

Panel surya adalah perangkat rakitan sel-sel fotovoltaik yang mengonversi sinar matahari menjadi listrik. Dengan menggunakan bahan baku dari tanah liat ini, biayanya menjadi lebih murah.

Temuan spektakuler tersebut mengantarkan alumni SMP Negeri 8 Yogyakarta ini meraih juara dua dalam lomba “Pertamina Ide Gila Energy Competition 2017” pada April lalu.

Sebanyak 6.342 peserta dengan 1.464 ide kreaktif ikut dalam lomba ini dengan tema Ciptakan Ide Tanah Liat Jadi Bahan Baku Panel Surya. Bagas merupakan satu-satunya pelajar yang lolos dalam semifinal tersebut dan dia harus bersaing dengan para mahasiswa, akademisi/dosen, bahkan telah bergelar doktor.

Anak pertama pasangan Nafrizal dan Patmi Wiji Utami ini masuk dalam 10 finalis terdiri atas masing-masing kategori lima orang. Menurut Bagas, penelitian yang dilakukan terinspirasi waktu kecil sering main tamia dan kalau baterainya habis kemudian dijemur di bawah sinar matahari dan ternyata setelah dijemur bisa digunakan lagi.

Kemudian waktu di SMA ini dirinya menemukan suatu hukum yang menjelaskan tentang fenomena tersebut dan Indonesia merupakan negara khatulistiwa yang sinar mataharinya melimpah yang bisa dimanfaatkan sebagai panel surya yang biayanya saat ini masih cukup mahal.

Ia menuturkan tentang bagaimana membuat sel surya yang cocok dengan kondisi di Indonesia, maka dari itu ter ciptakan Ide Tanah Liat Jadi Bahan Baku Panel Surya tetapi harganya lebih murah dan dapat dibuat di dalam negeri.

Ia menjelaskan genting dibuat dengan ukuran 10×27 centimeter ada empat, kemudian ukuran 10×14 centimeter ada delapan. Genting tersebut ditata menyerupai panel surya dan dijemur agar terkena panas sinar matahari.

“Tanah liat yang dibentuk genting yang telah dilapisi lembengan tembaga tersebut kemudian dijemur seperti kerja panel surya, sedangkan di bawahnya diberikan replitor aluminium foil dan di atasnya ditutup dengan akrelik agar tidak terkena air hujan,” katanya.

Melalui hasil penelitiannya yang diberi nama Genteng Triko tersebut, biaya pembangkitan setiap 1 watt dengan biaya 2 dolar, sedangkan dengan sel surya setiap 1 watt membutuhkan biaya mencapai 10 dolar sehingga lebih hemat dan murah.

Pembimbingnya dalam penelitian tersebut, Amin Sukarjo, mengatakan Bagas merupakan anak yang ulet, tidak mudah menyerah, dan dia mau mengeksplorasi lebih dalam masing-masing bidang.

Menurut dia, nomor satu sebenarnya bukan keterampilan dan intelektualnya, tetapi lebih pada kepribadian dan karakternya agar mereka nanti setelah dewasa bisa berguna bagi bangsa dan negara.

Program Kementrian ESDM Lampu Tenaga Surya Hemat Energi LTSHE

LTSHE

Presiden Joko Widodo, Rabu (12/4),  telah menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor: 47 Tahun 2017 tentang Penyediaan Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE) bagi Masyarakat Yang Belum Mendapatkan Akses Listrik.

Perpres itu dikeluarkan dengan pertimbangan perlunya   percepatan untuk mendapatkan akses listrik melalui penyediaan lampu tenaga surya hemat energi.

“Penyediaan LTSHE ditujukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang belum tersambung dengan jaringan tenaga listrik di kawasan perbatasan, daerah tertinggal, daerah terisolir, dan pulau-pulau terluar melalui percepatan Penyediaan LTSHE,” bunyi Pasal 2 Perpres ini.

Penyediaan LTSHE , menurut Perpres ini, dilaksanakan oleh Pemerintah Pusat melalui pemberian LTSHE secara gratis kepada Penerima LTSHE, dan hanya dilakukan 1 kali untuk setiap Penerima LTSHE.

LTSHE
Program LTSHE

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)   bertanggung jawab atas pelaksanaan Penyediaan LTSHE.

Dalam rangka pelaksanaan Penyediaan LTSHE itu, Menteri ESDM  melakukan perencanaan wilayah pendistribusian dan pemasangan LTSHE setelah berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah; dan  pengadaan Badan Usaha pelaksana Penyediaan LTSHE sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pengadaan barang/jasa pemerintah.

Badan Usaha sebagai calon pelaksana Penyediaan LTSHE, menurut Perpres ini,  paling kurang memenuhi persyaratan:

1. Memiliki sarana dan fasilitas produksi LTSHE di dalam negeri

2. Mempunyai produk LTSHE yang telah digunakan di dalam dan luar negeri;  menyediakan layanan purna jual paling kurang 3  tahun dan

3. Menyediakan jaminan ketersediaan suku cadang LTSHE.

“Badan Usaha yang telah ditetapkan sebagai pelaksana Penyediaan LTSHE bertanggung jawab atas kelancaran pelaksanaan pengadaan, pendistribusian, pemasangan, dan pemeliharaan LTSHE. Sesuai dengan perjanjian kerja dengan Menteri atau pejabat yang diberi wewenang oleh Menteri,” bunyi Pasal 6 ayat (2) Perpres ini, seperti dikutip laman Sekretariat Kabinet.

“Penerima LTSHE wajib memelihara dan merawat LTSHE sesuai tujuan Penyediaan LTSHE sebagaimana dimaksud, dan dilarang memperjualbelikan dan/atau memindahtangankan kepada pihak lain sesuai perjanjian penyerahan LTSHE dengan Menteri atau pejabat yang diberi wewenang oleh Menteri,” bunyi Pasal 8. .

Perpres ini menugaskan kepada Menteri ESDM untuk melaporkan perkembangan pelaksanaan Penyediaan LTSHE kepada Presiden setiap 6 bulan sekali atau sewaktu-waktu apabila diperlukan.

Adapun pendanaan Penyediaan LTSHE, menurut Perpres ini, bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Bagian Anggaran Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

“Peraturan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan,” bunyi Pasal 13 Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2017, yang telah diundangkan oleh Menteri Hukum dan HAM Yasonna H. Laoly pada 13 April 2017 itu.

(rud)

Sumber : http://mindcommonline.com/

Pemerintah Akan Sediakan Lampu Tenaga Surya Bagi Masyarakat Yang Belum Dapat Akses Listrik

LTSHE Nawa Cita

Dengan pertimbangan bahwa pemenuhan terhadap energi khususnya jaringan tenaga listrik pada masyarakat yang tinggal di kawasan perbatasan, daerah tertinggal, daerah terisolir, dan pulau-pulau terluar masih belum merata, sehingga pemerintah memandang perlu percepatan untuk mendapatkan akses listrik melalui penyediaan lampu tenaga surya hemat energi.

Atas dasar pertimbangan tersebut, pada 12 April 2017, Presiden Joko Widodo telah menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor: 47 Tahun 2017 tentang Penyediaan Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE) bagi Masyarakat Yang Belum Mendapatkan Akses Listrik.

“Penyediaan LTSHE ditujukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang belum tersambung dengan jaringan tenaga listrik di kawasan perbatasan, daerah tertinggal, daerah terisolir, dan pulau-pulau terluar melalui percepatan Penyediaan LTSHE,” bunyi Pasal 2 Perpres ini.

Penyediaan LTSHE , menurut Perpres ini, dilaksanakan oleh Pemerintah Pusat melalui pemberian LTSHE secara gratis kepada Penerima LTSHE, dan hanya dilakukan 1 (satu) kali untuk setiap Penerima LTSHE.

Dalam rangka pelaksanaan Penyediaan LTSHE itu, Menteri melakukan: a. perencanaan wilayah pendistribusian dan pemasangan LTSHE setelah berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah; dan b. pengadaan Badan Usaha pelaksana Penyediaan LTSHE sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pengadaan barang/jasa pemerintah.

Badan Usaha sebagai calon pelaksana Penyediaan LTSHE, menurut Perpres ini,  paling kurang memenuhi persyaratan:

a. Memiliki sarana dan fasilitas produksi LTSHE di dalam negeri;

b. Mempunyai produk LTSHE yang telah digunakan di dalam dan luar negeri;

c. Menyediakan layanan purna jual paling kurang 3 (tiga) tahun; dan

d. Menyediakan jaminan ketersediaan suku cadang LTSHE.

“Badan Usaha yang telah ditetapkan sebagai pelaksana Penyediaan LTSHE bertanggung jawab atas kelancaran pelaksanaan pengadaan, pendistribusian, pemasangan dan pemeliharaan LTSHE sesuai dengan perjanjian kerja dengan Menteri atau pejabat yang diberi wewenang oleh Menteri,” bunyi Pasal 6 ayat (2) Perpres ini.

LTSHE Nawa Cita
LTSHE Nawa Cita

Bunyi Pasal 8 Perpres ini. “Penerima LTSHE wajib memelihara dan merawat LTSHE sesuai tujuan Penyediaan LTSHE sebagaimana dimaksud, dan dilarang memperjualbelikan dan/atau memindahtangankan kepada pihak lain sesuai perjanjian penyerahan LTSHE dengan Menteri atau pejabat yang diberi wewenang oleh Menteri,”

Perpres ini menugaskan kepada Menteri untuk melaporkan perkembangan pelaksanaan Penyediaan LTSHE kepada Presiden setiap 6 (enam) bulan sekali atau sewaktu-waktu apabila diperlukan.Adapun pendanaan Penyediaan LTSHE, menurut Perpres ini, bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Bagian Anggaran Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

“Peraturan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan,” bunyi Pasal 13 Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2017, yang telah diundangkan oleh Menteri Hukum dan HAM Yasonna H. Laoly pada 13 April 2017 itu.

(Pusdatin/ES)

Pakai Listrik Tenaga Surya, Bandara Ini Hemat Rp 15 Juta/Bulan

Bima – Bandara Sultan Muhammad Salahuddin di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), sekarang memiliki pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 200 KWp. Listrik dari PLTS ini mampu memenuhi 20 persen kebutuhan bandara.

Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Rida Mulyana, bersama Anggota Komisi VII DPR Kurtubi yang berasal dari Dapil NTB pagi ini meninjau PLTS yang akan diresmikan oleh Menteri ESDM Ignasius Jonan tersebut.

Bandara Sultan Muhammad Salahuddin
Bandara Sultan Muhammad Salahuddin

PLTS Bandara Bima yang terdiri dari 80 panel surya dibangun di atas tanah seluas 3.900 m2 milik Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dengan dana APBN 2016 sebesar Rp 7 miliar. Pembangunannya memakan waktu sekitar 8 bulan, rampung pada Desember 2016.

“Anggarannya Rp 7 miliar dari APBN 2016. Selesai pertengahan Desember 2016 kemarin. Tanahnya gratis dari Kemenhub. Dibangunnya dalam 8 bulan,” kata Rida Mulyana saat ditemui di Bima, Sabtu (29/4/2017).

Ia menerangkan, penggunaan sinar matahari sebagai sumber energi listrik tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca, sehingga ramah lingkungan. Maka pantaslah Bandara Sultan Muhammad Salahuddin disebut sebagai ‘bandara hijau’.

Dengan beroperasinya PLTS sejak awal 2017, Bandara Bima juga bisa menghemat biaya listrik hingga Rp 15 juta per bulan.

“Per bulan penghematannya Rp 15 juta, lumayan signifikan untuk bandara perintis. Jadi green tourism juga,” ucap Rida.

PLTS hanya membantu pemenuhan kebutuhan listrik bandara di siang hari karena tidak dilengkapi dengan baterai untuk penyimpanan daya. Tapi, menurut Rida, itu tidak masalah karena Bandara Bima hanya beroperasi sampai sore hari, tidak ada penerbangan dari dan ke Bima pada malam hari.

Ketika malam tiba, Bandara Bima hanya butuh listrik untuk lampu penerangan saja. “Ini untuk 20 persen kebutuhan listrik bandara. Enggak ada baterainya, jadi untuk siang aja. Bandara enggak operasi malam hari, jadi (PLTS) enggak perlu pakai baterai untuk malam hari,” tukasnya.

Kementerian ESDM yang membangunnya, lalu PLTS menjadi aset Kemenhub. Kemenhub sebagai pengelola Bandara Sultan Muhammad Salahuddin selanjutnya bertanggung jawab untuk melakukan pemeliharaan PLTS.

Rida berpesan kepada pengelola bandara merawat dengan baik supaya dana APBN tak terbuang sia-sia. Misalnya dengan membersihkan panel surya secara rutin. “Tolong dibersihkan biar maksimal penyerapan sinar mataharinya,” ujar dia.

Pada kesempatan yang sama, anggota Komisi VII DPR, Kurtubi, menyatakan DPR mendukung pengembangan energi baru terbarukan (EBT), termasuk tenaga surya, untuk menekan emisi karbon. Apalagi Indonesia sudah menandatangani kesepakatan COP 21 di Paris tahun 2015.

“Kita sudah tanda tangan Paris Agreement untuk mengurangi emisi. Kita harus kurangi energi fosil, dorong EBT. Salah satunya energi dari surya,” tutupnya.

sumber : detik.com (mca/hns)

Pedoman Kebijakan Energi Nasional

Pedoman ke arah pengelolaan energi nasional hingga tahun 2050 dalam rangka mewujudkan kemandirian energi dan ketahanan energi dengan tujuan mendukung pembangunan nasional berkelanjutan telah digariskan oleh pemerintah melalui Peraturan Pemerintah No. 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional.

Kemandirian Energi sebagaimana dimaksud oleh PP No.79 Tahun 2014 itu adalah terjaminnya ketersediaan energi dengan memanfaatkan semaksimal mungkin potensi dari sumber dalam negeri. Sedangkan ketahanan Energi diartikan sebagai suatu kondisi terjaminnya ketersediaan energi dan akses masyarakat terhadap energi pada harga yang terjangkau dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan perlindungan terhadap lingkungan hidup.

Untuk pencapaian ke arah tujuan tersebut kemandirian energi dan ketahanan energi tersebut, PP No.79 Tahun 2014 mendorong beroperasinya sebuah paradigma berpikir bahwa sumber energi bukanlah sekedar komoditas ekspor, melainkan sebagai sesuatu yang amat vital, yakni modal pembangunan nasional. Kemudian, kemandirian dalam hal pengelolaan energi pun harus benar-benar terwujud, sambil terus memastikan ketersediaan energi dan terpenuhinya kebutuhan sumber energi di dalam negeri.

Selain itu, PP No.79 Tahun 2014 itu pun mendorong sumber daya energi harus dikelola secara optimal, terpadu, dan berkelanjutan, melalui pemanfaatan energi secara efisien di semua sektor. Harus pula dipastikan keadilan dan pemerataan akses masyarakat terhadap energi tersebut.

Sambil terus-menerus dikembangan kemampuan teknologi, industri energi, dan jasa energi dalam negeri agar mandiri, dan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di bidang energi dan terciptanya lapangan kerja. Dan yang juga paling penting dari seluruh upaya itu adalah terjaganya kelestarian fungsi lingkungan hidup.

Pedoman Kebijakan Energi Nasional, PLTS
Pedoman Kebijakan Energi Nasional

Bagaimanapun target-target penyediaan dan pemanfaatan energi, baik itu energi primer maupun energi final, hingga tahun 2050 nanti, harus benar-benar digenjot semaksimal mungkin ke arah pencapaiannya. Sebagaimana diketahui, target-target itu sebagaimana tertuang dalam PP No 79 Tahun 2014 meliputi:

– Pada tahun 2025 terpenuhi penyediaan energi primer sebesar sekitar 400 MTOE (empat ratus million tonnes of oil equivalent), dan pada tahun 2050 sekitar 1.000 MTOE (seribu million tonnes of oil equivalent).

– Pada tahun 2025 tercapainya pemanfaatan energi primer per kapita sekitar 1,4 TOE (satu koma empat tonnes of oil equivalent), dan pada tahun 2050 sekitar 3,2 TOE (tiga koma dua tonnes of oil equivalent).

– Pada tahun 2015 terpenuhinya penyediaan kapasitas pembangkit listrik sekitar 115 GW (seratus lima belas giga watt), dan pada tahun 2050 sekitar 430 GW (empat ratus tiga puluh giga watt); dan

– Pada tahun 2025 tercapainya pemanfaatan listrik per kapita sekitar 2.500 KWh (dua ribu lima ratus kilo watt hours); dan pada tahun 2050 sekitar 7.000 KWh (tujuh ribu kilo watt hours).

Untuk memenuhi pencapaian target-target di atas maka harus ditopang pula oleh pencapaian sasaran kebijakan energi nasional, diantaranya:

  1. Terwujudnya paradigma baru bahwa “sumber energi merupakan modal pembangunan nasional”.
  2. Tercapainya elastisitas energi (perbandingan antara laju pertumbuhan kebutuhan energi terhadap laju pertumbuhan ekonomi) lebih kecil dari satu pada tahun 2025 yang diselaraskan dengan target pertumbuhan ekonomi.
  3. Tercapainya penurunan intensitas energi (jumlah total konsumsi energi per unit produk domestik bruto) final sebesar 1% per tahun sampai dengan tahun 2025.
  4. Tercapainya rasio elektrifikasi (perbandingan jumlah rumah tangga berlistrik dengan jumlah rumah tangga total) sebesar 85% (delapan puluh lima persen) pada tahun 2015 dan mendekati sebesar 100% (seratus persen) pada tahun 2020.
  5. Tercapainya rasio penggunaan gas rumah tangga pada tahun 2015 sebesar 85% (delapan puluh lima persen).
  6. Tercapainya bauran energi primer (energi yang diberikan oleh alam dan belum mengalami proses pengolahan lebih lanjut) yang optimal, dimana:

–    Pada tahun 2025, peran energi baru dan energi terbarukan paling sedikit 23% dan pada tahun 2050 paling sedikit 31% sepanjang keekonomiannya terpenuhi.

–    Pada tahun 2025, peran minyak bumi kurang dari 25% dan pada tahun 2050 menjadi kurang  20%.

–    Pada tahun 2025, peran batubara minimal 30% (tiga puluh persen), dan pada tahun 2050 minimal 25% (dua puluh lima persen).

–    Pada tahun 2025, peran gas bumi minimal 22% dan pada tahun 2050  minimal 24%.

Pedoman Kebijakan Energi Nasional

Lantas apakah tujuan, target-target, dan sasaran-sasaran dari kebijakan energi nasional tersebut akan tercapai?

Tentu saja semua itu berpulang pada komitmen kuat pemerintah untuk melaksanakan dan mewujudkannya. Dan para anggota legislatif serta seluruh rakyat Indonesia untuk mengawasinya dengan seksama! (red-gdm)

 

 

Energi Surya dan Pemanfaatannya dalam Kehidupan

Energi Baru Terbarukan (EBT) yang akan senantiasa ada sepanjang kehidupan manusia, salah satunya adalah energi surya (matahari).  Memanfaatkan berlakunya hukum kodrati kekekalan energi, energi surya dapat dirubah menjadi energi listrik yang kemudian bisa dimanfaatkan sesuai keperluan manusia sebagai pengguna. Baik itu untuk kebutuhan memanaskan, mendinginkan, menggerakkan, menerangi, dan sebagainya.

Pada listrik yang berasal dari cahaya matahari dinamakan photovoltaic (photo berarti cahaya, dan voltaic berarti tegangan). Dengan menggunakan bahan semi konduktor— seperti silikon yang banyak digunakan— yang paling tidak terdiri dua lapisan semi kondukstor. Satu bermuatan positif, dan satunya lagi bermuatan negatif. Tenaga matahari menghasilkan sumber energi melalui cahaya dan panasnya.

off grid

Kuatnya aliran listrik tersebut akan ditentukan oleh seberapa kuat kuat cahaya yang mengenai semi konduktor.

Namun sebenarnya pada sistem photovoltaic tak terlalu butuh cahaya matahari yang terang. Saat cuaca mendung pun masih dapat membangkitkan listrik, dengan energi keluar yang sebanding berat jenis awan.

Kalkulator tenaga matahari yang sudah lama dikenal oleh masyarakat merupakan contoh aplikasi sederhana penggunaan sistim photovoltaic. Selain itu lampu penerangan jalan (PJU) di beberapa ruas tol di Pulau Jawa dan juga penyediaan listrik di daerah-daerah di pelosok nusantara yang belum dialiri aliran pembangkit listrik, juga menggunakan sistim sistim photovoltaic ini.

Selain itu kini telah dikembangkan pula beberapa produk yang menggunakan sistim photovoltaic ini, seperti:

  • Kulkas atau pendingin digunakan untuk kepentingan kemanusiaan di daerah – daerah terpencil yang tidak dialiri listrik sebagai contoh membantu penyediaan vaksin
  • Sebagai atap rumah rumah fungsional penghasil dan penyimpan energi listrik yang menggantikan atap rumah konvensional

 

Panas yang dihasilkan itu dipakai untuk menghasilkan tekanan uap panas yang tinggi untuk menjalankan turbin penghasil listrik.

Produk-produk teknologi panas matahari terus dikembangkan. Pada teknologi pengumpul panas matahari yang diaplikasikan di atas atap rumah, selain mampu membuat ruangan di rumah menjadi hangat pada saat musim dingin, juga mampu menyediakan air panas kebutuhan rumah tangga dan menghangatkan kolam renang. Bisa juga untuk membantu kebutuhan proses pemanasan dalam sebuah industri dan memproses air menjadi tawar.

Selain itu sumber panas matahari dapat digunakan untuk menghasilkan dingin dan untuk mengurangi kelembaban udara dengan cara yang sama seperti kulkas atau air conditioner konvensional. Penggunaan dalam skala massif pendingin tenaga matahari oleh penduduk di dunia akan berlangsung di masa depan, seiring dengan suksesnya produk ini didemontrasikan dan tentunya seiring dengan akan terus efisiennya biaya produksi teknologi ini. (red-gdm)