Kajian Investasi Pabrikasi Sel Surya di Indonesia

Keekonomian pabrikasi sel surya di Indonesia dilakukan dengan memperhitungkan faktor ketersediaan pasokan wafer silikon sebagai bahan baku utama, kapasitas produksi optimum, potensi pasar, faktor biaya, serta dampak dan manfaat yang dapat dihasilkan dari proyek pembangunan pabrik sel surya.

Contoh skema insentif untuk membangun pasar dalam negeri Kajian Investasi Pabrikasi Sel Surya di Indonesia :

1. Subsidi

Subsidi dapat diberikan langsung kepada produsen sel surya atau pembuat perangkat pendukung Balance of System (BOS) agar harga sel surya beserta BOS dapat terjangkau oleh masyarakat.

Penerapan subsidi akan lebih efektif jika di Indonesia terdapat industri sel surya, baik pembuatan, perakitan, maupun industri BOS.
Untuk rural electrification, pemerintah dapat memberikan subsidi bagi daerah atau desa yang menerima bantuan sel surya dengan hanya membebani masyarakat pedesaan dengan tariff listrik yang jauh di bawah normal (jangan gratis)

2. Feed-in tariff

Feed-in tariff ialah harga yang dibayarkan oleh perusahaan listrik negara ketika membeli listrik dari pembangkit listrik jenis energi terbarukan dengan harga yang ditetapkan oleh pemerintah setempat. Feed-in tariff ini merupakan insentif lain yang bertujuan untuk meningkatkan pemakaian listrik yang bersumber dari energi terbarukan, salah satunya sel surya.

Adanya infrastruktur yang memungkinkan masyarakat pengguna sel surya untuk menjualnya ke perusahaan listrik semisal PLN. Rumah dengan konsep BIPV diberikan koneksi ke jaringan listrik setempat, bukan untuk mengambil listrik dari PLN melainkan untuk mengalirkan (atau “menjual”) listriknya ke PLN.

3. Pemberian kredit

Program kredit sel surya disertai dengan program feed-in tariff, sehingga waktu pelunasan kredit terbantukan dengan adanya pemasukan dari penjualan listrik dari rumah ke perusaaan listrik.
Metode analisa biaya

Cara yang dilakukan untuk menilai kelayakan finansial pembangunan pabrik sel surya dilakukan dengan menggunakan metode “ discount cash flow “ secara konvensional, yaitu dengan penentuan Internal Rate of Return (IRR), Net Present Value (NPV), dan Payback Period.

Pabrikasi Sel Surya di Indonesia

Asumsi dan kondisi dasar perhitungan

Asumsi dan kondisi dasar perhitungan menyangkut faktor kapasitas produksi, biaya investasi awal, kebutuhan bahan pembantu, kebutuhan tenaga listrik, kebutuhan tenaga kerja, kebutuhan perbaikan dan perawatan mesin, harga pokok produksi (HPP), dan proyeksi penjualan.

Hasil perhitungan dan analisa biaya

Dari hasil perhitungan biaya diketahui bahwa untuk membangun pabrik sel surya polikristal silikon dengan kapasitas 25 MWp/tahun membutuhkan investasi sebesar Rp.670 miliar.

Perhitungan Profitabilitas Proyek (dalam rupiah)

Hasil analisis biaya dengan semua asumsi yang berlaku menunjukkan: IRR = 17,18%, NPV = 63,037,225,027, Payback Period = 7 tahun. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa investasi pembangunan pabrik sel surya secara finansial layak dengan mempertimbangkan bahwa berbagai asumsi dan kondisi sewaktu studi ini disusun tidak berubah.

Dengan kapasitas produksi sel surya sebesar 25 MWp/tahun, industri sel surya akan dapat memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri (dengan asumsi penguasaan pasar adalah 50%). Untuk kapasitas produksi ini dibutuhkan pasokan bahan baku (wafer polikristal silikon) minimal 12,016,342 lembar/tahun.

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA (PLTS)

Sejarah pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) tidak terlepas dari penemuan teknologi sel surya berbasis silikon pada tahun 1941. Ketika itu Russell Ohl dari Bell Laboratory mengamati silikon polikristalin akan membentuk buit in junction, karena adanya efek segregasi pengotor yang terdapat pada leburan silikon.

Jika berkas foton mengenai salah satu sisi junction, maka akan terbentuk beda potensial di antara junction, dimana elektron dapat mengalir bebas. Sejak itu penelitian untuk meningkatkan efisiensi konversi energi foton menjadi energi listrik semakin intensif dilakukan. Berbagai tipe sel surya dengan beraneka bahan dan konfigurasi geometri pun berhasil dibuat.

 Prinsip Kerja Sel Surya pada pembangkit listrik tenaga surya

Sel surya adalah dioda semikonduktor yang dapat mengubah cahaya menjadi listrik dan merupakan komponen utama dalam sistem PLTS.

pembangkit listrik tenaga surya

Selain terdiri atas modul-modul sel surya, komponen lain dalam sistem PLTS adalah Balance of System (BOS) berupa inverter dan kontroller. PLTS sering dilengkapi dengan batere sebagai penyimpan daya, sehingga PLTS dapat tetap memasok daya listrik ketika tidak ada cahaya matahari.

Pembangkitan energi listrik pada sel surya terjadi berdasarkan efek fotolistrik, atau disebut juga efek fotovoltaik, yaitu efek yang terjadi akibat foton dengan panjang gelombang tertentu yang jika energinya lebih besar daripada energi ambang semikonduktor, maka akan diserap oleh elektron sehingga elektron berpindah dari pita valensi (N) menuju pita konduksi (P) dan meninggalkan hole pada pita valensi, selanjutnya dua buah muatan, yaitu pasangan elektron-hole, dibangkitkan. Aliran elektron-hole yang terjadi apabila dihubungkan ke beban listrik melalui penghantar akan menghasilkan arus listrik.

Tipe Sel Surya pada pembangkit listrik tenaga surya

Ditinjau dari konsep struktur kristal bahannya, terdapat tiga tipe utama sel surya, yaitu sel surya berbahan dasar monokristalin, poli (multi) kristalin, dan amorf. Ketiga tipe ini telah dikembangkan dengan berbagai macam variasi bahan, misalnya silikon, CIGS, dan CdTe.

Berdasakan kronologis perkembangannya, sel surya dibedakan menjadi sel surya generasi pertama, kedua, dan ketiga. Generasi pertama dicirikan dengan pemanfaatan wafer silikon sebagai struktur dasar sel surya; generasi kedua memanfaatkan teknologi deposisi bahan untuk menghasilkan lapisan tipis (thin film) yang dapat berperilaku sebagai sel surya; dan generasi ketiga dicirikan oleh pemanfaatan teknologi bandgap engineering untuk menghasilkan sel surya berefisiensi tinggi dengan konsep tandem atau multiple stackes.

Kebanyakan sel surya yang diproduksi adalah sel surya generasi pertama, yakni sekitar 90% (2008). Di masa depan, generasi kedua akan makin populer, dan kelak akan mendapatkan pangsa pasar yang makin besar. European Photovoltaic Industry Association (EPIA) memperkirakan pangsa pasar thin film akan mencapai 20% pada tahun 2010. Sel surya generasi ketiga hingga saat ini masih dalam tahap riset dan pengembangan, belum mampu bersaing dalam skala komersial.

Biaya pemasangan panel surya sebagai pembangkit listrik kian terjangkau

Peluang Investasi Listrik Tenaga Surya US$ 57,5 M

Biaya pemasangan panel surya sebagai pembangkit listrik kian terjangkau – Tren gaya hidup ramah lingkungan kini tidak hanya di adaptasi oleh para pemerhati lingkungan. Masyarakat umum kini mulai terbuka untuk meminimalisir dampak dari pemanasan global.

Hal ini mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di dalam rumah. Salah satu yang menarik untuk disorot adalah pemasangan panel surya untuk tenaga listrik menggantikan tenaga batu bara (PLN).

Sebagai negara tropis yang kaya akan cahaya matahari, Indonesia mestinya bisa memanfaatkan energi alam yang satu ini. Anda memang perlu hitung-hitungan yang rinci apakah tenaga surya panel ini bisa lebih irit dibanding menggunakan listrik PLN.

Biaya pemasangan panel surya sebagai pembangkit listrik kian terjangkau

Biaya pemasangan panel surya sebagai pembangkit listrik kian terjangkau

Namun melihat biaya pengembangan energi sinar matahari yang lebih murah dan manfaat investasi energi di masa depan, mengapa tidak mulai mencobanya?

Saat ini, pemasangan surya panel terbilang irit karena tidak membutuhkan lahan yang terlalu luas untuk memproduksi listrik. Umumnya, satu rumah dapat menyerap asupan energi panas matahari dengan panel surya berukutan kurang dari 10 meter persegi.

Panel tersebut diinstal pada atap rumah yang kemudian disimpan dalam aki. Nantinya tenaga yang tersimpan di aki ini akan digunakan untuk menyalakan alat elektronik seperti lampu dan lain sebagainya. Saat ini juga ada solar cell roof top berukuran 1 meter persegi yang dapat menghasilkan listrik sekitar 100 Watt setiap hari‎. Harganya dibanderol mulai dari Rp 2 juta.

Seiring perkembangan teknologi, biaya pemasangan panel surya sebagai pembangkit listrik kian terjangkau. Beberapa perusahaan penyedia panel surya bahkan ada yang menawarkan promo biaya pemasangan panel surya secara gratis, seperti yang disediakan Global Energy.

Tidak ada lokasi khusus untuk syarat pemasangan panel surya. Yang penting atap rumah tidak tertutup oleh pohon dan cukup gedung tinggi. Karena itu akan berpengaruh kepada penyerapan cahaya matahari.

Diharapkan, panel surya bisa menjadi solusi hemat energi bagi rumah-rumah di Indonesia, termasuk rumah murah, agar pengeluaran penghuninya untuk energi listrik bisa semakin ditekan.

Peletakan batu pertama pembangunan smart grid system

Pedoman Kebijakan Energi Nasional, PLTS

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral melalui Ditjen Litbang ESDM, meletakkan batu pertama pembangunan smart grid system, solar on grid (energi matahari) di kantor Gubernur Bali.

Untuk merealisasikan proyek yang dianggap ramah lingkungan ini, anggaran yang dihabiskan mencapai Rp 15 miliar.

Sekretaris Balitbang Kementerian ESDM, Wawan Supriatna mengatakan, Bali menjadi centre of excellent (pusat energi) untuk energi terbarukan.Sistem solar on grid ini merupakan yang pertama dipasang di Provinsi Bali dibandingkan Provinsi lainnya di Indonesia.

“Dengan kebijakan yang sudah ditentukan kementerian sebagai Bali Energi Bersih kita mulai susun penggunaan smart grid sistem di kantor Gubernur Bali ini,” jelasnya selepas peletakan batu pertama di halaman lapangan tenis Kantor Gubernur Bali, Jumat (16/9/2016).

Sebetulnya pihaknya mengajukan anggaran Rp 35 miliar untuk bisa memenuhi seluruh kebutuhan listrik di Kantor Gubernur Bali.

Tetapi karena ada pemotongan anggaran di pemerintah pusat, maka terkena dampaknya ke solar on grid di Bali yang dianggarkan sebesar Rp 17 miliar.
“Itu awalnya anggarannya Rp 35 miliar tetapi setelah pemotongan anggaran menjadi Rp 17 miliar, setelah tender biaya untuk smart grid system Rp 15 miliar untuk di sini (kantor Gubernur Bali), saja,” jelasnya.

Nantinya akan dipasang 24 tiang pancang yang akan berisikan 624 grid solar cell di lahan seluas 1.400 meter2 halaman tenis Pemprov Bali.

Adapun tinggi tiang pancang itu 15 meter dengan grid (paneL surya persegi) berukuran 2,5 meter x 1,5 meter.

meletakkan batu pertama pembangunan smart grid system

Ia mengatakan bahwa dari energi yang diserap solar cell dari matahari ini memiliki batterai cadangan yang mampu mengalirkan energi listrik selama 25 sampai 30 menit.

“Nanti tempatnya mirip tenda, tiang-tiangnya di pinggir, grid-nya menutupi lapangan. Untuk perawatannya hanya dibersihkan dan disiram sebulan sekali memakai air. Nanti disemprot saja, jadi nanti kita buatkan instalasi untuk menyiram panel suryanya, tinggal Pemprov Bali menyediakan air saja,” jelasnya.

Pembagunan solar on grid ini ( meletakkan batu pertama pembangunan smart grid system) akan terselesikan di bulan Desember 2016. Panel smart solar on grid ini akan diletakkan di sebelah ruangan Gubernur Bali, Made Mangku Pastika.

Dan gedung Penelitian dan Pengembangan Kementerian ESDM ini akan bertempat di sebelah rumah jabatan Gubernur Bali, di Jalan M Yamin, Denpasar.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika menyambut baik pembangunan solar on grid ini. Hal ini karena merupakan visi dan misi Bali Mandara menjadi Bali yang clean and green province.

“Ini kan gayung bersambut, dari dahulu kita ingin membuat (energi terbarukan) dari Bali Mandara Jilid I (tahun 2008) pun kita sudah memiliki visi Bali Green Province. Terdiri dari green culture, green economy, dan green regulation.

Sekarang green economy, energi-nya harus energi baru terbarukan. Supaya kita tidak lagi memakai Disel itu, apalagi energi lain yang lebih kotor misalnya batu bara,” jelasnya.
Ia berencana membuat perda yang mengharuskan perusahaan, kantor pemerintahan, untuk menggunakan energi terbarukan.
Ini sebagai upaya membangun Bali clean dan green Province.

“Untuk Perda di negara-negara lain seperti Jerman di Eropa itu kan miskin sinar surya, tidak seperti kita. Di sana ada peraturan pemerintah bahwa pabrik & perusahaan, atau kantor pemerintah, harus menggunakan sekurang-kurangnya 8% energi terbarukan dari seluruh keperluan mereka. Untuk rumah pribadi gak diharuskan, jadi kalau kita bisa begitu alangkah bagusnya. Ini sekarang sedang dikaji sama Pak Sekda dan Kadis PU,” jelas mantan Kapolda Bali ini.

meletakkan batu pertama pembangunan smart grid system

Potensi Industri Panel Surya Di Indonesia

Indonesia memiliki kekayaan alam pasir silika, yang menjadi incaran negara-negara maju yang sedang gencar mengembangkan industri panel surya (solar energy).

Seperti diketahui, pasir silika merupakan bahan baku pembuat lempengan sel panel surya. Oleh sebab itu, seyogyanya Indonesia bisa mengembangkan panel surya sebagai alternatif energi di masa mendatang.

Panel Surya
Tambang Pasir Silika Untuk Industri Panel Surya

Kebutuhan pembangkit listrik di Indonesia saat ini cukup banyak, seiring pertumbuhan konsumsi produk elektronik di masyarakat yang semakin tinggi. Kebutuhan energi dalam negeri akan bertambah hingga 55 ribu megawatt dalam waktu belasan tahun ke depan. Termasuk untuk memenuhi kebutuhan 70 juta masyarakat Indonesia yang saat ini belum mendapatkan listrik.

Potensi Pasir Silika untuk Industri Panel Surya

Untuk itu, masyarakat dapat memanfaatkan pasokan listrik melalui energi surya tersebut. Indonesia memiliki pertambangan pasir silika. Pasir silika jika dicairkan dan dimurnikan akan menjadi wafer. Wafer tersebut kemudian akan menjadi solar panel. Solar panel itu dibikin melalui solar sistem. Solar sistem ini yang menjadi kebutuhan industri pembangkit listrik tenaga surya.

Potensi pengembangan solar energy di Indonesia mencapai 175 MW di 2020. Sedangkan dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) ‘ dicanangkan pengembangan solar energy hingga 80 MW sampai 2020.

Guna mencapai target tersebut, Indonesia perlu memiliki industri hulu sendiri di bidang Panel surya. Dengan memiliki industri hulu sendiri, maka Indonesia akan dapat meningkatkan daya saing dan kemandiriannya, dalam pemenuhan energi listrik. Hadirnya industri hulu solar energi di dalam negeri, akan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor sel surya.

Manfaat lainnya, dengan hadirnya industri hulu panel surya di dalam negeri, akan menyerap tenaga kerja baru di bidang industri fotovoltaik. Juga membuka peluang terbangunnya industri hulu pengolahan pasir kuarsa atau silikon, dengan adanya kebutuhan terhadap bahan baku sel surya.

Kedepannya, dengan kebutuhan permintaan yang cukup besar. Tidak menutup kemungkinan Indonesia dapat menjadi pemasok sel surya di kawasan Asia Tenggara dan Dunia secara umum. karena pengembangan potensi panel surya masih akan sangat besar di masa akan datang.