Pedoman Kebijakan Energi Nasional

Pedoman ke arah pengelolaan energi nasional hingga tahun 2050 dalam rangka mewujudkan kemandirian energi dan ketahanan energi dengan tujuan mendukung pembangunan nasional berkelanjutan telah digariskan oleh pemerintah melalui Peraturan Pemerintah No. 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional.

Kemandirian Energi sebagaimana dimaksud oleh PP No.79 Tahun 2014 itu adalah terjaminnya ketersediaan energi dengan memanfaatkan semaksimal mungkin potensi dari sumber dalam negeri. Sedangkan ketahanan Energi diartikan sebagai suatu kondisi terjaminnya ketersediaan energi dan akses masyarakat terhadap energi pada harga yang terjangkau dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan perlindungan terhadap lingkungan hidup.

Untuk pencapaian ke arah tujuan tersebut kemandirian energi dan ketahanan energi tersebut, PP No.79 Tahun 2014 mendorong beroperasinya sebuah paradigma berpikir bahwa sumber energi bukanlah sekedar komoditas ekspor, melainkan sebagai sesuatu yang amat vital, yakni modal pembangunan nasional. Kemudian, kemandirian dalam hal pengelolaan energi pun harus benar-benar terwujud, sambil terus memastikan ketersediaan energi dan terpenuhinya kebutuhan sumber energi di dalam negeri.

Selain itu, PP No.79 Tahun 2014 itu pun mendorong sumber daya energi harus dikelola secara optimal, terpadu, dan berkelanjutan, melalui pemanfaatan energi secara efisien di semua sektor. Harus pula dipastikan keadilan dan pemerataan akses masyarakat terhadap energi tersebut.

Sambil terus-menerus dikembangan kemampuan teknologi, industri energi, dan jasa energi dalam negeri agar mandiri, dan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di bidang energi dan terciptanya lapangan kerja. Dan yang juga paling penting dari seluruh upaya itu adalah terjaganya kelestarian fungsi lingkungan hidup.

Pedoman Kebijakan Energi Nasional, PLTS
Pedoman Kebijakan Energi Nasional

Bagaimanapun target-target penyediaan dan pemanfaatan energi, baik itu energi primer maupun energi final, hingga tahun 2050 nanti, harus benar-benar digenjot semaksimal mungkin ke arah pencapaiannya. Sebagaimana diketahui, target-target itu sebagaimana tertuang dalam PP No 79 Tahun 2014 meliputi:

– Pada tahun 2025 terpenuhi penyediaan energi primer sebesar sekitar 400 MTOE (empat ratus million tonnes of oil equivalent), dan pada tahun 2050 sekitar 1.000 MTOE (seribu million tonnes of oil equivalent).

– Pada tahun 2025 tercapainya pemanfaatan energi primer per kapita sekitar 1,4 TOE (satu koma empat tonnes of oil equivalent), dan pada tahun 2050 sekitar 3,2 TOE (tiga koma dua tonnes of oil equivalent).

– Pada tahun 2015 terpenuhinya penyediaan kapasitas pembangkit listrik sekitar 115 GW (seratus lima belas giga watt), dan pada tahun 2050 sekitar 430 GW (empat ratus tiga puluh giga watt); dan

– Pada tahun 2025 tercapainya pemanfaatan listrik per kapita sekitar 2.500 KWh (dua ribu lima ratus kilo watt hours); dan pada tahun 2050 sekitar 7.000 KWh (tujuh ribu kilo watt hours).

Untuk memenuhi pencapaian target-target di atas maka harus ditopang pula oleh pencapaian sasaran kebijakan energi nasional, diantaranya:

  1. Terwujudnya paradigma baru bahwa “sumber energi merupakan modal pembangunan nasional”.
  2. Tercapainya elastisitas energi (perbandingan antara laju pertumbuhan kebutuhan energi terhadap laju pertumbuhan ekonomi) lebih kecil dari satu pada tahun 2025 yang diselaraskan dengan target pertumbuhan ekonomi.
  3. Tercapainya penurunan intensitas energi (jumlah total konsumsi energi per unit produk domestik bruto) final sebesar 1% per tahun sampai dengan tahun 2025.
  4. Tercapainya rasio elektrifikasi (perbandingan jumlah rumah tangga berlistrik dengan jumlah rumah tangga total) sebesar 85% (delapan puluh lima persen) pada tahun 2015 dan mendekati sebesar 100% (seratus persen) pada tahun 2020.
  5. Tercapainya rasio penggunaan gas rumah tangga pada tahun 2015 sebesar 85% (delapan puluh lima persen).
  6. Tercapainya bauran energi primer (energi yang diberikan oleh alam dan belum mengalami proses pengolahan lebih lanjut) yang optimal, dimana:

–    Pada tahun 2025, peran energi baru dan energi terbarukan paling sedikit 23% dan pada tahun 2050 paling sedikit 31% sepanjang keekonomiannya terpenuhi.

–    Pada tahun 2025, peran minyak bumi kurang dari 25% dan pada tahun 2050 menjadi kurang  20%.

–    Pada tahun 2025, peran batubara minimal 30% (tiga puluh persen), dan pada tahun 2050 minimal 25% (dua puluh lima persen).

–    Pada tahun 2025, peran gas bumi minimal 22% dan pada tahun 2050  minimal 24%.

Pedoman Kebijakan Energi Nasional

Lantas apakah tujuan, target-target, dan sasaran-sasaran dari kebijakan energi nasional tersebut akan tercapai?

Tentu saja semua itu berpulang pada komitmen kuat pemerintah untuk melaksanakan dan mewujudkannya. Dan para anggota legislatif serta seluruh rakyat Indonesia untuk mengawasinya dengan seksama! (red-gdm)

 

 

Sudahkan Permen ESDM No.12 Tahun 2017 Berpihak Pada Pengembangan EBT ?

Sudahkan Permen ESDM No.12 Tahun 2017 Berpihak Pada Pengembangan EBT ?

Sumber Energi Terbarukan, yang sepertinya terus didorong perkembangannya oleh pemerintah seiring langkah-langkah percepatan untuk pencapaian kemandirian energi dan ketahanan energi sebagaimana telah digariskan dalam Kebijakan Energi Nasional, meliputi sinar matahari, angin, tenaga air, biomassa,biogas, sampah kota dan panas bumi.

Kemudian sebagai pedoman dalam melakukan pembelian tenaga listrik dari pembangkit listrik yang memanfaatkan Sumber Energi terbarukan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral telah menerbitkan Peraturan Menteri ESDM No. 12 Tahun 2017 tentang Pemanfaatan Energi Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik.

Peraturan Menteri (permen) ESDM itu mendorong kewajiban PT PLN (Persero) untuk membeli tenaga listrik dari pembangkit tenaga listrik yang memanfaatkan Sumber Energi Terbarukan, dalam rangka penyediaan tenaga listrik yang berkelanjutan. Dan penyediaan tenaga listrik itu dari Sumber Energi Terbarukan itu harus tetap mengacu pada Kebijakan Energi Nasional dan Rencana Umum Ketenagalistrikan.

Pengaturan pembelian oleh PT PLN (Persero) adalah melalui sistim feed-in tarif untuk energi baru terbarukan (EBT) yang didasarkan pada biaya pokok produksi (BPP) di daerah beroperasinya pembangkit listrik tersebut.

Patokan harga pembelian listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Fotovoltaik oleh PT PLN (Persero) adalah sebesar 85 persen dari BPP (Biaya Pokok Produksi) di daerah tempat pembangkit listrik tersebut. Demikian juga dengan patokan harga pembelian Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB), Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTB), dan Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) memiliki ketentuan yang sama, yaknu 85 persen dari BPP daerah setempat.

Sedangkan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) dan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB), harga patokannya berbeda, yakni maksimum 100 persen dari BPP setempat.

Dalam hal BPP setempat ternyata di atas rata-rata BPP nasional, maka harga pembelian tenaga listrik paling tinggi sebesar 85 persen dari BPP setempat. Dan khusus PLTSa dan PLTPB paling tinggi sebesar BPP setempat.

Namun jika dalam hal BPP setempat sama atau di bawah rata-rata BPP nasional, maka harga pembeliannya sebesar sama dengan BPP setempat. Dan khusus PLTSa dan PLTPB ditetapkan berdasarkan kesepakatan para pihak.

Sudahkan Permen ESDM No.12 Tahun 2017 Berpihak Pada Pengembangan EBT ?
Sudahkan Permen ESDM No.12 Tahun 2017 Berpihak Pada Pengembangan EBT ?

Contoh konkretnya seperti ini. Misalkan sebuah PLTS dibangun di daerah Maluku yang BPP-nya mencapai Rp 2.900/kWh. Maka pengembang PLTS itu bisa menjual listrik ke PLN dengan harga sekitar Rp 2.465/kWh. Namun untuk daerah lain yang lebih efisien, BPP hanya Rp 1.800/kWh, maka harga maksimal yang bisa didapat pengembang Rp 1.530/kWh.

Untuk daerah yang memiliki BPP sangat rendah, misalnya di Pulau Jawa yang hanya sekitar Rp 900/kWh, haruskah listrik dari PLTS dijual lebih rendah dari harga itu?

Bagi PLTS di lokasi yang memiliki rata-rata BPP lebih rendah dari BPP nasional, misalnya di Jawa yang hanya sekitar Rp 900/kWh, maka tarif maksimalnya sama dengan BPP secara nasional. Sebagai gambaran, saat ini BPP secara nasional sekitar Rp 1.400/kWh, maka harga listrik PLTS di Jawa bisa mencapai angka itu.

Dengan begitu, tarif listrik PLTS paling rendah dengan BPP saat ini adalah Rp 1.400/kWh. Tapi bukan berarti PLN tak bisa membeli dengan harga lebih rendah dari itu, sebab Permen ini hanya mengatur harga pembelian ‘paling tinggi’, jadi PLN masih punya ruang untuk negosiasi.

Namun dalam perkembangannya, kebijakan melalui Permen ESDM No.12 Tahun 2017 itu akhirnya berbuah penolakan dari  kalangan industri dan asosiasi energi baru terbarukan. Tak kurang Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), menilai kebijakan itu hanya menunjukkan jati diri pemerintah yang sebenarnya, yang belum juga berkomitmen dalam mengembangkan energi baru dan terbarukan (EBT) di Tanah Air. Sebab, penerapan tarif maksimal 85% dari biaya pokok produksi (BPP) kontra produktif dengan pengembangan EBT itu sendiri.

Atas dasar itu Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) dan para pengusaha EBT mendesak agar Menteri ESDM Ignasius Jonan meninjau kembali Peraturan Menteri ESDM No.12 tahun 2017. Untuk kemudian meminta pemerintah mengeluarkan kebijakan tentang pedoman perhitungan harga keekonomian dari EBT yang lebih berkeadilan, yang tak sekedar menguntungkan PLN semata, melainkan juga menguntungkan dunia usaha. (red-gdm)

Energi Surya dan Pemanfaatannya dalam Kehidupan

Energi Baru Terbarukan (EBT) yang akan senantiasa ada sepanjang kehidupan manusia, salah satunya adalah energi surya (matahari).  Memanfaatkan berlakunya hukum kodrati kekekalan energi, energi surya dapat dirubah menjadi energi listrik yang kemudian bisa dimanfaatkan sesuai keperluan manusia sebagai pengguna. Baik itu untuk kebutuhan memanaskan, mendinginkan, menggerakkan, menerangi, dan sebagainya.

Pada listrik yang berasal dari cahaya matahari dinamakan photovoltaic (photo berarti cahaya, dan voltaic berarti tegangan). Dengan menggunakan bahan semi konduktor— seperti silikon yang banyak digunakan— yang paling tidak terdiri dua lapisan semi kondukstor. Satu bermuatan positif, dan satunya lagi bermuatan negatif. Tenaga matahari menghasilkan sumber energi melalui cahaya dan panasnya.

off grid

Kuatnya aliran listrik tersebut akan ditentukan oleh seberapa kuat kuat cahaya yang mengenai semi konduktor.

Namun sebenarnya pada sistem photovoltaic tak terlalu butuh cahaya matahari yang terang. Saat cuaca mendung pun masih dapat membangkitkan listrik, dengan energi keluar yang sebanding berat jenis awan.

Kalkulator tenaga matahari yang sudah lama dikenal oleh masyarakat merupakan contoh aplikasi sederhana penggunaan sistim photovoltaic. Selain itu lampu penerangan jalan (PJU) di beberapa ruas tol di Pulau Jawa dan juga penyediaan listrik di daerah-daerah di pelosok nusantara yang belum dialiri aliran pembangkit listrik, juga menggunakan sistim sistim photovoltaic ini.

Selain itu kini telah dikembangkan pula beberapa produk yang menggunakan sistim photovoltaic ini, seperti:

  • Kulkas atau pendingin digunakan untuk kepentingan kemanusiaan di daerah – daerah terpencil yang tidak dialiri listrik sebagai contoh membantu penyediaan vaksin
  • Sebagai atap rumah rumah fungsional penghasil dan penyimpan energi listrik yang menggantikan atap rumah konvensional

 

Panas yang dihasilkan itu dipakai untuk menghasilkan tekanan uap panas yang tinggi untuk menjalankan turbin penghasil listrik.

Produk-produk teknologi panas matahari terus dikembangkan. Pada teknologi pengumpul panas matahari yang diaplikasikan di atas atap rumah, selain mampu membuat ruangan di rumah menjadi hangat pada saat musim dingin, juga mampu menyediakan air panas kebutuhan rumah tangga dan menghangatkan kolam renang. Bisa juga untuk membantu kebutuhan proses pemanasan dalam sebuah industri dan memproses air menjadi tawar.

Selain itu sumber panas matahari dapat digunakan untuk menghasilkan dingin dan untuk mengurangi kelembaban udara dengan cara yang sama seperti kulkas atau air conditioner konvensional. Penggunaan dalam skala massif pendingin tenaga matahari oleh penduduk di dunia akan berlangsung di masa depan, seiring dengan suksesnya produk ini didemontrasikan dan tentunya seiring dengan akan terus efisiennya biaya produksi teknologi ini. (red-gdm)

Satu Jam Cahaya Matahari Mampu Memberikan Energi Selama Satu Tahun

Di dalam sistim tata surya kita, matahari merupakan benda angkasa terbesar, dengan massa sebesar 99,9 % dari keseluruhan massa tata surya. Sebagai salah satu bintang, dari jutaan bintang yang berserak di semesta raya, sejarah matahari adalah sejarah nan superpurba, seiring superioritas  kedigjayaannya sebagai bola raksasa superpanas membara yang menjadi sumber cahaya dan sumber energi benda-benda langit lain, tak terkecuali bumi.

Menurut para pakar, matahari yang berdiameter telah bersinar sejak 4,6 milyar tahun yang lalu. Dan diperkirakan akan terus bersinar hingga 5 milyar tahun ke depan. Planet-planet yang ada dalam tata surya kita telah mengorbit mengelilingi matahari dalam lintasan elips yang konsisten sejak nun teramat sangat jauh di masa-masa di belakang sana.

Sebagai sejenis bintang yang memiliki cahaya sendiri dan merupakan ciptaan sekaligus bukti kemahabesaran Tuhan Yang Maha Kuasa, sesungguhnya matahari dalam waktu sekitar satu jam saja mampu mengirimkan energi yang sangat besar ke seluruh permukaan bumi, yang dari situ sebenarnya sanggup mencukupi kebutuhan energi bagi seluruh umat manusia dalam waktu satu tahun. Ya,  bola api super raksasa berdiameter 1,39 juta kilometer atau 109 kali diameter bumi itu dalam satu jamnya mampu mencukupi kebutuhan umat manusia untuk satu tahun!

Tiap detiknya di dalam inti matahari berlangsung reaksi fusi sebanyak 564 juta ton hidrogen menjadi 560 juta ton helium. Selisih yang terjadi sekitar 4,3 juta ton per detik memberikan energi total sebesar sekitar 3,7 x 1026 W yang dilepas oleh inti matahari ke permukaan dan diteruskan ke ruang angkasa dalam bentuk sinar. Sinar itu terpancar ke perbagai arah termasuk yang menuju ke permukaan bumi.

Satu Jam Cahaya Matahari Mampu Memberikan Energi  Selama Satu Tahun

Tinggal persoalannya, belum semua energi yang dipancarkan cahaya matahari ke permulaan bumi itu kemudian bisa diserap secara maksimal oleh teknologi yang telah dimiliki manusia saat ini. Terutama pada energi sinar matahari yang jatuh di permukaan air laut yang  luasnya mencapai 70 % permukaan bumi. Rangsangan ke arah penyempurnaan teknologi pun harus senantiasa digenjot sehingga bisa lebih memanfaatkan energi matahari secara jauh lebih efisien lagi pada tingkat keekonomiannya.

Sebab ketika bisa lebih banyak rangsangan dan dukungan ke arah optimalisasi sumber daya yang dimiliki oleh negara-negara yang ada, dalam rangka mengembangkan teknologi yang sanggup menyerap sebagian besar energi yang dipancarkan sinar matahari itu, tentu akan dapat dihasilkan cadangan energi yang mampu digunakan setiap saat bagi kepentingan kesejahteraan manusia.

SATU JAM CAHAYA MATAHARI MAMPU MEMBERIKAN ENERGI  SELAMA SATU TAHUN
Sumber Energy yang ada

Berdasarkan Survey of Energy Resources 2014 diperoleh data mengenai jumlah energi matahari yang tersedia dalam satuan energi EJ yang artinya Exa Joule. Exa sama dengan 1.000.000 triliun. Jika kita bandingkan dengan kebutuhan energi dunia saat ini, 425 EJ/year, maka energi matahari sangat lebih dari mencukupi lantaran matahari memancarkan energi sebesar 2.895.000 EJ per tahun. Walaupun kebutuhan energi dunia memang terus saja bertambah setiap waktu, namun jumlah pertambahan kebutuhan itu masih relatif kecil dibandingkan besaran ketersediaan energi matahari.

Satu Jam Cahaya Matahari Mampu Memberikan Energi Selama Satu Tahun

Pada Tabel 1 menunjukkan kepada kita sebuah berlimpahnya energi terbarukan, khususnya energi matahari, yang disediakan Tuhan Yang Maha Pencipta agar bisa lebih dimanfaatkan dan didayagunakan sebesar-besarnya bagi kepentingan seluruh umat manusia.

Apalagi bagi negara seperti Indonesia, yang diuntungkan dari segi geografis, dimana sepanjang tahun matahari bersinar secara penuh. Kondisi ini harus mampu dimanfaatkan sebaik-baiknya, seiring untuk benar-benar terus menciutkan ketergantungan yang tinggi pada energi non terbarukan.

Terkait hal itu, selama ini persoalan yang menonjol pada pemerintah Indonesia bukanlah terletak bisa tidaknya kita menuju ke arah pengutamaan penggunaan energi terbarukan, khususnya matahari. Namun terletak pada political will yang benar-benar konkrit dalam rangka mendorong segenap tahapan strategis ke arah pengarusutamaan penggunaan energi terbarukan, termasuk energi matahari.[] (red-gdm)

 

Kajian Investasi Pabrikasi Sel Surya di Indonesia

Keekonomian pabrikasi sel surya di Indonesia dilakukan dengan memperhitungkan faktor ketersediaan pasokan wafer silikon sebagai bahan baku utama, kapasitas produksi optimum, potensi pasar, faktor biaya, serta dampak dan manfaat yang dapat dihasilkan dari proyek pembangunan pabrik sel surya.

Contoh skema insentif untuk membangun pasar dalam negeri Kajian Investasi Pabrikasi Sel Surya di Indonesia :

1. Subsidi

Subsidi dapat diberikan langsung kepada produsen sel surya atau pembuat perangkat pendukung Balance of System (BOS) agar harga sel surya beserta BOS dapat terjangkau oleh masyarakat.

Penerapan subsidi akan lebih efektif jika di Indonesia terdapat industri sel surya, baik pembuatan, perakitan, maupun industri BOS.
Untuk rural electrification, pemerintah dapat memberikan subsidi bagi daerah atau desa yang menerima bantuan sel surya dengan hanya membebani masyarakat pedesaan dengan tariff listrik yang jauh di bawah normal (jangan gratis)

2. Feed-in tariff

Feed-in tariff ialah harga yang dibayarkan oleh perusahaan listrik negara ketika membeli listrik dari pembangkit listrik jenis energi terbarukan dengan harga yang ditetapkan oleh pemerintah setempat. Feed-in tariff ini merupakan insentif lain yang bertujuan untuk meningkatkan pemakaian listrik yang bersumber dari energi terbarukan, salah satunya sel surya.

Adanya infrastruktur yang memungkinkan masyarakat pengguna sel surya untuk menjualnya ke perusahaan listrik semisal PLN. Rumah dengan konsep BIPV diberikan koneksi ke jaringan listrik setempat, bukan untuk mengambil listrik dari PLN melainkan untuk mengalirkan (atau “menjual”) listriknya ke PLN.

3. Pemberian kredit

Program kredit sel surya disertai dengan program feed-in tariff, sehingga waktu pelunasan kredit terbantukan dengan adanya pemasukan dari penjualan listrik dari rumah ke perusaaan listrik.
Metode analisa biaya

Cara yang dilakukan untuk menilai kelayakan finansial pembangunan pabrik sel surya dilakukan dengan menggunakan metode “ discount cash flow “ secara konvensional, yaitu dengan penentuan Internal Rate of Return (IRR), Net Present Value (NPV), dan Payback Period.

Pabrikasi Sel Surya di Indonesia

Asumsi dan kondisi dasar perhitungan

Asumsi dan kondisi dasar perhitungan menyangkut faktor kapasitas produksi, biaya investasi awal, kebutuhan bahan pembantu, kebutuhan tenaga listrik, kebutuhan tenaga kerja, kebutuhan perbaikan dan perawatan mesin, harga pokok produksi (HPP), dan proyeksi penjualan.

Hasil perhitungan dan analisa biaya

Dari hasil perhitungan biaya diketahui bahwa untuk membangun pabrik sel surya polikristal silikon dengan kapasitas 25 MWp/tahun membutuhkan investasi sebesar Rp.670 miliar.

Perhitungan Profitabilitas Proyek (dalam rupiah)

Hasil analisis biaya dengan semua asumsi yang berlaku menunjukkan: IRR = 17,18%, NPV = 63,037,225,027, Payback Period = 7 tahun. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa investasi pembangunan pabrik sel surya secara finansial layak dengan mempertimbangkan bahwa berbagai asumsi dan kondisi sewaktu studi ini disusun tidak berubah.

Dengan kapasitas produksi sel surya sebesar 25 MWp/tahun, industri sel surya akan dapat memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri (dengan asumsi penguasaan pasar adalah 50%). Untuk kapasitas produksi ini dibutuhkan pasokan bahan baku (wafer polikristal silikon) minimal 12,016,342 lembar/tahun.

Pembangunan Listrik Perdesaan Dengan Listrik Surya

Panel Surya

Pembangunan Listrik Perdesaan dengan listrik surya cukup menyumbangkan kontribusi untuk meningkatkan rasio elektrifikasi di Indonesia yang pada tahun 2012 secara nasional sebesar 76,56% dan target pada tahun 2013 sekitar 79,3% namun sampai akhir bulan Desember 2013 rasio elektrifikasi sudah melampaui target sebesar 80,51%.

Sudah merupakan kewajiban pemerintah untuk melistriki seluruh wilayah nusantara tanpa terkecuali dan program listrik pedesaan merupakan salah satu usaha pemerintah untuk itu. Rasio elektrifikasi saat ini baru mencapai 80,54%, tahun 2020 pemerintah mentargetkan seluruh wilayah Indonesia akan terlistriki.

Pembangunan Listrik Perdesaan
Sumber gambar: Solo Pos

Program Listrik Pedesaan merupakan penggerak ekonomi pedesaan, sektor ESDM melaksanakan pembangunan listrik pedesaan (lisdes) melalui pembangunan Pembangkit Listrik Mikro Hidro (PLTMH), Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), Gardu Distribusi (GD), Jaringan Tegangan Menengah (JTM) serta Jaringan Tegangan Rendah (JTR). Kementerian ESDM tahun ini mengalokasikan anggaran dari APBN sebesar Rp 2,3 Trilyun Rupiah.

Matahari Untuk PLTS di Indonesia

Matahari Untuk PLTS di Indonesia

Matahari Untuk PLTS di Indonesia – Pemanfaatan energi matahari sebagai sumber energi alternatif untuk mengatasi krisis energi, khususnya minyak bumi, yang terjadi sejak tahun 1970-an mendapat perhatian yang cukup besar dari banyak negara di dunia. Di samping jumlahnya yang tidak terbatas, pemanfaatannya juga tidak menimbulkan polusi yang dapat merusak lingkungan. Cahaya atau sinar matahari dapat dikonversi menjadi listrik dengan menggunakan teknologi sel surya atau fotovoltaik.

Sistem pembangkit listrik tenaga surya (PLTS)

Komponen utama sistem pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan menggunakan teknologi fotovoltaik adalah sel surya. Saat ini terdapat banyak teknologi pembuatan sel surya. Sel surya konvensional yang sudah komersil saat ini menggunakan teknologi wafer silikon kristalin yang proses produksinya cukup kompleks dan mahal.

Secara umum, pembuatan sel surya konvensional diawali dengan proses pemurnian silika untuk menghasilkan silika solar grade (ingot), dilanjutkan dengan pemotongan silika menjadi wafer silika. Selanjutnya wafer silika diproses menjadi sel surya, kemudian sel-sel surya disusun membentuk modul surya. Tahap terakhir adalah mengintegrasi modul surya dengan BOS (Balance of System) menjadi sistem PLTS. BOS adalah komponen pendukung yang digunakan dalam sistem PLTS seperti inverter, batere, sistem kontrol, dan lain-lain.

Matahari Untuk PLTS di Indonesia

Saat ini pengembangan PLTS di Indonesia telah mempunyai basis yang cukup kuat dari aspek kebijakan. Namun pada tahap implementasi, potensi yang ada belum dimanfaatkan secara optimal. Secara teknologi, industri photovoltaic (PV) di Indonesia baru mampu melakukan pada tahap hilir, yaitu memproduksi modul surya dan mengintegrasikannya menjadi PLTS, sementara sel suryanya masih impor.

Padahal sel surya adalah komponen utama dan yang paling mahal dalam sistem PLTS. Harga yang masih tinggi menjadi isu penting dalam perkembangan industri sel surya. Berbagai teknologi pembuatan sel surya terus diteliti dan dikembangkan dalam rangka upaya penurunan harga produksi sel surya agar mampu bersaing dengan sumber energi lain.

Matahari Untuk PLTS di Indonesia

Mengingat ratio elektrifikasi di Indonesia baru mencapai 55-60 % dan hampir seluruh daerah yang belum dialiri listrik adalah daerah pedesaan yang jauh dari pusat pembangkit listrik, maka PLTS yang dapat dibangun hampir di semua lokasi merupakan alternatif sangat tepat untuk dikembangkan.

Dalam kurun waktu tahun 2005-2025, pemerintah telah merencanakan menyediakan 1 juta Solar Home System berkapasitas 50 Wp untuk masyarakat berpendapatan rendah serta 346,5 MWp PLTS hibrid untuk daerah terpencil. Hingga tahun 2025 pemerintah merencanakan akan ada sekitar 0,87 GW kapasitas PLTS terpasang.

Dengan asumsi penguasaan pasar hingga 50%, pasar energi surya di Indonesia sudah cukup besar untuk menyerap keluaran dari suatu pabrik sel surya berkapasitas hingga 25 MWp per tahun. Hal ini tentu merupakan peluang besar bagi industri lokal untuk mengembangkan bisnisnya ke pabrikasi sel surya.

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA (PLTS)

Sejarah pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) tidak terlepas dari penemuan teknologi sel surya berbasis silikon pada tahun 1941. Ketika itu Russell Ohl dari Bell Laboratory mengamati silikon polikristalin akan membentuk buit in junction, karena adanya efek segregasi pengotor yang terdapat pada leburan silikon.

Jika berkas foton mengenai salah satu sisi junction, maka akan terbentuk beda potensial di antara junction, dimana elektron dapat mengalir bebas. Sejak itu penelitian untuk meningkatkan efisiensi konversi energi foton menjadi energi listrik semakin intensif dilakukan. Berbagai tipe sel surya dengan beraneka bahan dan konfigurasi geometri pun berhasil dibuat.

 Prinsip Kerja Sel Surya pada pembangkit listrik tenaga surya

Sel surya adalah dioda semikonduktor yang dapat mengubah cahaya menjadi listrik dan merupakan komponen utama dalam sistem PLTS.

pembangkit listrik tenaga surya

Selain terdiri atas modul-modul sel surya, komponen lain dalam sistem PLTS adalah Balance of System (BOS) berupa inverter dan kontroller. PLTS sering dilengkapi dengan batere sebagai penyimpan daya, sehingga PLTS dapat tetap memasok daya listrik ketika tidak ada cahaya matahari.

Pembangkitan energi listrik pada sel surya terjadi berdasarkan efek fotolistrik, atau disebut juga efek fotovoltaik, yaitu efek yang terjadi akibat foton dengan panjang gelombang tertentu yang jika energinya lebih besar daripada energi ambang semikonduktor, maka akan diserap oleh elektron sehingga elektron berpindah dari pita valensi (N) menuju pita konduksi (P) dan meninggalkan hole pada pita valensi, selanjutnya dua buah muatan, yaitu pasangan elektron-hole, dibangkitkan. Aliran elektron-hole yang terjadi apabila dihubungkan ke beban listrik melalui penghantar akan menghasilkan arus listrik.

Tipe Sel Surya pada pembangkit listrik tenaga surya

Ditinjau dari konsep struktur kristal bahannya, terdapat tiga tipe utama sel surya, yaitu sel surya berbahan dasar monokristalin, poli (multi) kristalin, dan amorf. Ketiga tipe ini telah dikembangkan dengan berbagai macam variasi bahan, misalnya silikon, CIGS, dan CdTe.

Berdasakan kronologis perkembangannya, sel surya dibedakan menjadi sel surya generasi pertama, kedua, dan ketiga. Generasi pertama dicirikan dengan pemanfaatan wafer silikon sebagai struktur dasar sel surya; generasi kedua memanfaatkan teknologi deposisi bahan untuk menghasilkan lapisan tipis (thin film) yang dapat berperilaku sebagai sel surya; dan generasi ketiga dicirikan oleh pemanfaatan teknologi bandgap engineering untuk menghasilkan sel surya berefisiensi tinggi dengan konsep tandem atau multiple stackes.

Kebanyakan sel surya yang diproduksi adalah sel surya generasi pertama, yakni sekitar 90% (2008). Di masa depan, generasi kedua akan makin populer, dan kelak akan mendapatkan pangsa pasar yang makin besar. European Photovoltaic Industry Association (EPIA) memperkirakan pangsa pasar thin film akan mencapai 20% pada tahun 2010. Sel surya generasi ketiga hingga saat ini masih dalam tahap riset dan pengembangan, belum mampu bersaing dalam skala komersial.

Jejak pembangkit listrik tenaga surya di Indonesia

Jejak pembangkit listrik tenaga surya di Indonesia. Agustus lalu, saya dan beberapa jurnalis dari Indonesia dan Malaysia diundang ke Provinsi Xinjiang, Tiongkok. Sepanjang perjalanan dari satu tempat tujuan ke tujuan lain, dari tujuan peliputan bisnis dan ekonomi sampai tujuan wisata, ada satu hal yang menarik perhatian: Tiongkok giat mengembangkan energi listrik terbarukan melalui turbin angin dan panel surya.

Di Xinjiang, provinsi yang didominasi gurun pasir, sinar matahari melimpah sepanjang tahun. Rumah penduduk yang terletak menyebar di padang pasir, dilengkapi dengan lembaran panel penangkap sinar matahari atau solar home system (SHS) yang bisa memenuhi kebutuhan listrik sebuah keluarga.

Pemerintah Tiongkok tahun ini membangun pembangkit listrik tenaga surya terbesar di dunia, dengan kemampuan menghasilkan 200 Mega Watt peak (MWp). Secara cepat, Tiongkok mengejar posisi Jerman sebagai produsen listrik tenaga surya terbesar di dunia. Dua pertiga dari panel surya dunia diproduksi di negeri Tirai Bambu itu.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Rida Mulyana, mengatakan potensi PLTS di Indonesia sangat besar. “Teman-teman di Badan Penelitian dan Pengembangan ESDM pernah menghitung, katanya 560 Gigawattp,” kata Rida, ketika saya kontak senin siang, 28 Desember. Dia baru saja pulang dari Kupang, menghadiri peresmian PLTS di Desa Oelpuah, Kabupaten Kupang.

Jejak pembangkit listrik tenaga surya di Indonesia

Tahun 2014, total produksi listrik tenaga surya dengan sistem photovoltaic (PV) yang menggunakan panel pengangkat sinar surya untuk dikonversi secara langsung menjadi tenaga listrik menjadi 178 GWp. Ada penambahan 40 GWp dalam satu tahun saja. Kontribusi energi listrik tenaga surya sekitar 1 persen dari total bauran energi listrik dunia.

Jejak pembangkit listrik tenaga surya di Indonesia

PLTS yang dibangun oleh PT LEN Industri sebagai Independent Power Producer (IPP) di Kabupaten Kupang berkapasitas 5 MWp. Proyek yang berdiri di atas tanah seluas tujuh hektare itu menelan investasi 11,2 juta dolar AS. Menteri ESDM Sudirman Said mengatakan, meski hanya 5 MWp, bagi Kupang pasokan dari PLTS ini merupakan tambahan yang cukup signifikan.

“Daya efektif listrik di Kupang adalah 68 MW,yang sebenarnya sudah memasuki situasi krisis karena reserve margin-nya sangat minimal,” kata Sudirman sebagaimana ditulis dalam siaran persnya.
Saat ini juga masih terdapat antrian yang pemasangan listrik hingga 64 MW. Kawasan industri terpadu Kupang juga sebenarnya sudah siap. Hanya saja terkendala pasokan listrik.

Sistem PLTS Grid-Connected yang digunakan pada PLTS ini memungkinkan pembangkit tenaga surya ini bekerja secara paralel dan terhubung langsung dengan jaringan listrik utama sehingga tidak menggunakan sistem baterai karena listrik yang dihasilkan langsung dialirkan ke jaringan listrik eksisting pada siang hari. “Karena sistem on-grid, maka listrik langsung bercampur dengan pasokan dari PLN. Tergantung kebutuhan. Rata-rata untuk rumah tangga sekitar 150 watt sehari kebutuhannya,” ujar Rida.

Jejak pembangkit listrik tenaga surya di Indonesia

Mengingat potensinya, maka Indonesia tergolong terlambat masuk ke pengembangan PLTS. Padahal, Indonesia berada di garis khatulistiwa dengan sinar surya berlimpah. Selama ini, pengembangan listrik tenaga surya dilakukan dengan skala rumah tangga menggunakan SHS. Yang memiliki skala besar terpusat, tersebar letaknya, kebanyakan di kawasan timur Indonesia.

“Pembangunan listrik dengan menggunakan BBM saat ini sudah mahal sekali, yaitu 40 sen / KWh. Saya sudah perintahkan agar PLN jangan lagi membangkitkan listrik dengan menggunakan BBM. Kita beralih ke energi baru dan terbarukan,” kata Jero saat itu.

Sumber : –Rappler.com ( Uni Lubis )

 

Biaya pemasangan panel surya sebagai pembangkit listrik kian terjangkau

Peluang Investasi Listrik Tenaga Surya US$ 57,5 M

Biaya pemasangan panel surya sebagai pembangkit listrik kian terjangkau – Tren gaya hidup ramah lingkungan kini tidak hanya di adaptasi oleh para pemerhati lingkungan. Masyarakat umum kini mulai terbuka untuk meminimalisir dampak dari pemanasan global.

Hal ini mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di dalam rumah. Salah satu yang menarik untuk disorot adalah pemasangan panel surya untuk tenaga listrik menggantikan tenaga batu bara (PLN).

Sebagai negara tropis yang kaya akan cahaya matahari, Indonesia mestinya bisa memanfaatkan energi alam yang satu ini. Anda memang perlu hitung-hitungan yang rinci apakah tenaga surya panel ini bisa lebih irit dibanding menggunakan listrik PLN.

Biaya pemasangan panel surya sebagai pembangkit listrik kian terjangkau

Biaya pemasangan panel surya sebagai pembangkit listrik kian terjangkau

Namun melihat biaya pengembangan energi sinar matahari yang lebih murah dan manfaat investasi energi di masa depan, mengapa tidak mulai mencobanya?

Saat ini, pemasangan surya panel terbilang irit karena tidak membutuhkan lahan yang terlalu luas untuk memproduksi listrik. Umumnya, satu rumah dapat menyerap asupan energi panas matahari dengan panel surya berukutan kurang dari 10 meter persegi.

Panel tersebut diinstal pada atap rumah yang kemudian disimpan dalam aki. Nantinya tenaga yang tersimpan di aki ini akan digunakan untuk menyalakan alat elektronik seperti lampu dan lain sebagainya. Saat ini juga ada solar cell roof top berukuran 1 meter persegi yang dapat menghasilkan listrik sekitar 100 Watt setiap hari‎. Harganya dibanderol mulai dari Rp 2 juta.

Seiring perkembangan teknologi, biaya pemasangan panel surya sebagai pembangkit listrik kian terjangkau. Beberapa perusahaan penyedia panel surya bahkan ada yang menawarkan promo biaya pemasangan panel surya secara gratis, seperti yang disediakan Global Energy.

Tidak ada lokasi khusus untuk syarat pemasangan panel surya. Yang penting atap rumah tidak tertutup oleh pohon dan cukup gedung tinggi. Karena itu akan berpengaruh kepada penyerapan cahaya matahari.

Diharapkan, panel surya bisa menjadi solusi hemat energi bagi rumah-rumah di Indonesia, termasuk rumah murah, agar pengeluaran penghuninya untuk energi listrik bisa semakin ditekan.